
“Hei! Kamu cari mati, ya?”
Sementara, orang yang di sekitarnya pun mulai memperhatikan mata pandanya Theo. Bagaimanapun, kondisi mata pandanya Theo benar-benar sangat berat.
Theo tampak sangat marah dan berkata pada satpam gedung.
“Satpam! orang ini datang membuat keributan. Kalau dia berani menerobos masuk, langsung usir keluar!”
Kedua satpam itu langsung menatapi Leo dengan tegas. Melihat ini, Leo hanya bisa menghela nafas dan mengeluarkan ponselnya untuk menelepon Westen.
“Pak Leo, apa Anda sudah sampai?”
Begitu terhubung, langsung terdengar suara Westen yang penuh rasa hormat.
“Iya, aku sudah sampai, tapi ada yang berkata kepada satpam. Kalau aku berani masuk, langsung usir aku keluar.”
Leo mengatakannya dengan tenang.
Setelah mendengarnya, Westen sangat terkejut. Seluruh badannya ikut menjadi tegang! Dia tidak bisa menebak siapa yang seberani itu dan berkata kalau Leo berani masuk, langsung usir keluar!
Dalam sekejap, Westen menyadari keseriusan masalah ini. Dia buru-buru menjawabnya dengan keras.
“Pak Leo, mohon berikan saya waktu 5 menit. Tidak, semenit! Saya segera menjemput Anda ke bawah!”
“Dalam semenit aku sudah harus melihatmu!”
Setelah menutup telepon, Yenny langsung menertawakanya.
“Huh, Leo, kamu tidak capek, ya? Ini baru berapa lama kita tidak bertemu, kemampuan membualmu sudah semakin hebat saja! Beraninya kamu bilang mau melihat orang dalam semenit. Kamu kira kamu ini bos perusahaan mana?”
Leo tidak menjawab pertanyaannya dan hanya menatapinya dengan dingin.
“Huh!”
Theo juga ikut tertawa. Kemudian, dia mengeluarkan dua lembar uang kertas berwarna merah. Dia melemparkannya kepada kedua satpam dan berkata.
“Ingat! Kalau orang ini berani masuk, hajar sampai keluar!”
“Baik!”
Kemudian, mata kedua satpam benar-benar hanya mengawasi Leo. Theo melihat ke arah Leo dan berkata.
...
Di sisi lain.
Westen berlari keluar dengan panik. Begitu tiba di depan pintu lift, dia melihat seorang pria gendut paruh baya berjalan keluar. Saat melihat Westen yang panik, pria paruh baya itu pun terkejut.
“Pak Westen, kebetulan saya mau mencari bapak. Bapak buru-buru begini ke mana...”
“Oh, Pak John.”
Pria paruh baya ini adalah John Anton, direktur Teknologi Nakon.
“Ada keperluan apa bapak mencari saya?”
Westen memasuki lift dan menekan tombol angka 1 sambil bertanya kepada John.
Lalu, John mulai tersenyum dan berkata.
“Begini, Pak Westen. Mengenai biaya sewa kuartal ini, bolehkah Anda memberi saya sedikit waktu?”
Westen mengerutkan keningnya dan menjawab.
“Begini saja, Pak John. Kebetulan saya sedang mau menemui bos baru. Saya akan memperkenalkannya kepada bapak. Biaya sewa lantai kalian, bapak langsung diskusi dengan bos kami saja. Kredibilitas kalian juga lumayan bagus, harusnya bukan masalah besar!”
John terkejut! Jalan Komersial Juanda ganti bos baru? Ini berita yang sangat penting bagi para penyewa! Karena bersama dengan pergantian bos, berarti biaya sewa mereka pasti akan ikut mengalami perubahan juga.
Penyewa seperti mereka yang sekali sewa langsung satu lantai, jika biaya sewa mengalami kenaikan, beban tiap bulan juga akan ikut meningkat. Oleh karena itu, John pun jadi cemas.
Kini, kedua orang telah tiba di lantai dasar. Westen langsung bergegas keluar. Melihat ini, Theo yang berada di luar tiba-tiba menjadi gembira dan berkata.
“Huh! Kalau aku jadi kamu, aku akan segera pergi tanpa mengatakan apa pun. Manajer umum gedung ini sudah datang. Jika dia melihat tampangmu yang seperti pengemis ini, mungkin saja dia akan melaporkanmu ke kantor polisi dengan alasan telah merusak imej baik Gedung Juanda!”
Orang-orang yang di samping juga tersenyum seolah-seolah sedang menyaksikan pertunjukan seru. Namun, Leo masih saja terlihat sangat tenang.
Melihat Leo begitu tenang, Theo mulai emosi! Kini, Westen juga telah tiba di tempat kejadian. Theo langsung berteriak keras.
“Paman Westen, orang ini mantannya pacar saya. Hari ini datang untuk membuat keributan, cepat suruh satpam untuk mengusirnya keluar!”