Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 37. Terkuak


Di sebuah pinggiran kota seorang wanita tengah marah marah karena kondisinya saat ini. Siapa lagi kalau bukan Priska.


" Sialan ... Bajingan ... Kenapa begini ... Argh ... !!!"


Priska memaki dengan keras hingga membuat Reni ketakutan.


" Ma ... Stop ma. Reni takut ... Mama kenapa?"


Priska terdiam, ia melupakan fakta bahwa ia memiliki Reni. Ia pun memeluk sang putri dengan erat.


" Maaf ... Maafin mama ya. Sayang kamu pulang aja ya ke rumah nenek. Mama harus menyelesaikan sesuatu di sini."


" Nggak ma, Reni nggak mau. Reni mau di sini."


" Reni ... Dengar kata mama. Kamu harus kembali ke rumah nenek!!"


Reni sungguh terkejut dengan bentakan Priska. Reni beringsut mundur. Ia sangat takut dengan sang mama.


" Maafin mama sayang, tapi kamu memang harus pulang ke rumah nenek nak. Mama tidak bisa bersama kamu saat ini. Banyak hal yang harus mama urus."


Reni bergeming, dia sungguh tidak mengerti dengan ucapan mamanya. Ia merasa bingung. Kemarin papa nya mengatakan rumah itu dijual sehingga dia dan mama nya harus pergi tapi kenapa sang papa tidak ikut pergi. Lalu kenapa mama nya berada di rumah orang lain? Tepatnya pria lain.


Gadis remaja itu masih ingat betul. Tadi malam yang membuka pintu dan mempersilahkan ia dan mama nya masuk adalah seorang pria. Bahkan pria tersebut nampak sangat mengenal sang mama.


Meskipun rumah itu tidak sebesar rumah papanya, Reni dapat merasa mama nya sudah tidak asing di sana. Yang lebih membuat heran dan bertanya lagi, mamanya itu berada di dalam kamar yang sama dengan pria itu.


" Ma ... Jawab Reni. Apakah mama sudah tidak bersama papa?"


Priska terhenyak, ia lalu melihat wajah Reni.


"Mengapa kamu bisa bertanya begitu?"


" Ma, Reni bukan anak TK yang nggak ngerti dengan kondisi keluarganya. Mama dan papa sudah pisah kan? Karena mama tidak menikah resmi dengan papa jadi mama tidak perlu ke pengadilan untuk sidang cerai. Lalu apa hubungan mama dengan pria itu?"


Priska sedikit kelabakan. Ia bingung bagaimana menjelaskannya kepada Reni kondisi saat ini.


" Itu ... Itu ... Begini sayang. Dia ..."


" Kenapa tidak kau katakan bahwa aku adalah ayah nya Pris."


Jedeeeer ...


Reni sungguh terkejut dengan ucapan pria yang baru masuk ke rumah itu. Bahkan Reni sudah menjatuhkan tubuhnya kelantai. Gadis remaja tersebut menggelengkan kepala nya dengan cepat.


" Tidak ... Bukan ... Tidak mungkin. Tidak mungkin kau ayahku. Ayahku papa Yudi mana bisa menjadi kau."


Pria itu membuang nafasnya kasar. Ia pun melenggang masuk ke dapur dan meletakkan bungkusan makanan yang baru ia beli. Sedangkan Priska, ia berusaha mendekati Reni yang tengah syok.


" Sayang ... "


" Tidak ... Jangan dekati aku. Kau pembohong. Kau wanita jahat ... A-aku tidak percaya ini semua. Bisa bisanya kau membohongiku selama 18 tahun. Pantas saja aku sama sekali tidak mirip dengan Hasna, meskipun beda ibu paling tidak wajahku ada miripnya dengan dia. Dan pantas saja Papa Yudi tidak pernah memandangku dengan sayang. Ternyata ternyata ... Argh ... Huhuhuhu ... "


Priska berusaha untuk menenangkan anak gadisnya itu. Bagaimana pun dia tidak ingin dibenci Reni.


" Tck ... Sudah ku katakan, beritahu sejak dulu kau ngeyel."


" Diam kau Bardi."


" Sayang, maafin mama ya nak. Mama lakuin semua ini untuk Reni. Biar Reni bisa hidup bahagia."


Bukannya setuju dengan ucapan sang mama, Reni menatap nyalang kepada kedua orang dewasa itu bergantian.


" Untukku, hahaha jangan munafik. Aku yakin kalian melakukan untuk kalian sendiri. Setelah aku pikir pikir, pantas saja jika aku menjadi seperti ini. Egois, pemarah, dan brutal itu semua dari kalian berdua. Sungguh aku pun tidak sudi hidup bersama kalian. Lebih baik memang aku pulang ke rumah nenek. Paling tidak nenek dan kakek menyayangiku dengan tulus."


Rani menghapus air matanya, kemudian ia berdiri dan berlalu ke kamarnya. Di dalam kamar ia membereskan baju-bajunya ke dalam tas beruntung dia masih memiliki sejumlah uang. Ya tidak sudi meminta uang kepada kedua orang itu.


" Baiklah seperti keinginanmu, aku akan pulang."


Reni pergi begitu saja dari rumah bahkan ia tidak berpamitan kepada Priska.


" Sayang tunggu, mama akan antar kamu ke rumah nenek."


" Tidak perlu, aku bisa sendiri. Jangan pernah kau mengikuti ku."


Reni pergi dengan memesan ojek online. Tapi rupanya dia tidak langsung ke kampung neneknya. Ia terlebih dulu ke perusahaan Yudi.


" Permisi mbak, apakah pak Yudi ada di ruangannya."


Reni mengangguk dan menuju ruangan Yudi. Di dalam lift gadis itu berkali kali menyeka air matanya.


Tring ...


Pintu lift terbuka. Reni langsung masuk ke ruangan Yudi.


" Pak Yudi."


Reni tidak bisa lagi memanggilnya papa. Ia merasa tidak pantas. Ada sesuatu di hatinya yang membuatnya merasa tidak pantas untuk memanggil pria dihadapanya itu dengan panggilan papa.


" Lho Ren, kenapa."


Reni langsung duduk. Ia mencoba menyeka air matanya yang luruh.


" Pak Yudi saya ke sini mau minta maaf ke bapak."


Yudi mengernyitkan keningnya. Ia merasa bingung mengapa Reni memanggilnya seperti itu.


" Kamu ini kenapa nak."


" Pak, saya bukan anak bapak. Hu... Hu ... Hu ... "


Entah mengapa Yudi merasa tidak terlalu terkejut. Pria itu membuang nafasnya kasar.


" Mengapa kamu bisa bicara seperti itu?"


" Reni dengar sendiri pria itu mengatakan bahwa Reni adalah anaknya berarti Reni bukan anaknya Pak Yudi."


" Sudahlah, tidak usah dibahas. Kau tetap bisa menganggap ku sebagai papa mu."


Reni menggeleng, dia merasa sangat tidak pantas. Dia adalah gadis berusia 18 tahun, dia sudah tahu mana yang benar dan salah. Dan di sini mama nya yang salah.


" Pak, bisakah saya minta tolong?"


" Ya, ada apa?"


" Saya ingin bertemu kak Hasna sebelum saya kembali ke kampung nenek."


Yudi mengangguk, ia langsung menyambar kunci mobil dan membawa Reni kepada Hasna. Sebelum pergi tadi pagi Hasna mengatakan akan ke rumah Sekar. Berarti mungkin dia masih ada di sana sekarang.


Sepanjang perjalanan Reni terdiam. Ia sungguh merasa tidak enak. Tangannya mencengkeram erat tas yang ada di pangkuannya.


Ckiiit ...


Mobil Yudi terparkir sempurna di depan rumah Aryo dan Sekar. Yudi pun mengajak Reni untuk masuk.


" Assalamualaikum ... "


" Waalaikum salam ... Eh Yud masuk."


" Iya mbak, mbak Hasna masih di rumah?"


" Ada bentar ya mbak panggilin."


Sekar meminta Yudi dan Reni untuk duduk terlebih dahulu dan berlalu ke kamar atas untuk memanggil Hasna. Hasna segera turun saat tahu papa dan adik tirinya datang. Sekilas Hasna merasa aneh dengan tatapannya Reni. Ia merasa gadis itu tidak seperti biasanya


" Pa ... Ren, ada apa?"


Reni langsung berdiri dan memeluk Hasna. Hasna sedikit kebingungan dengan perilaku Reni.


" Kak, aku minta maaf. Sungguh aku minta maaf. Selama ini aku jahat sama kakak. Maafin aku."


" Kenapa ini Ren. Iya aku sudah maafin kamu."


" Kak, aku kesini mau pamit. Aku mau pulang ke rumah nenek. Oh iya kak. Kakak jangan marah lagi ke pak Yudi. Kak, aku bukan anak Pak Yudi. Jadi kakak berbaikan lah dengan Pak Yudi."


Hasna sungguh terkejut dengan pernyataan Reni. Jika bukan anak papa nya terus anak siapa Reni ini.


" Reni adalah anak pria yang tidak jelas. Dan maaf mama suka jahat ke kak Hasna, aku juga. Sekarang aku mau pulang. Oh iya kak, Pak, waktu itu mama pernah mengirim surat ke rumah pak Yudi. Lalu ada seorang wanita cantik datang ke kampung. Kalau Reni tidak salah ingat. Wanita cantik itu mama nya kak Hasna."


Yudi dan Hasna saling pandang. Ada sesuatu di sini yang sepertinya janggal.


TBC