
Leo langsung mengenali pria muda itu. Dia adalah Matthew Parviz yang pernah ditemuinya di mal sebelumnya,
Matthew juga sangat terkejut begitu melihat Leo. Setelah mengetahui apa yang telah terjadi di aula seni bela diri, Matthew memandang ke arah Carel Brady dan asistennya yang berada di lantai dengan dingin dan berkata: “Kalian, segera keluar dari sini! Aku membuka aula seni bela diri ini bukan untuk kalian mengagungkan Taekwondo!”
Begitu mendengar ucapan Matthew, Carel yang memegangi kakinya dan berteriak kesakitan langsung lepas kendali dan pingsan.
Lalu, Matthew tersenyum dan berkata kepada Leo: “Maaf, aula seni bela diri ini milikku. Aku tidak pernah punya waktu untuk mengelolanya. Tidak disangka bisa merekrut orang-orang seperti ini dan membawakan pengalaman yang buruk untukmu. Sebagai tanda permintaan maaf, aku akan mentraktirmu minum kopi.”
Leo juga tersenyum dan berkata: “Tidak apa-apa, aku hanya tidak tahan orang ini meremehkan tradisi Indonesia.”
Setelah berbicara, mereka berdua pun meninggalkan aula seni bela diri tanpa menoleh ke belakang dan melihat Carel lagi.
...
Sangat cepat, waktu sudah menunjukkan pukul 04:00 sore.
Saat ini, Leo baru saja selesai minum kopi bersama Matthew. Dia membeli beberapa sayuran dan sedang berjalan kembali ke rumah.
Tiba di rumah, setelah memasak dan makan malam bersama Lili Louis, mereka berdua berpelukan dan bermesraan lagi. Kemudian, terdengar lagi suara ******* wanita dari dalam kamar tidur.
Sangat cepat, malam berlalu dan Leo bangun.
Lili juga bangun pagi dan telah pergi bekerja. Meskipun manajer toko telah memberinya cuti panjang berbayar, tapi Lili tetap bersikeras memilih untuk pergi bekerja.
Sedangkan Leo, setelah menyelesaikan sarapan, dia melakukan check in.
[Selamat, Tuan. Check in berhasil! Anda mendapatkan kepemilikan saham Grup Penguin sebanyak 7,8%!]
[Sertifikat saham telah dikirimkan ke brankas Kantor Pusat Bank Sentral Indonesia di Purakarta dan Tuan dapat mengeluarkannya dengan sidik jari Tuan kapan saja.]
Mendengar kata-kata ini, Leo sangat terkejut.
Saham Grup Penguin!
Ini adalah perusahaan dotcom yang menempati peringkat 500 teratas di dunia.
Lalu, Leo pun menelusurinya di internet. Laba bersih Grup Penguin pada tahun lalu adalah 1,996 kuadriliun! Dengan 7.8% saham, dirinya bisa mendapatkan bagi hasil sebesar ratusan triliun setiap tahun!
“Kini aku benar-benar dapat menghasilkan uang dengan duduk manis di rumah!”
Setelah mengambil napas yang dalam, Leo yang duduk di sofa tidak bisa menahan diri untuk merenung.
Di dalam kantor Direktur Grup Penguin.
Seorang pria berkacamata bingkai hitam duduk di depan mejanya dan memeriksa data di layar komputernya dengan wajah sangat serius. Lalu, pada saat ini juga, ponselnya menampilkan sebuah notifikasi baru.
“Eh? Apa yang terjadi?”
Melihat informasi transaksi saham yang ada di depan matanya, wajah direktur yang dipanggil ‘Kak Sebastian’ ini langsung memucat!
“Apa yang terjadi? Siapa Leo Mayor? Kenapa dia bisa memegang 7,8% saham grup kami?”
Ekspresi Kak Sebastian tampak sangat buruk. Dia sangat terkejut dengan berita pemegang saham tambahan yang di depannya ini!
Ada yang tiba-tiba memegang 7,8% saham grupnya dan dia bahkan tidak pernah mendengar berita ini sebelumnya. Bagaimana mungkin dia tidak terkejut?
Sedangkan, saat ini Leo masih tidak tahu kejadian di dalam kantor Grup Penguin. Dia duduk di rumah dan menerima telepon dari Richard Benard.
“Halo, Leo, di mana mobilmu? Sejam lagi aku akan berangkat pergi menjemput istriku.”
Leo mengangkat kepalanya dan melihat jam dinding yang digantung di ruang tamu. Waktu sudah menunjukkan pukul 07:00. Lalu, Leo tersenyum dan berkata: “Tenang saja. Aku pasti tidak akan telat. Kirimkan alamatmu padaku, aku akan membawa tim mobil ke sana.”
Sambil berbicara, Leo pun mengganti pakaian jas dan mengenakan jam tangannya setelah menyuruh Zella Alfiya untuk datang bersama para supir.
Setelah itu, Leo menerima telepon dari Zella.
Supir-supir ini juga mengenakan pakaian formal dan sarung tangan putih. Mereka yang saat ini sedang berdiri berjajar, jika diberikan kacamata hitam, mereka akan lebih terlihat seperti sekelompok pengawal pribadi.
Saat ini, Leo juga tidak tahu apa yang harus dia katakan
“Oke, masuklah ke mobil.”
Leo melambaikan tangannya, lalu mengemudi Pagani Huayra-nya dan memimpin tim mobil di depan. Sedangkan Rolls-royce Ghosts pun menaikkan logonya dan mengikuti mobil Leo dari belakang.
Selama perjalanan, tiada satu pun mobil yang berani mendekati tim mobil Leo. Bagaimanapun, Pagani Huayra dan sekelompok Rolls-royce Ghosts yang di belakangnya bukanlah mobil yang sanggup dibeli siapa pun. Jika terjadi kecelakaan lalu lintas, biaya untuk mengganti rugi pasti akan sangat tinggi.
Seiring berjalannya waktu, Richard yang menunggu terus melihat ke jalan dengan cemas. Wajahnya tampaknya sangat gugup.
Lalu, pada saat ini juga, tim mobil Leo akhirnya muncul secara perlahan. Begitu melihat tim mobil yang mahal dan Pagani Huayra yang di paling depan, Richard pun terkejut.