
Leo pun segera melatih semua teknik pencak silat di dalam aula seni bela diri. Sedangkan pelatih yang di samping, dia hanya terus mengamati Leo dengan panik. Tak lama kemudian, semua samsak tinju di aula seni bela diri hancur satu demi satu!
Dengan kemampuan ini, selama dirinya tidak menyentuh senjata panas, maka pada dasarnya akan sangat aman. Asalkan dirinya tidak pergi ke tempat berbahaya, kemungkinan menyentuh senjata panas juga sama dengan 0%!
“Halo, Pak, Anda lihat ini...”
Pelatih yang di sana menyeka keringat halus di dahinya dan berkata kepada Leo.
“Ah! Jangan khawatir. Hari ini sampai di sini saja dulu.”
Leo tersenyum, namun dalam hati pelatih malah merasa, ini adalah senyuman iblis!
Hari ini sampai di sini saja dulu?
Berarti, dia mau datang lagi besok?!
Apa dia berencana menghancurkan seluruh aula seni bela diri?!
Namun, bagaimanapun juga, Leo adalah pelanggannya. Walaupun dia benar-benar datang untuk menantang dirinya, maka setidaknya dirinya juga harus memiliki bukti yang kuat. Lagi pula, dia juga bersedia mengganti rugi, jadi apalagi yang bisa dirinya katakan?
Setelah mengganti rugi barang-barang yang dirusaknya, Leo hendak pergi. Namun, begitu berjalan keluar sampai di pintu, dia mendengar suara yang sangat bersemangat.
“Anak-anak terimut, orang tua-orang tua tersayang! Halo, semuanya!”
“Taekwondo adalah seni bela diri terhebat di dunia. Sejak ditemukan, kami telah menerima banyak tantangan, tapi Taekwondo kami telah menunjukkan kekuatan Taekwondo yang sebenarnya dengan semangat yang ulet.”
“Baik pencak silat dari Indonesia atau pun Kung Fu dari Tiongkok, itu semua sama sekali tidak bisa dibandingkan dengan Taekwondo.”
“Anak-anak, terima kasih telah membuat pilihan yang benar dan bergabung dengan tim Taekwondo kami. Nama saya Carel Brady, pelatih Taekwondo kalian.”
“Di sini, kalian akan mendapatkan banyak hal yang tidak pernah kalian bayangkan sebelumnya, seperti kekuatan, kehormatan, dan kemuliaan!”
Seorang pria muda yang berpakaian seragam Taekwondo berdiri di tengah ruang latihan dan berkata dengan keras.
Mendengarkan nada suaranya, membuat seolah-olah Taekwondo itu tiada tandingnya di dunia ini dan sama sekali tidak mengakui orang lain.
Ruang latihan ini berukuran sekitar 230-an m2, terdapat 2 ruang ganti di sampingnya dan jendela Perancis di sisi yang berlawanan. Pencahayaan ruangan sangat bagus. Ada juga beberapa spanduk slogan yang digantung di dinding.
Merasakan pandangan anak-anak, Carel Brady memerintah asistennya.
“Bawa papannya kemari. Hanya praktik secara langsung yang bisa membuktikan Taekwondo adalah yang terbaik. Aku mau menunjukkan kepada anak-anak imut ini apa yang disebut seni bela diri yang sebenarnya.”
Antusias anak-anak meningkat dalam seketika dan mulai berdiskusi dengan suara pelan sambil memandang ke arah Carel Brady. Bahkan orang tua yang mengantar anaknya datang pun mengeluarkan ponselnya untuk mengambil foto.
Asistennya memegang sebuah papan kayu seukuran kertas A4, lalu Carel Brady menggerakkan tubuhnya. Asistennya pun langsung berteriak pada waktu yang tepat.
“Perhatikan, ya, Anak-anak. Pelatih Carel akan menunjukkan teknik Taekwondo pada kalian. Semuanya, lihatlah! Ini adalah papan kayu asli, bukan mainan tipu muslihat.”
Kini Carel Brady telah melakukan gerakan hormat Taekwondo dan berkata.
“Anak-anak, lihatlah! Kekuatan Taekwondo itu tidak bisa ditandingi seni bela diri lain!”
Anak-anak dan orang tua itu tidak bisa menahan diri untuk menoleh ke arah papan kayu yang dipegang asistennya.
Setelah meregangkan sendi lutut, tanpa persiapan lain, Carel langsung menendang kakinya ke papan kayu yang dipegang asistennya.
“Ha!” Carel mengeluarkan teriakan yang aneh, lalu papan kayu itu terbelah. Seluruh gerakannya tampak lincah dan bersih, tanpa ragu-ragu.
Asisten segera memimpin orang-orang untuk bertepuk tangan dan berkata: “Pelatih Carel sungguh hebat!”
“Wah! Tendangan asli, loh! Apa dia tidak sakit?“
“Dia pasti sangat sakit.”
Carel berdiri di sana dengan bangga.
Leo yang mendengar kata-kata ini tiba-tiba berhenti. Tatapannya menjadi sangat dingin. Dia yang mengerti arti sebenarnya pencak silat, telah menumbuhkan rasa hormatnya terhadap pencak silat. Namun, kini malah orang negaranya sendiri yang terus menghina pencak silat. Bagaimana mungkin Leo tidak marah?
Lalu, dia melihat papan kayu itu dan berkata sambil mencibir.
“Huh! Sakit? Ini hanyalah jenis papan gabus yang paling rapuh. Memangnya bisa sakit?”
Setelah Leo berbicara, Carel yang mendengar suara Leo menoleh ke tempat Leo berdiri. Tatapan matanya pun menjadi sangat dingin.