Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 54. Second Couple


Absen nya Radi di kampus yang sudah lewat 3 hari masih saja menjadi trending topik di kalangan mahasiswa. Semuanya masih sangat penasaran kemana perginya dosen tampan tapi killer itu. Hal tersebut karena Radi adalah satu satu nya dosen di kampus yang tidak pernah absen.


Dan kabar itu baru sampai di telinga Irene. Ya sejak beberapa hari kemarin Irene sangat sibuk dengan para mahasiswa bimbingan skripsinya sehingga dia tidak tahu apa yang menjadi hot news di kampus.


" Emang kemana tuh orang. Seumur umur jadi dosen baru kali ini dia absen. Apa mungkin dia sedang honeymoon sama istrinya. Sumpah, jadi penasaran sih siapa istri Radi si dosen killer itu. Apa dia bisa bersikap lembut sama istrinya? Eh kok jadi kepo sih. Nggak nggak, nggak boleh kepo sama urusan rumah tangga orang lain. Mereka mau seperti apa juga bukan urusanku. Ke tempat Dipta aja deh. Hari ini nggak ada jam mengajar ini."


Dosen cantik itu melenggang keluar dari ruangan nya setelah selesai melakukan sesi bimbingan skripsi hari ini . Dia berjalan dengan anggun menuju ke luar kampus. Tapi tiba tiba ada mahasiswa yang menghentikannya.


" Bu Irene?"


" Ya, ada apa?"


" Apa ibu tahu dimana pak Radi?"


" Eh, mana saya tahu. Coba kalain tanya ke bagian sekretariat. Mungkin mereka tahu kemana pak Radi pergi."


Irene langsung melenggang pergi. Entah mengapa ia cukup kesal saat ada ynag menanyakan Radi kepadanya.


" Aneh, dia siapaku? Mengapa mereka tanya kemana Radi kepada ku memangnya sesama dosen harus tahu gitu kemana rekannya pergi huft?"


Irene terus bermonolog sambil menuju mobil nya. Wanita cantik itu masuk lalu menyalakan mobilnya dan siap menuju ke kafe milik Dipta.


Di kafe, Dipta nampak uring uringan. Entah apa yang terjadi tapi yang jelas pria berusia 30 tahun itu terlihat begitu kesal hari ini. Tidak biasanya pria itu seperti itu. Selama ini dia selalu bersikap tenang dan berwibawa. Beberapa karyawan nya pun merasa heran. Bahkan Udin pun merasa bos nya ini sungguh sangat aneh.


" Huft, bos lagi kenapa sih? Macam cewek lagi PMS aja."


" Kenapa Din?"


Udin terjingkat, ia sungguh terkejut mendengar suara wanita di belakangnya.


" Astagfirullah Bu Irene, asli Bu Irene sungguh mengejutkan saya."


" Haish, saya bukan hantu. Ngapain kamu terkejut? Lagian kenapa ngedumel gitu?"


" Tuh si bos bu, dari tadi oagi semenjak datang ke kafe bawaannya uring uringan mulu. Nggak biasa biasanya di begitu bu. Ini kejadian luar biasa."


Irene tampak mencerna perkataan Udin. Lalu dosen cantik itu melihat ke arah Dipta. Ya, pria itu terlihat begitu kesal. Raut mukanya ditekuk. Irene pun segera menghampiri teman lamanya itu.


Tok tok tok


" Boleh masuk?"


" Eh kamu Ren, masuk masuk. Sorry nggak lihat kalau kamu datang."


" Iyalah, orang kamu nya lagi nggak ada di sini pikirannya. Entah lagi kemana nggak tahu. Mana muka kucel bener lagi kayak cucian kusut."


Dipta tergelak dengan selorohan yang dilontarkan Irene. Ia pun mempersilahkan Irene untuk duduk. Kini keduanya duduk saling berhadapan di ruang milik Dipta. Pria itu pun memanggil karyawannya untuk mengantarkan minuman ke ruangannya.


" Nggak ngajar emang?"


" Nggak, hari ini free. Tadi ke kampus cuma buat ngelayani yang minta bimbingan skripsi. Lagian di kampus lagi rame banget?"


" Kenapa emang?"


" Itu dosen yang biasanya rajin minta ampun ngedadak cuti. Beuuuh heboh satu kampus gara gara tuh dosen."


" Siapa emang?"


" Halah, aku kasih juga kamu nggak kenal. Nama nya Radi, putra pertama kelyarga Dwilaga."


Dipta hanya ber oh ria saat mendangar nama itu. Sedangkan Irene sedikit heran mengapa sepertinya Dipta kenal dengan Radi. Dipta pun menceritakan bahwa dirinya adalah teman Radi juga. Disitu Irene terkejut. Dunia seakan begitu sempit. Ternyata mereka memiliki circle pertemanan yang sama.


" Siapa?"


" Ya si Radi itu. Haissh, dia langsung deklarasi dong kalau dia udah nikah."


" Apa? Jadi dia beneran udah nikah. Haish dasar tuh orang ya, nggak pernah deket sama cewek. Sekalinya deket langsung dinikahi. Dan asal kamu tahu ya Ren. Cewek yang dia nikahi itu adalah cewek yang gue suka."


" Apa??? Ya Allaah takdir macam apa ini."


Keduanya tertawa terbahak bersama sama. Mereka sungguh tidak menyangka orang yang mereka taksir menikah. Mereka bagai prajurit yang harus mundur sebelum berperang karena sudah tahu bahwa mereka kalah.


" Oh iya kenapa kamu, kata Udin udah uring uringan aja dari pagi."


" Biasa Ren, mamaku. Minta buru buru aku nikah. Malah sekarang mau jodoh jodohin lagi. Hellooo ini bukan masa kerajaan kuno yang nyari pasangan hidup dari perjodohan. Sebel asli sama mama."


Irene terdiam, ia paham apa yang dirasakan Dipta. Dipta yang notabene nya seorang pria saja terus didesak, apa kabar dia. Terlebih usia Irene sudah 27 tahun. Kedua orang tuanya juga selau menanyakan kapan dia akan menikah.


" Ren aku ada ide?"


" Apa?"


" Jadi pacar pura pura aku ya?"


" Heleh, ogah. Dari pura pura entar malah kejebak jadi beneran."


" Hmmm, ya udah beneran aja gimana?"


" Maksudnya?"


" Nikah yuk?"


Jedeeer


Dipta sungguh absurd, bisa bisa nya dia mengajak nikah seperti orang ngajak makan. Irene hanya menggelengkna kepalanya perlahan. Ia semakin yakin bahwa teman lama nya itu dalam tahap stres yang mendalam.


" Jangan gila kamu Dip, nikah itu bukannya main main. Ini urusan hidup selamanya. Lagian aku ingin tuh nikah sekali seumur hidup. No cerai cerai club."


Dipta tersenyum dengan ucapan panjang irene. Ia sendiri juga heran. Mengapa ia bisa sefrontal itu mengajak Irene menikah. Tapi melihat lebih ke dalam dirinya ada sesuatu di sana yang ia rasakan. Ketika bersama Irene, ia bisa menjadi dirinya sendiri tanpa harus jaga image.


" Jika aku serius? Apa kau mau menerima ku?"


Dipta mengikis jarak antar keduanya. Pria itu meraih tangan Irene lalu menggenggamnya erat.


Deg


Seketika jantung Irene berdetak kencang. Ia belum pernah merasa seperti saat ini. Ia sedikit bingung, perasaan apa ini sebenarnya.


Dipta terus mengikis jarak hingga wajahnya hanya beberapa senti saja di depan wajah Irene.


Tanpa aba aba Dipta langsung meraup bibir Irene. Wanita itu sungguh terkejut, namun sejurus kemudian ia pun menikmati sesapan demi sesapan bibir Dipta. Keduanya mencari rasa mereka dari ciuman itu.


Dipta melepas pagutan nya, mereka mengambil oksigen sebanyak banyaknya.


" Maaf, tapi aku ingin mencari tahu. Apa yang ku rasakan."


" Lalu apa yang kau dapatkan Pradipta?"


Bukannya menjawab, Dipta malah kembali menyesap bibir Irene. Irene pun mengimbangi perhelatan lidah itu. Keduanya menemukan kenyamanan satu sama lain di sana.


TBC