
Mendengar kata-kata Leo, Richard yang di sana tersenyum tak berdaya dan berkata.
“Jangan diungkit lagi. Kamu tahu kini aku adalah programmer game Prime Dragon, ‘kan? Manajer kami itu, benar-benar bukan manusia! Dia setiap hari mempersulitku hanya karena aku tidak memberinya hadiah saat liburan terakhir. Jelas-jelas dalam setengah tahun terakhir ini, beban pekerjaanku adalah yang terbanyak, tapi dia malah menilai kinerjaku sebagai yang paling buruk! Dia masih bilang kualitas pekerjaanku tidak mencapai standar! Padahal beberapa bulan sebelumnya, Indikator Kinerja Utama (IKU)-ku adalah 3 yang terbaik. Namun, hanya karena kali itu aku tidak memberinya hadiah, dia langsung menilaiku sebagai karyawan terburuk?”
Mendengar ceritanya, Leo pun mengerutkan keningnya. Setelah mengambil napas yang dalam, Leo berkata.
“Manajer kalian selalu seperti ini?”
“Ya, kudengar tim pemrograman game yang sudah berhasil juga tidak bisa menahannya lagi. Mereka berencana pindah kerja bersama-sama.”
Richard berkata dengan nada suara tak berdaya.
“Oh, begitu... Apa kalian tidak pernah melaporkan masalah ini kepada pemimpin yang lebih tinggi?”
Richard yang di sana segera menjeling dan berkata.
“Jangan ditanya lagi. Manajer ini adalah kerabatnya CEO. Melaporkannya juga tidak akan ada yang urus. Lagi pula, bos kami itu juga tidak sering ke kantor, mungkin setahun pun belum bisa bertemu sekali dengannya. Oh, iya! Leo, apa kamu tertarik untuk mendirikan perusahaan game? Aku akan bekerja untukmu.”
Mendengar omongannya, sudut mulut Leo berkedut sejenak. Kalau dirinya tidak salah ingat, game Prime Dragon ini harusnya juga salah satu perusahaannya.
Lalu, Leo mengambil napas yang dalam dan berkata sambil menepuk bahu Richard.
“Sudah, kamu jangan terlalu tergesa-gesa. Mana tahu setelah beberapa hari lagi, kondisi ini akan berbalik?”
Mendengar bujukan Leo, Richard hanya menghela napas dan berangguk, lalu berkata.
“Semoga saja.”
“Ayo minum, minum!”
Leo mengangkat lagi bir yang di tangannya.
Waktu berlalu dengan cepat, sebentar saja sudah 3 jam kemudian.
Malam hari, setelah mengantar Richard pergi, Leo juga kembali ke rumahnya. Saat tiba di rumah, Leo pun sudah lebih sadar. Pada saat yang sama, dia terpikir lagi dengan pembicaraannya dengan Richard tadi.
“Kelihatannya, besok aku harus mencari waktu untuk pergi melihat ke perusahaan baruku ini...”