Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya

Metropolis: Check In Jadi Orang Terkaya
Pesta Amal


“Oke, aku sudah tahu. Bantu aku menyetujui undangan untuk menghadiri pesta amal malam ini.”


“Baik, Pak Leo.”


Zella Alfiya yang di sana berangguk, lalu pergi. Sedangkan Leo, dia berjalan memasuki kantor direktur dirinya sendiri.


Saat siang hari, dia pun bertemu dengan Richard Benard. Begitu melihat Leo, Richard langsung tampak sangat bersemangat.


“Leo, hebat sekali kamu! Ternyata kamulah bos kami? Kenapa kamu tidak memberitahuku?”


Mengenai ini, Leo hanya tersenyum tipis dan berkata.


“Haha, awalnya aku tidak berencana memberitahumu karena takut mengagetkanmu. Namun, setelah mendengar keluhan kamu tentang bos kalian tidak mengelola perusahaan, jadi aku berpikir untuk datang melihat-lihat.”


“Malahan kamu, bagaimana? Apa kamu terbiasa setelah pindah ke situ?”


Leo melirik ke arah Richard, lalu berkata.


“Terbiasa apaan, dipindah ke mana saja sama. Intinya aku tetap melakukan pengembangan teknik, ‘kan? Tapi sebenarnya, setelah pindah ke tim baru ini, aku baru sadar ternyata masih ada sangat banyak hal yang perlu kupelajari.”


Richard berkata sambil tersenyum.


Setelah mengobrol sejenak dan menyelesaikan segalanya, mereka pun berpisah.


...


Malam hari.


Pukul 07:30.


Leo mengendarai Pagani Huayra-nya ke sebuah hotel di tepi sungai.


Saat ini, tempat parkir hotel ini penuh dengan mobil mewah. Lagi pula, pesta amal malam ini memang sangat besar. Pada dasarnya, setengah keluarga konglomerat di Purakarta telah datang ke sini.


Bagaimanapun, penyelenggara pesta amal ini adalah Mal Boulevard. Mal Boulevard memiliki beberapa plaza kelas atas di seluruh kota Purakarta dan nilai pasarnya juga telah mencapai hampir 20-an triliun!


Kini, Pagani Huayra Leo yang baru memasuki lokasi pesta pun menarik banyak perhatian. Lagi pula, mobil sport Leo, jika mau dibandingkan di seluruh lokasi pesta, memang mobil sport paling top di antara semuanya!


Leo dan Zella pun turun dari mobil. Lalu, mereka berjalan memasuki hotel. Begitu masuk, keberadaan Leo segera menarik beberapa perhatian. Namun, bagaimanapun ini adalah pertama kalinya Leo menghadiri pesta semacam ini, jadi yang memperhatikannya juga tidak banyak. Mereka hanya mengira dirinya adalah tuan muda dari keluarga konglomerat mana, lalu mengabaikannya.


“Tuan Muda Leo, Anda sudah datang, ya!”


Matthew berkata kepada Leo sambil tersenyum.


“Karena kamu telah mengundangku, bagaimana bisa aku tidak datang?”


Leo tersenyum dan berkata setelah melihat Matthew.


Suasana mereka mengobrol tampak sangat santai.


“Haha! Tuan Muda Leo, kedatanganmu benar-benar suatu kehormatan bagi pesta kami. Selain itu, aku tidak menyangka, ternyata kamu ini bos teknologi Prime Dragon.”


Sebelum Matthew selesai berbicara, Leo sudah melambaikan tangannya lebih dulu.


“Jangan katakan ini sekarang. Aku tidak ingin identitasku terbongkar.”


Apa boleh buat, identitas bos game Prime Dragon ini benar-benar terlalu menonjol di dalam pesta ini! Jika identitasnya terbongkar, harusnya akan ada banyak orang yang datang menyapanya. Jika benar terjadi, Leo hanya akan merasa sangat tersiksa karena dirinya suka menyendiri.


Matthew pun berangguk sambil tersenyum.


Lalu, dia mengambil segelas jus dari pelayan di samping dan meminumnya dengan tenang. Namun, pada saat ini juga, di tempat tidak jauh dari sampingnya, ada seorang pria muda yang memakai setelan jas hitam dan memegang segelas anggur merah di tangannya. Saat melihat Zella, pandangan pemuda itu penuh dengan antusias. Tapi setelah melihat Leo yang di sampingnya, tatapannya tiba-tiba menjadi sangat dingin.


“Bunga yang tersangkut di kotoran sapi!”


Pria muda itu memaki dengan pelan, matanya pun berbinar sedikit. Lalu, dia membawa seorang pria muda yang kurus berjalan mendekat ke sini.


“Nona ini, namaku Arief Mulya. Bolehkah kamu menemaniku minum segelas anggur merah?”


Pria muda itu berkata sambil memegang segelas anggur merah di tangannya, tapi kedua matanya terus melirik ke tubuh Zella dengan tatapan sangat bergairah.


Sedangkan Leo yang di samping Zella, dia langsung mengabaikannya.


Zella merasa tidak nyaman dengan tatapan Arief Mulya ini, jadi dia berkata dengan rasa jijik di dalam hatinya.


“Maaf, aku tidak ingin minum sekarang.”