Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Check In dan Dapatkan Hadiah Besar Setiap Hari


Kota Purakarta.


Leo Mayor, sedang duduk dan tersenyum bahagia di sebuah restoran barat. Lalu, dia mengeluarkan sebuah ponsel baru dengan sangat hati-hati dan berkata.


“Selamat ulang tahun, Yenny!”


Yenny Tjandra yang di depannya hanya melirik ponsel yang seharga 12 juta rupiah itu dan berkata dengan tatapan merendahkan:


“Cuih! Barang murahan begini, hanya orang miskin yang mau pakai! Leo, aku beri tahu, mulai sekarang, kita putus!


Dalam sekejap, Leo membeku di tempat seolah-olah telah tersambar petir! Pikirannya kosong! Dia sama sekali tidak percaya, wanita kejam yang di depan matanya ini adalah pacarnya selama dua setengah tahun!


Sebagai anak desa, kondisi ekonomi keluarga Leo tidaklah bagus. Dia telah menabung gajinya selama tiga bulan baru sanggup membeli ponsel ini. Siapa sangka hasilnya malah dihina seperti ini!


“Yenny, kamu sedang bercanda, ‘kan?”


Leo mengatakannya dengan suara gemetar.


Yenny yang di depannya malah mencibir dan berkata:


“Bercanda? Huh! Ngaca dong, Leo! Siapa juga yang akan menyukai kamu yang miskin begitu!”


“Tidak, Yenny. Saat kuliah, kamu tidak pernah berkata begitu!”


Leo mulai menggila.


“Haha! Leo, orang itu bisa bertumbuh dewasa. Aku beri tahu, ya. Saat kuliah, kalau bukan karena kamu lumayan ganteng dan bersedia mentraktirku makan gratis sehari tiga kali, siapa juga yang mau pacaran denganmu?”


Ekspresi Yenny yang merendahkannya terlihat semakin jelas. Lalu, Yenny mengguncangkan gelang berwarna rose gold yang ada di pergelangan tangannya dan berkata.


“Tahu, tidak? Ini gelang merek Cartier, harganya 100 juta! Apa kamu sanggup beli?”


Leo hanya diam dan mengepal erat tangannya.


“Oke! Karena kamu berkata begitu, aku harap kamu tidak akan menyesal!”


Begitu selesai bicara, sebuah mobil BMW berwarna putih berhenti di depan restoran. Kemudian, seorang pria muda yang turun dari mobil itu sambil membawa sebuket bunga.


“Hehe. Cukup sampai di sini saja! Pacarku sudah datang menjemputku.”


Setelah itu, Yenny langsung berjalan ke luar dengan menggoyangkan pinggulnya ke kiri dan ke kanan.


Mengenai ini, semakin Leo memikirkannya maka ia semakin merasa konyol. Dia bahkan lebih merasakan konyol dibandingkan marah. Kenapa dulu dia bisa menyukai wanita materialistis seperti Yenny? Leo menggelengkan kepalanya dengan ekspresi tidak percaya.


Tiba-tiba, terdengar sebuah suara di dalam benaknya.


[Bip! Aktivasi sistem check in dapat hadiah besar berhasil!]


Leo yang mendengar suara itu tampak terkejut.


“Sistem?”


[Halo, Tuan, Anda telah mendapatkan sistem check in berhadiah. Anda bisa mendapatkan hadiah besar dengan check in setiap harinya.]


“Oke! Check in.”


Seusai menjawab, berbunyi lagi suatu suara elektronik.


[Selamat, Tuan. check in berhasil! Anda mendapatkan hak milik Jalan Komersial Juanda!]


Kali ini, Leo hampir menyemburkan air yang dia minum! Jalan Komersial Juanda! Itu ‘kan jalan tersibuk di seluruh kota Purakarta! Di situ, selain ada gedung perkantoran, juga ada pertokoan. Biaya sewa untuk toko saja bisa mencapai puluhan bahkan ratusan juta per bulan.


Leo sangat terkejut. Jalan itu terdapat ratusan toko dan puluhan gedung perkantoran. Bisa dibilang, hanya dengan menerima pendapatan sewa saja, Leo tidak perlu mengkhawatirkan biaya kelangsungan sisa hidupnya lagi! Leo tiba-tiba merasa tenggorokannya sangat kering.


“Semua ini bukan mimpi, ‘kan?”


[Jangan khawatir, Tuan. Semua sumber aset Anda diperoleh dari jalur yang benar dan nyata. Data Tuan juga sudah dienkripsi tingkat tinggi oleh sistem kami.]


Setelah mendengarnya, hati Leo menjadi lebih tenang. Di saat yang sama, ponsel Leo berdering.