Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Richard Yang Terkejut


Setelah makan malam pesta pernikahan selesai, Leo membiarkan para sopir mengantar Richard dan Kelly kembali ke rumah, lalu pergi bersama dirinya.


Namun, Richard malah ingin pergi bersama Leo. Katanya, dia ingin minum bersama Leo dan berterima kasih padanya. Sesuai yang dikatakannya, jika bukan karena Leo yang telah membantunya menyiapkan tim mobil Rolls-royce dan Pagani Huayra, Richard pasti akan dihina oleh kerabat-kerabat Kelly.


Lalu, Leo pun membawa tim mobilnya sendiri kembali ke Komplek Taman Indah. Melihat tim mobil yang terus mengikutinya, Richard sedikit bingung.


“Leo, kamu tidak perlu mengembalikan mobil-mobil ini ke perusahaanmu?”


Mendengar ini, Leo hanya tersenyum. Sebelum Richard bertanya lagi, beberapa sopir yang di sana pun berjalan mendekat dan berkata kepada Leo: “Bos, ini kunci mobil Anda.”


Setelah mengambil kembali semua kunci mobil, Leo pun sekalian mengunci mobil Pagani Huayra. Lalu, dia berangguk kepada beberapa orang itu dan berkata kepada Richard.


“Ayo, naik ke atas.”


Mendengar omongannya, Richard hampir kehilangan akal sehatnya. Lagi pula, informasi yang diterimanya sungguh terlalu banyak!


Kalau berdasarkan omongan mereka, berarti mobil-mobil ini adalah milik Leo!


“Leo, mobil ini...”


“Aku sudah pernah memberitahumu. Kamu sendiri yang tidak percaya, jadi apa yang bisa kulakukan lagi.”


Di dalam lift, Leo hanya berdiri dan tersenyum.


Setelah lift terbuka, Leo pun masuk ke rumahnya. Melihat rumah yang ada di depan matanya, Richard tertegun dalam seketika!


Mewah!


Ini terlalu mewah!


“Glug.”


Setelah menelan seteguk air liur, Richard memandang Leo dengan pandangan kosong.


Leo, teman sekelasnya, teman baiknya, sekaya apa dia sebenarnya?


Leo tahu jelas apa yang ingin ditanyakan Richard, tapi dia hanya melambaikan tangannya dan berkata.


“Sudah, pertanyaan ini tidak perlu ditanyakan lagi. Kamu tanya pun, aku sulit menjelaskannya padamu dalam beberapa kalimat. Intinya kamu cukup tahu, aku ini masih temanmu. Tim mobil yang kupinjamkan padamu hari ini, anggap saja itu hadiah kecil dariku.”


Mendengar omongannya, Richard tidak bisa menahan diri untuk tersenyum pahit.


“Leo, hadiahmu itu benar-benar terlalu mahal!”


“Haih! Teman selama itu, hadiah itu bisa dibilang mahal? Tapi, bagaimana dengan pekerjaanmu sekarang? Seingatku, yang kamu pelajari itu pemrograman, ‘kan?”


Mendengar pertanyaan Leo, Richard tiba-tiba tersenyum tak berdaya dan berkata.


“Masih bisa bagaimana? Berusaha hidup saja. Haih! Kini kamu sudah baik, jauh lebih baik dari hidupku. Tidak perlu memusingkan masalah beli rumah, beli mobil, atau lainnya.”


Dalam mata Richard bisa terlihat sedikit rasa iri. Namun, Leo yang melihat ini hanya tersenyum dan tidak berkata apa-apa.


“Sudah, kita jangan bicarakan ini lagi, ya? Ayo, minum sedikit?”


Leo mengeluarkan dua kaleng bir dari lemari es dan berkata kepada Richard yang berdiri di sana.


“Oke, minum.”


Awalnya Richard masih sangat kaku, tapi setelah meminum sekaleng bir, dia pun menjadi lebih santai dan sepertinya memiliki sesuatu yang ingin diceritakan kepada Leo.


Jadi, Leo mengeluarkan 2 kaleng bir lagi dari kulkasnya dan berkata:


“Kamu tidak takut Kelly memarahimu setelah kembali nanti?”


“Tidak apa-apa. Biarkan saja dia marah. Ada beberapa hal yang sudah lama kupendam di dalam hati.”


Setelah berpikir sejenak, Leo mengambil inisiatif untuk bertanya: “Apa yang terjadi padamu? Katakanlah.”