
" Pa, Hasna tidak menginginkan semua ini yang Hasna mau adalah Papa, papa ada untuk Hasna itu sudah cukup."
" Tapi sayang itu semua milikmu itu milik kamu Nak. Semua yang papa berikan itu adalah milik mama dan sudah saatnya papa berikan ke kamu."
Hasna membuang nafasnya dengan perlahan. Papa nya begitu keras. Jika sudah mengatakan A maka akan tetap A dan tidak bisa berubah.
Radi yang melihat ketegangan diantara ayah dan anak itu seketika langsung melerai.
" Papa, Hasna begini. Coba dengarkan Radi ya. Radi tahu maksud papa ingin memberikan semuanya kepada Hasna. Tidak ada yang salah karena Hasna adalah putri papa. Suatu hari pasti akan dimiliki oleh Hasna juga. Tapi pa maksud Hasna, papa juga berhak untuk aset aset itu. Kalau papa memberikan kepada Hasna semuanya, apakah Hasna bisa mengurusnya. Apakah itu nanti tidak akan membuat perusahaan goyah. Pasti akan ada goncangan di perusahaan saat tiba tiba papa memberikannya kepada Hasna akan banyak yang tidka setuju, terlebih Hasna belum berpengalaman."
Yudi terdiam, ia mencerna perkataan sang menantu. Apa yang dikatakan Radi benar adanya. Urusan pekerjaan bukan hanya serta merta soal waris, tapi menyangkut hidup orang banyak.
" Baiklah papa paham. kalau begitu papa akan terus mengurus perusahaan hingga nanti Hasna siap untuk mengurus nya sendiri. Setelah lulus belajarlah di perusahaan bersama papa ya."
Greb ...
Hasna langsung memeluk sang papa. Ia begitu menyayangi papanya. Papanya yang sempat hilang kini kembali lagi menjadi papanya yang dulu. Papa yang selalu menyayanginya dan mengerti.
" Lalu apakah kalian akan menginap?"
" Iya pa ... Kami akan menginap."
" Bagus, karena papa ingin sekali makan masakan Hasna."
Yudi tertawa, tawanya sungguh lepas. Tawa yang sudah lama tidak dilihat oleh Hasna. Hasna pun tersenyum. Ternyata bahagia itu sungguh sangat sederhana, yakni bisa melihat orang yang disayangi tertawa lepas tanpa beban.
🍀🍀🍀
Siang kini berganti malam. Yudi sangat senang seharian bisa bersama dengan putri nya. Begitu juga dengan Hasna, setelah mama nya tiada baru kali ini dia bisa menikmati hari bersama sang papa dengan bahagia.
Kini Hasna berada di dalam kamar bersama Radi. Hasna menyerahkan baju untuk Radi bisa berganti pakaian.
" Kak, pakai baju ganti ini saja. Itu punya papa, semoga cukup."
Radi mengangguk dan berlalu ke kamar mandi untuk berganti baju.
" Lumayan, ternyata badan papa cukup besar juga," gumam Radi.
Radi kemudian keluar dari kamar mandi namun ia tidak menemukan Hasna.
" Kemana perginya bocah itu."
Radi pun naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Baru kali ini ia akan tidur di tempat selain kamarnya. Biasanya dia akan kesulitan untuk tidur, entah kali ini.
" Kira kira bisa tidur nggak ya."
Ceklek ...
Hasna masuk ke kamar dengan membawa susu hangat. Ia lalu menyerahkannya kepada Radi.
" Kak minumlah."
" Untukku?"
Hasna mengangguk, Radi pun menerima segelas susu tersebut dan meminumnya hingga tandas.
" Tidurlah kak."
" Kamu?"
" Aku nanti dulu, ada yang harus kulakukan."
Saat Hasna hendak membalikkan badan Radi menarik tangan istrinya itu hingga terjatuh dan menimpa tubuh Radi. Posisi keduanya begitu intim. Wajah Hasna tepat berada di depan wajah Radi.
Glek ...
Radi menelan saliva nya dengan kasar saat matanya fokus menatap bibir ranum milik Hasna. Sedangkan Hasna nafasnya naik turun saat hembusan nafas Radi menerpa wajahnya.
Sesaat keduanya terdiam, suasana menjadi begitu hening.
" Eh ... Maaf. Tolong pintunya di tutup ya."
Suara Yudi membuat mereka menjauh satu sama lain. Keduanya menjadi canggung, sedangkan Yudi ia hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.Ia pun menuruni tangga dengan menggerutu.
Yudi pun langsung memasuki kamarnya. Ia berjanji tidak akan naik ke lantai dua jika anak dan menantunya menginap di sini.
Sedangkan Hasna dan Radi keduanya menjadi canggung.
" Kak ..."
" Has ..."
Mereka memanggil bersamaan. Radi merutuki dirinya sendiri yang benar benar bodoh saat berhadapan dengan wanita.
" Lebih baik kita tidur Has."
" Ya .. Sebaiknya begitu."
Keduanya langsung kembali ke tempat tidur dan merebahkan tubuh mereka. Hasna dan Radi tidur saling memunggungi. Bagai sepasang suami istri yang tengah bertengkar, tapi sebenarnya mereka melakukan itu karena saking canggung nya.
" Kak ... "
" Hmmm ... "
" Apakah besok ke kampus?"
" Iya."
" Terus mau pulang ke rumah bunda apa ke apartemen."
" Ke rumah bunda dulu saja. Nanti aku pulang dari kampus baru kita ke apartemen."
Jika kalian pikir mereka berbicara saling berhadapan kalian salah besar. Keduanya saling berbicara masih dalam posisi memunggungi satu sama lain. Mereka membicarakan banyak hal dengan posisi seperti itu hingga keduanya tertidur. Dan mereka tidak tahu siapa yang lebih dulu tertidur.
Pagi harinya keduanya terbangun bersama saat mendengar adzan subuh. Hasna dan Radi sama sama terkejut mendapati diri mereka saling memeluk satu sama lain.
Tapi bukannya melepaskan Radi malah memeluk sang istri semakin kuat.
" Biarkan seperti ini untuk sementara," ucap Radi.
Hasna mengangguk patuh. Radi memberanikan diri mencium pucuk kepala Hasna. Sedangkan Hasna jantungnya sudah tidak aman lagi.
" Ya Allaah, jantungku rasanya mau copot. Kenceng banget deg deg an nya. Kayak habis lari maraton," gumam Hasna dalam hati.
Sedangkan Radi sudah mengambil keputusan bahwa dia akan secepatnya membawa Hasna ke apartemen.
" Has, apa kamu menerima pernikahan ini? Apa kau marah padaku dan membenciku?"
Hasna mengangguk lalu menggeleng.
" Has, aku ingin menikah satu untuk selamanya. Apakah kamu mau hidup bersamaku dan kita belajar untuk saling menerima?"
Hasna menengadahkan wajahnya hinga tatapan mata mereka terkunci dan saling bertemu. Radi membelai wajah Hasna dan menyingkirkan surai rambut yang mengenai wajah sang istri.
" Mari kita sama sama belajar kak. Kau pria pertama bagi ku dan aku sungguh masih sangat awam dengan hubungan pria dan wanita."
" Sama, begitu juga denganku, jadi apakah kita pacaran sekarang?"
Hasna tertawa keras, lalu ia mengangguk. Kata pacaran yang diutarakan Radi sedikit menggelitik hatinya.
" Tapi bukankah kita sudah menikah? Mengapa kita malah baru jadian?"
" Tidak masalah, kan pacaran setelah menikah lebih menyenangkan. Aku bisa melakukan seperti ini tanpa takut dosa, dapat pahala malah."
Cup
Radi mengecup sekilas bibir Hasna. Hal yang sangat ingin ia lakukan dari semalam. Hasna hanya tersenyum malu wajahnya begitu merona. Dosen killer nya itu sekarang menjadi suaminya. Sungguh hal yang diluar nalar bagi dia.
" Baiklah kak, ayo segera sholat subuh sebelum fajar menyingsing."
Radi mengangguk. Sebenarnya ia enggan melepaskan pelukannya. Radi merasakan sebuah kenyamanan saat memeluk sang istri. Namun benar kata Hasna, mereka harus segera bangun dan menjalankan kewajiban dua rakaat.
TBC