
Yudi tengah merenung sendirian di kamar. Ingatannya kembali saat hari naas itu terjadi. Ia sungguh menyesal mengapa dia tidak nekat saja saat Melati memanggil Hasna masuk.
" Apa yang Priska katakan padamu Mel. Mengapa kau sebegitu tidak ingin menemui ku bahkan di saat saat terakhir mu?"
Yudi memejamkan matanya. Ia mencoba menerka nerka apa yang terjadi waktu itu tapi tetap tidak ada titik terang.
" Sebaiknya besok aku mendatangi alamat yang diberikan Reni waktu itu."
Kring!
Ponsel Yudi berbunyi nyaring. Yang tadinya ia ingin memejamkan matanya hendak tidur rupanya ia pun harus segera bangun dan meraih ponselnya itu.
" Ya halo."
" Kami sudah menemukan apa yang anda cari dan sudah kami kirimkan via surat elektronik."
" Benar kah itu. Baik. Terimakasih, saya akan mentransfer bayaran anda."
" Tidak perlu tuan, kali ini anda tidak perlu membayar untuk ini."
" Tapi ~"
Belun sempat ia menanyakan perihal mengapa tidak perlu membayar, pria di seberang sana sudah mengakhiri panggilan telepon tersebut. Mau heran tapi itu adalah Wild Eagle, sebuah agen detektif dan penyedia jasa keamanan yang terkenal teguh dengan pendirian nya.
Yudi hanya menggaruk kepala nya yang tidak gatal. Namun kemudian ia teringat akan apa yang pria ditelpon tadi katakan. Yudi pun segera membuka alamat surel miliknya dan mengklik pesan kiriman dari Wild Eagle. Yudi membaca satu persatu mengenai siapa Bardi.
" Ini agak aneh. Dia bersih," gumam Yudi.
Yudi kembali membaca nya, ia mengulang setiap kata dari atas hingga ke bawah. Di tulisan itu memang tidak ada yang aneh sama sekali. Di sana hanya tertulis bahwa Bardi adalah seorang pedagang pada awalnya lalu setelah berkali kali gagal atau bangkrut akhirnya pria itu menjual kios dagangannya dan membeli sebuah mobil. Saat ini Bardi berprofesi sebagai pengemudi online.
Yudi memijat kening nya. Ia masih merasa yakin bahwa Priska ada hubungannya dengan kecelakaan sang istri. Namun saat ini dia merasa otaknya tengah buntu. Yudi tidak bisa berpikir apapun.
" Sebaiknya aku tidur saja dulu. Sepertinya selain umur yang sudah tua otak pun ikutan tua. Buat mikir sebentar saja sudah berasa ngebul."
Yudi kembali meletakkan ponselnya dan merebahkan tubuh nya. Ia benar benar butuh segera tertidur untuk bisa kembali berpikir dengan jernih besok pagi.
Sementara Yudi tengah terlelap di kamarnya. Di kamar lain seseorang tengah saling bertukar peluh dan beradu des*h*n. Mereka tampak menikmati permainan satu sama lain.
Bahkan kedua pasang pria dan wanita itu tak hanya melakukan penyatuan sekali tapi berkali kali.
" Kau memang luar biasa Pris. Diusia mu yang hampir 40 tahun kau tetap menggairahkan. Bahkan itu, selalu membuatku mabuk kepayang."
" Diam lah, kau dari tadi begitu pasif. Aku terus yang aktif bergerak. Kau sungguh menyebalkan."
Ya saat ini posisi Priska memang tengah bergerak aktif di atas tubuh si pria. Dan pria tersebut hanya tertawa pelan mendengar setiap apa yang dikeluhkan oleh Priska. Ia masih memainkan gantungan buah indah yang berada tepat di depan matanya itu.
" Ayolah Rid, gantian aku ingin di bawah."
Pria yang Priska panggil Rid itu tidak lain adalah Ridwan. Ridwan pun segera membalikkan tubuh mereka. Kini Ridwan yang berada di atas dan Priska di bawah. Ridwan mulai memompa lagi dengan ritme yang lebih cepat sehingga membuat Priska menggila di bawah kungkungan Ridwan. Berkali kali Priska melakukan pelepasan hingga keduanya benar benar kelelahan.
" Ah, kau memang yahud Pris."
" Halah gombal."
" Ini bukan gombal. Kau selalu luar biasa disetiap permainan mu."
Ridwan dan Priska tertawa bersama di dalam kamar itu. Mereka berdua sungguh tidak menyadari kedatangan seseorang. Ya, seseorang tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah Bardi. Ternyata Priska dan Ridwan melakukan perhelatan panas itu di rumah Bardi. Sungguh mereka berdua tidak punya malu dan harga diri.
Bardi membuang nafas nya kasar saat melihat dua mobil terparkir di depan rumahnya. pria itu pun memasuki rumah dan mendengar apa yang sejoli itu bicarakan di dalam kamar. Sebelum ingin menendang pintu kamar itu Bardi memejamkan matanya terlebih dahulu. Dia benar benar menahan emosinya.
" Sekalinya jal*ng tetaplah jal*ng. Huft, percuma aku mempertahankan mu. Rupanya kau memanglah wanita rendahan Pris, jika boleh aku sungguh menyesal."
Brak!!
Bardi menatap pasangan itu dengan tatapan nyalang. Sedangkan Priska dan Ridwan, keduanya sungguh terkejut.
" Bar ... !"
" Tidak usah banyak drama, segera tinggalkan rumahku. Bawa semua barang mu. Aku sungguh tidak bisa menyimpan barang busuk di rumah milikku ini," Ucap Bardi ketus.
" Tck, lagian siapa yang ingin berlama lama di rumah yang bobrok ini," Sahut Priska tidak kalah ketusnya.
Wanita itu kemudian mengenakan kembali pakaiannya begitu juga dengan Ridwan. Ridwan sendiri tak ingin banyak bicara. Pria itu melewati Bardi dengan acuh seolah tidka menganggap keberadaan Bardi di sana.
" Kau memang pria yang payah," ucap Priska sambil berlalu dengan membawa semua barang nya.
" Terserah! Tapi paling tidak aku bukanlah jal*ng dan murah*n sepertimu!"
Priska bersama Ridwan keluar dari rumah Bardi mereka menaiki mobil mereka masing masing. Setelah pasangan mesum itu pergi, seketika Bardi terhuyung dan menjadikan dinding disebelahnya sebagai sandaran.
" Bodoh nya aku bisa mencintai wanita seperti mu Pris. Ren, aku harap kau tidak seperti ibu mu nak. Maaf ayah mu ini nak yang tidak pernah bisa berani untuk berhadapan dengan mu."
Bardi tergugu, sungguh ia begitu menyayangi putrinya. Sedari Reni kecil Bardi selalu melihat Reni dari kejauhan. Sesekali ia akan menemui Reni dan memberikan beberapa hadiah seperti boneka, baju atau sepatu.
Ia sungguh ingat moments itu. Waktu itu Reni masih TK, Bardi menghampiri Reni dan memberikan Reni sebuah boneka Teddy Bear. Reni kecil sungguh senang. Namun anak kecil itu bertanya mengapa paman memberinya boneka. Bardi hanya menjawab kalau dirinya adalah orang baik yang suka bagi bagi hadiah kepada anak anak kecil. Beruntung Reni percaya. Bardi sungguh bahagia melihat putrinya menerima boneka pemberiannya dengan wajah bahagia dan mata yang berbinar.
Bardi mengusap air matanya setiap mengingat kejadian itu. Dan kemarin saat Reni di sini, Bardi pun tidak mendapat pengakuan dari Reni bahwa dia adalah ayah kandungnya. Bahkan putrinya sepertinya enggan melihatnya.
" Sepertinya aku harus pulang kampung untuk menemui pak Susmita dan istrinya."
Tampaknya Bardi bertekad akan mengakui langsung di depan kedua orang tua Priska bahwa Reni adalah darah daging nya. Ia sungguh ingin mendapat pengakuan dari Reni bahwa dia adalah ayah biologis gadis itu. Meskipun ia menyadari dia bukanlah sosok pria baik yang pantas di panggil ayah.
TBC