
Hasna tengah berkutat dengan skripsinya. Bahkan malam ini dia sampai larut malam belum juga tertidur. Radi yang sudah pulas tiba-tiba terbangun saat tidak menjumpai istrinya di sampingnya. Radi pun keluar dari kamar menuju ke dapur. Ia sungguh terkejut melihat Hasna masih betah di depan laptop miliknya.
Akhirnya Radi pun urung ke dapur ia menghampiri istrinya dan duduk di sebelah sang istri.
" Sudah jam berapa ini? Kenapa kamu belum tidur juga?" tanya Radi sambil mengusap wajahnya.
" Nanggung pak dosen. Pak dosen kan tahu sendiri besok jadwal saya untuk bimbingan. Nanti telat 2 menit saya ditolak lagi," jawab Hasna sambil terus mengetik di atas keybord.
Radi tertawa geli mendengar perkataan sang istri. Ia tahu dirinya tengah di cibir oleh istri kecilnya itu.
" Sepertinya kamu masih kesal dengan kejadian waktu itu."
Hasna seketika menghentikan kegiatannya. Ia lalu menatap wajah sang suami.
" Apa kau tahu pak dosen. Aku itu sudah berlarian sekuat tenaga agar bisa datang tepat waktu. Tapi hanya gara gara 2 menit kau menolak aku. Saat itu aku sungguh ingin mencakar cakar wajah tampan mu itu."
" Woooahh, aku baru tahu kau sebegitu kesalnya padaku. Tapi disiplin is disiplin sayang. Tidak bisa ditawar, dan tadi kau bilang apa? Aku tampan hmmm?"
Blush
Wajah Hasna merona. Ia sungguh keceplosan tadi saat mengatakan hal tersebut. Ia pun menggelengkan kepalanya untuk menyangkal. Namun Radi sudah kepalang gemas dengan raut wajah sang istri.
Radi pun berlari menuju ke dapur untuk mengambil air mineral lalu meminumnya hingga tandas. Kemudian ia kembali lagi menghampiri Hasna.
Hap ...
Hasna kini sudah beralih dari duduk di lantai menjadi berada di gendongan sang suami.
" Kak, mau apa?" Hasna sedikit terkejut dengan apa yang Radi lakukan.
" Mengajakmu tidur. Ini sudah larut," jawab Radi singkat.
" Apakah benar hanya tidur?" Hasna bertanya menyelidik. Ia tidak yakin Radi benar benar hanya akan mengajaknya tidur.
Radi hanya diam dan tersenyum simpul. Ia pun merebahkan tubuh istrinya di ranjang king size di kamar itu. Pria itu merangkak di atas istrinya mengungkung tubuh Hasna.
" Kalau tidak mau tidur lalu mau apa hmmm? Atau mau seperti ini dulu?"
Radi tersenyum nakal. Ia lalu mencium leher Hasna dan menyesapnya.
" Shhh kak."
Hasna mendesis saat bibir lembut milik Radi bertengger di lehernya. Tidak hanya di situ Radi sudah membuka kancing piyama milik Hasna. Jika kemarin ia hanya menyentuhnya malam ini ia ingin menikmatinya. Hasna pun pasrah dengan ulah sang suami. Radi membuang sembarangan piyama milik Hasna dan menyisakkan kain berbentuk kain kacamata saja.
" Apakah boleh?"
Dengan wajah memerah Hasna hanya bisa mengangguk. Radi pun tak mau berlama lama, ia pun membuka kain itu. Bukit kenyal itu sungguh indah dimata Radi. Ia lalu menciumnya dan ******* nya. Tak hanya itu Radi menyesap kedua nya bergantian.
Akh!
Hasna memekik merasakan lidah basah Radi bermain di dua aset nya. Ledakan hormon testoteron itu sudah menyebar ke seluruh tubuh. Radi segera melepas semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Ia pun melucuti pakaian yang tersisa di tubuh sang istri. Kini keduanya sama sama polos. Radi menarik selimut untuk menutupi tubuh keduanya. Ia mulai mengabsen inci demi inci tubuh sang istri membuat Hasna menggeliat.
Hasna kembali memekik saat Radi bermain di bawah sana. Ia mencengkeram seprai dengan kuat.
" Apakah aku bisa mulai."
" Iya kak."
Radi pun melancarkan aksi nya. Namun ternyata tak semudah yang ia pikirkan.
" Kok susah ya?"
" Eh ... Susah gimana kak?"
Radi masih berusaha lagi, namun sepertinya belum juga berhasil.
" Susah Has!"
" Kaaak!"
Radi ambruk di atas tubuh Hasna. Ia sungguh belum bisa melakukannya. Berkali kali ia coba tetap saja masih susah.
" Susah Has, tak seindah teori."
" Iya kali ya, apa kita perlu browsing kak gimana caranya biar gampang?"
" Sudahlah ayo tidur. Tapi biar seperti ini saja dulu. Kita coba lagi besok," ucap Radi
" Kak,tadi udah berdiri belum punya kakak?" tanya Hasna menyelidik.
" Udah lah, emangnya kamu nggak berasa. Meskipun susah masuk paling nggak kan berasa keras Has."
Hasna terdiam ia mencoba mengingat ingat kejadian beberapa saat tadi.
" Iya sih ada yang keras dan gede, kok bisa jadi gede gitu ya kak."
Pletak
Radi menyentil kening Hasna dengan tangan. Ia lalu mendekap tubuh sang istri dengan tangan yang berada di salah satu bulatan kenyal milik Hasna dan memilin milin pucuknya.
" Kak, kalau kayak gini aku nggak bisa tidur. Kakak tanggung jawab besok skripsi ku nggak jadi."
" Wohoo enak saja, tugas mu sebagai mahasiswa ya selesaikan. Ini adalah tugas mu yang lain sebagai seorang istri."
Hasna membuang nafasnya kasar. Ia kalah telak dengan pria yang sedang memeluknya. Baik sebagai dosen ataupun suami, Radi menang secara mutlak.
*
*
*
Pagi harinya keduanya sudah berada di ruang tamu. Hasna tengah harap harap cemas saat skripsi nya diperiksa oleh sang dosen yang merangkap sebagai suaminya tersebut.
Radi terlihat begitu serius, bahkan di beberapa bagian ia memicingkan matanya. Sesekali pria itu melihat sang istri dan membuang nafasnya dengan berat.
Hasna menautkan jari-jari tangannya. Bahkan ia menggerak-gerakkan kakinya untuk menghilangkan rasa gugup. Berhadapan dengan Radi yang berperan sebagai dosen sungguh sangat berbeda ketika berhadapan dengan Radi yang berperan sebagai suami.
" Kak, eh pak ... Apakah banyak yang salah?"
" Radi mengehentikan pemeriksanaan nya terhadap lembaran kertas yang ia baca. Pertanyaan Hasna membuatnya melepas kacamata miliknya dan menaruhnya di atas meja dengan perlahan.
" Apakah selama kuliah kamu tidak pernah membuat makalah Has?"
" Ya pernah atuh Pak sering malah."
" Lalu, mengapa masih sangat banyak typo. Plus susunan katanya terbalik. perhatikan lagi PUEBI nya. Dan ini bab 2 yang bagian landasan teori, jangan terlalu banyak menggunakan sumber dari internet. Terus jangan banyak copy paste, ini skripsi mu. Jika kamu mau menggunakan sumber internet maka gunakan bahasa mu sendiri. Jangan plek ketiplek."
Hasna terdiam mendengar semua koreksi dari sang dosen.
" Bujug, nih dosen tetap aja killer meskipun sama istri sendiri. Beda banget kalau lagi di atas kasur mah," batin Hasna.
" Perhatikan, jangan kebanyakan ngedumel. Lanjut, bab 1 udah oke, bab 2 yang harus dibenerin kembali."
" Baik pak, terimakasih pak atas koreksiannya. Jadi kapan saya harus bimbingan lagi?"
" 3 hari lagi saya akan memeriksa bab 2 kamu. Gunakan sumber dari buku jangan dari internet."
Hasna mengambil kertas kertas tersebut dari Radi dan meletakkan nya ke meja. Wajahnya ditekuk bak cucian kusut. Gagal sudah hadiah liburannya.
" Kenapa cemberut?" tanya Radi.
" Nggak jadi liburannya," ucap Hasna lesu.
" Jadi, buruan siap siap. Kita akan berangkat. Boarding pas nya jam 2 sebelum zuhur kita harus sudah di bandara."
Hasna membulatkan matanya ia sungguh tidak percaya dengan ucapan suaminya itu.
" Jangan bengong, cepetan."
Hasna mengangguk ia pun segera berlari ke kamar namun ia kembali lagi menghampiri Radi
"Cup, terimakasih suami dosenku."
Radi terkejut mendapat kecupan singkat dari istrinya. Namun ia kemudian tersenyum melihat binar kebahagiaan di wajah sang istri.
TBC