Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Wakil Rektor Yang Terkejut


“Sial! Bisa-bisanya aku membiarkan kakak senior Leo lewat begitu saja! Proyekku, Proyek robotku!”


Saat ini ada seorang mahasiswa yang merespons dan berteriak dengan keras. Kata-katanya tampak seperti telah memicu reaksi berantai. Semua mahasiswa yang di aula gedung pun mulai meratap.


Bagaimana mungkin mereka tidak menyesal?


Ratapan suara ini juga terdengar jelas oleh Leo yang sudah berjalan ke lantai dua. Sudut mulut Leo pun terangkat dan tersenyum. Leo menatapi wakil rektor, Tedy Iskandar, lalu berkata dengan pelan.


“Tampaknya antusiasme para adik-adik junior terhadap berwirausaha sungguh sangat tinggi!”


“Haha! Nak Leo, kamu tenang saja. Kami akan menyeleksi proyek wirausaha ini dengan serius. Ada juga beberapa proyek yang memang lumayan bagus.” wakil rektor, Tedy Iskandar, yang di samping berkata dengan sangat hati-hati.


Leo tidak menjawabnya. Melihat Leo yang diam, suasana hati wakil rektor yang gembira pun suram kembali. Dia tidak tahu apa maksud Leo.


Keduanya diam sepanjang jalan dan akhirnya tiba di ruang rapat. Memasuki ruang rapat, ada banyak orang yang duduk di dalam. Namun, tiada satu pun yang Leo kenal.


Begitu melihat Leo tiba, orang-orang itu berdiri satu demi satu, lalu tersenyum dan berangguk kepada Leo. Sedangkan Leo, dia juga berangguk pelan sebagai tanda sapa kembali.


Setelah itu, semua orang duduk kembali. Selanjutnya adalah penjelasan dari perwakilan sekolah mengenai penggunaan dana yang disumbang. Bagaimana mereka menyeleksi proyek yang diajukan para mahasiswa. Setelah seleksi, bagaimana pula pembagian dana investasinya. Semua informasi sedang dirincikan satu demi satu.


Saat perwakilan sekolah sedang menjelaskan semuanya, Leo sama sekali tidak berkata apa pun. Ini sungguh membuat hati wakil rektor, Tedy Iskandar, yang muram menjadi semakin muram! Sedangkan Vion yang di samping, dia hanya sibuk mencatat detail yang dibutuhkan.


Tak lama kemudian, setelah perwakilan sekolah selesai menjelaskan segalanya, Vion yang di sebelah berdiri dan menjelaskan serangkaian urusan yang dia tangani. Melihat ini, Leo pun hanya diam saja. Terakhir adalah giliran Robin yang menjelaskan kepada Leo.


Dia, Robin, mewakili Firma Hukum Warrant, akan mengawasi penyerahan dana ini. Termasuk, bagaimana kampus mengatur, menggunakan, dan menjamin kelengkapan dana ini. Bagaimana pula kampus menyalurkan dana ini ke dalam proyek tanpa kekurangan sepeser pun.


Saat Robin selesai menjelaskan, semua orang melihat ke arah Leo dan menunggu Leo menyatakan pendapatnya. Sedangkan Robin, dia telah meletakkan kontrak yang perlu ditandatangani Leo di depannya.


Leo mengambil pena, namun saat hendak bertanda tangan, dia berhenti sebentar.


Pada saat ini juga, Leo meletakkan penanya. Dia melihat semuanya dengan senyuman jahil. Lalu, dia berkata dengan pelan.


“Oh, iya. Sebelum menandatangani perjanjian ini, ada satu hal yang perlu kuberitahu semuanya lebih dulu. Aku percaya semua dosen dan profesor yang hadir memiliki batas moral diri sendiri dan dapat memberikan contoh yang tepat kepada para mahasiswa. Jadi, aku berharap dana ini bisa benar-benar disalurkan kepada setiap mahasiswa wirausaha yang membutuhkan dukungan dana.”


Berkata sampai di sini, Leo berhenti sebentar. Lalu, wakil rektor, Tedy Iskandar pun berangguk dengan kuat.


“Kalau ini, Alumni Leo tenang saja. Kami dari pihak kampus pasti akan mengawasi dana ini dengan ketat.”


Mendengar ini, Leo tersenyum, lalu berkata.


“Aku hanya mengingatkan semuanya. Jangan harap bisa memanfaatkan firma hukum atau menyuap pengacara mana pun untuk melakukan tindakan tidak bermoral, sebelumnya aku tidak pernah beritahu kalian. Firma Hukum Warrant ini juga firma hukum aku sendiri. Aku memegang 51% saham di sini. Artinya, akulah pemilik Firma Hukum Warrant yang sebenarnya!”


Setelah mendengar kata-kata ini, mata wakil rektor, Tedy Iskandar, dan pimpinan kampus lainnya melebar dan tampak terkejut! Lalu, mereka melihat lagi ke arah Robin dan Vion.


Harus tahu, Firma Hukum Warrant ini adalah Firma Hukum terkenal di negara ini!


Firma Hukum ini sebenarnya adalah milik Leo?


Bagaimana mereka bisa tidak terkejut oleh kabar ini?


Sedangkan Robin dan Vion, mereka pun berangguk sambil tersenyum setelah melihat semua orang melirik ke arah mereka. Ini juga sebagai tanda jawaban mereka kepada pertanyaan semua orang dan membenarkan kata-kata Leo.


Kali ini, hati semua orang bergejolak seperti ombak!


Leo juga melihat jelas ekspresi para pimpinan kampus yang awalnya berseri menjadi suram! Leo sudah memotong niat mereka untuk korupsi secara langsung. Jadi, harapan mereka terhadap dana donasi itu pun tidak besar lagi!