Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Bertemu di Mal


Mendengar omongan suami sendiri, Kelly Yvonne yang berada di ujung telepon pun bertanya dengan ragu.


“12 juta?”


“Hehe, coba tebak lagi.”


“10 juta?”


“Salah, hanya 6 juta per mobil!”


Begitu selesai berbicara, Kelly yang di ujung telepon hampir berhenti bernapas.


“Gila! Richard, kamu tidak tertipu, ‘kan? Harga ini terlalu rendah!”


Saat ini, Kelly merasa sangat terkejut. Lagi pula, harga ini sungguh terlalu rendah! Rendah sampai orang tidak berani percaya!


Sewa Rolls-Royce dengan harga 6 juta?


“Tenang, ini harga internal yang diberikan temanku. Temanku tidak akan menipuku!”


“Ini...”


Kelly sedikit curiga, tapi dalam hatinya juga berharap itu sungguhan. Kalau sungguh seperti itu, maka tim mobil pengantinnya pasti akan lebih mewah daripada pernikahan kakak sepupunya.


Memikirkan ini, Kelly sudah mulai menantikan adegan pernikahannya. Dia ingin melihat ekspresi kaget kakak sepupunya dan teman-teman dekatnya.


Lalu, dia berkata.


“Baiklah.”


“Ya.”


Setelah menutup telepon, Richard juga berkata kepada Leo dengan semangat.


“Leo, terima kasih, ya. Benar-benar berkat kamu kali ini! Masalah 9 mobil itu, tolong, ya!”


Mendengar kata-kata ini, Leo tersenyum tipis dan berkata.


“Jangan khawatir, aku pasti akan membantumu mengurusnya dengan baik. Aku akan menepati apa yang sudah kukatakan!”


“Hehe, kalau begitu, tolong, ya.”


Tak lama kemudian, setelah mereka selesai makan, Leo menelepon Zella. Leo menyuruhnya untuk mencari beberapa supir.


Setelah itu, dirinya juga harus mencari setelan jas formal. Dia berencana untuk menjadi supir mobil pengantin Richard pada lusa nanti. Bagaimanapun, itu adalah momen terpenting dalam hidup temannya.


Leo mengendarai Ghost-nya kembali ke rumah untuk mengecas ponselnya dulu karena dia lupa cas. Jadi, sekarang baterai ponselnya bahkan tidak sampai 30%. Selain itu, dia juga tidak memiliki kebiasaan untuk membawa uang tunai. Jika ini bukan ditraktir Richard, dia sama sekali tidak bisa membayarnya.


Setelah meninggalkan ponselnya yang sedang dicas di atas meja, Leo sekalian mengambil jam tangan itu, lalu memakainya di pergelangan tangan dan mulai menilainya. Meskipun pertama kali melihat jam tangan ini, Leo merasa sangat jelek, tapi setelah lama dilihat, dirinya pun terbiasa.


Satu-satu kekurangannya adalah tidak bisa melihat waktu!


Ini juga hal yang paling diherankan Leo. Jam tangan yang tidak bisa digunakan untuk melihat waktu, lebih baik tidak usah dipakai.


Setelah memakainya, Leo pun malas melepaskannya. Sebenarnya, jam tangan pria Richard Mille RM056 ini, meskipun Leo telah lama mendapatkannya dengan check in, tapi dirinya belum sering memakainya. Ini jelas-jelas adalah jam tangan seharga 40-an miliar, tapi malah dibiarkannya di atas meja dan dipenuhi debu.


Setelah baterai ponselnya penuh, Leo berangkat ke mal terdekat. Saat mencari pakaian di mal ini, Leo juga kebetulan bertemu dengan Lili Louis yang sedang beristirahat.


“Tuan Muda Leo? Kebetulan sekali. Kamu juga datang belanja?”


Lili tersenyum dan berkata kepada Leo.


Leo yang di sana mengangguk.


“Ya, lusa ada teman yang mau menikah. Aku datang untuk membeli setelan jas. Bagaimana kalau kamu bantu memberiku sedikit saran?”


Wajah Lili memerah setelah mendengar kata-kata ini.


Mengajak wanita untuk berbelanja pakaian bersama. Bukankah ini hal yang hanya akan dilakukan bersama pacar? Tuan Muda Leo mengajak dirinya. Mungkinkah dia mau?


Tiba-tiba, wajah Lili menjadi semakin merah.


Melihat Lili yang tidak menjawabnya, Leo yang di samping segera berkata: “Kalau kamu ada urusan lain, tidak apa-apa. Aku pergi sendiri dulu.”


Sambil berkata, Leo pun berencana untuk pergi membelinya sendiri.


Lalu, Lili tiba-tiba menarik kembali pikirannya dan buru-buru berkata.


“Eh? Bukan, Tuan Muda Leo, aku tidak ada urusan lain. Aku hanya terkejut kamu bisa mengajakku. Aku sangat senang bisa berbelanja denganmu.”


Lalu, mereka berdua berjalan ke dalam mal bersama.