Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
PROMO NOVEL BARU: WARRIOR OF THE SEVEN SWORDS BY IAS


Hai hai readers


Assalamualaikum.


Othor datang lagi nih. Kali ini othor bawa cerita dengan genre lain. Yakni genre fantasi. Bagi readers yang kelahiran tahun 90 pasti tidak asing dong ya sama drama drama kolosal di televisi. Nah kali ini othor mau mencoba membuat drama kolosal tersebut melalui sebuah tulisan.


Tapi sebelumnya mohon maaf jika alurnya akan sedikit lambat, tidka seperti novel novel othor yang bergenre romansa. Semoga bisa menghibur ya. Klaau berkenan mampir, siapa tahu suka hehehe. Sambil bayangin film film kolosal jaman dulu hehehhe



BAB 1


Petir menggelegar diiringi tangis seorang bayi. Malam gelap dengan hujan deras itu membuat pasangan suami istri begitu bahagia karena kelahiran putra mereka. Putra yang ditunggu tunggu itu terlahir dengan sangat sehat.


" Selamat Ki Wiradharma, anak Ki Wira sangat sehat. Selamat Nyai Gayatri."


" Terimakasih mbok. Terimakasih.".


Gayatri memeluk bayi laki laki yang dibedong dengan kain jarik lalu menciumnya. Sang suami mengusap peluh di kening sang istri.


" Matursuwun Gusti, akhirnya kita bisa memiliki putra."


" Iya kakang, aku sungguh merasa senang."


Gayatri menaruh putranya itu di sebelahnya. Bayi itu yang selama ini mereka berdua lakukan. Mereka sudah menunggu selama 10 tahun untuk itu. Wiradharma merapalkan sedikit mantra dan melakukan sebuah gerakan.


Hiat... Hiaa... Huuufh huuuh....


Sebuah cahaya putih keluar dari tangan Wiradharma dan masuk ke dalam tubuh si bayi.


" Kakang, apa yang akan kamu lakukan?


" Aku memberikan sebagian kanuragan ku kepadanya. Itu akan memudahkan dia belajar nanti."


Gayatri mengerti, dia paham dengan maksud sang suami. Di dunia ini adalah tempat pertarungan. Yang menang akan menjadi dewa dan yang kalah akan menjadi budak dan sampah tak berguna.


Tapi rupanya kelahiran seorang putra di Padepokan Pedang Sakti itu tidak disambut gembira oleh semua orang yang ada di sana. Salah satunya adalah Duranjaya.


Duranjaya merupakan adik Wiradharma tapi lahir dari ibu yang berbeda. Dari semenjak dia dibawa ke padepokan tersebut oleh sang ayah, Duranjaya sudah membenci Wiradharma. Keinginannya menguasai padepokan Pedang Sakti membuatnya memanipulasi pengikut Wiradharma agar menjadi pengikutnya.


" Sial, bayi itu berhasil lahir. Dia akan menjadi ancaman buatku."


" Lalu apa yang harus kita lakukan Den?"


Duranjaya menyeringai. Ia sudah memiliki rencananya sendiri.


Malam selanjutnya hujan turun kembali. Bahkan malam itu hujan semakin bertambah deras, petir menyambar. Angin berhembus begitu kuat membuat pepohonan saling bergesek satu sama lain.


Krek .... Kreeek ... Kreek ...


Bruk ... Bruuk ...


Beberapa pohon tumbang. Sentir sentir di padepokan semuanya mati. Tangis si bayi terdengar begitu kencang seakan tahu akan ada peristiwa buruk yang terjadi.


Suuussssh.... Suuuussh ...


Gayatri mencoba untu menenangkan sang putra. Ia menggendong putranya dan menimangnya dengan perlahan. Bukannya berhenti bayi tersebut semakin kencang menangis. Gayatri pun kembali duduk. Ia mencoba menyususi sang putra namun bayi itu menolak.


" Duh Gusti, ada apa sebenarnya. Kamu kenapa to le. nangis mu kok tidak berhenti. Mbok ... Mbok tahu ndak dia kenapa. Nangisnya sama sekali ndak mau berhenti."


" Simbok juga ndak tahu den ayu. Mungkin tole takut dengan hujan petir."


Di luar tepatnya di pendopo depan pertarungan tengah terjadi.


Trang ... Trang ... Trang..


Suara pedang saling beradu. Kedua kubu terlihat imbang. Ya Duranjaya tengah menyerang Wiradharma. Tapi bukan hanya keduanya yang beradu tanding. Tapi pengikut dari dua kubu pun saling menyerang.


Trang ... Trang ...


Pak ... Pak ...


Satu per satu para pengikut dari dua buah kubu berjatuhan. Bukan hanya ilmu pedang yang digunakan, namun ilmu kanuragan pun mereka keluarkan.


Huuuummmm huuuufhhh...


Wiradharma mengambil nafasnya dalam dalam dan mengeluarkannya. Tangannya kirinya mengusap pedangnya dan keluarlah cahaya warna putih. Pedang tersebut menyala terang.


Hiaaaaat ...


Wiradharma maju menyerang Duranjaya. Duranjaya pun tak mau kalah, ia juga mengeluarkan ilmu kanuragan miliknya. Ia merapalkan mantra di depan pedangnya sehingga pedangnya berwarna merah terang.


Hiaaat ... Syuuuuh ... Syuuuuh ....trang ... Trang ....


"Aaarhg .... Sial"


Duranjaya terjerembab kebelakang. Wiradharma mendekat lalu mengarahkan pedangnya di leher sang adik.


" Apa yang kamu mau rayi. Mengapa kau melakukan ini semua."


" Hahaha kakang Wiradharma, kau sungguh naif. Apa kau tidak melihat nya, apa kau tidak juga mengerti. Sudah saatnya untuk mu lengser kakang. Kau sudah terlalu lama berdiri di puncak kepemimpinan Padepokan Pedang Sakti."


Wiradharma menyeringai, ia sebenarnya sudah tahu mengenai hal tersebut. Namun Wira membiarkan dulu, ia masih berharap sang adik mau berubah. Tapi dengan adanya penyerangan kali ini menandakan bahwa Duranjaya masih bersikukuh dengan ambisinya.


" Baiklah kalau itu mau mu rayi. Aku tidak segan lagi."


Syuuuuut ....


Wiradharma mengayunkan pedangnya hendak menebas leher Duranjaya. Namun Duran jaya berhasil menghalangi pedang Wira dengan pednag miliknya.


Trang ... Trang ... Syuuuut ... Bugh ... Duagh ...


Durnajaya berhasil bangkit kembali. Pertarungan itu kembali berlanjut hingga Gayatri keluar bersama bayinya. Hal itu menjadi kesempatan emas bagi Duranjaya untuk mengecoh fokus sang kakak.


Dan benar saja saat Wira tengah menoleh ke arah sang istri Duranjaya langsung menebaskan pedangnya.


Sreeeet ..... Argh ......!!!


Wira berteriak keras saat tangannya terkena sabetan pedang milik Duranjaya. Bahkan tangan itu terlepas dari badannya bersama pedang miliknya.


Bugh ... Bugh ...


Duranjaya berhasil melumpuhkan Wiradharma. Sedangkan di sisi lain Gayatri tubuhnya terkena tebasan pedang saat melindungi sang anak.


" Kang ... Mas ..." Gayatri jatuh tersungkur.


Huwaaaaa .... Huwaa....


Bayi itu menangis begitu keras.


" Ja ... Ha ... Nam ... Kau Du ran ja ya."


" Tck ... Banyak omong."


Syuuuut jleb....


Duranjaya menusukkan pedangnya ke tubuh sang kakak sambil menyeringai. Ia lalu berjalan mengambil bayi tersebut.


" Kalian semua dengarkan aku, jika kalian tetap ingin hidup maka bersumpahlah setia kepadaku. Tapi jika tidak maka lebih baik kalian mati di sini."


Beberapa pengikut Wiradharma nyalinya menciut saat mengetahui pemimpin mereka telah tewas. Mereka pun diam. Melawan tidak akan bisa membuat mereka menang.


" Den, mau diapakan bayi ini."


" Habisi saja. Jika tidak dia akan jadi ancaman. Buang tubuh mereka semua ke sungai. Jangan menguburnya di sini aku tidak mau menyimpan tubuh mereka itu."


...Kelanjutannya langsung mlipir ya. ...


...Happy reading readers!!...