
Pagi yang begitu cerah dan dingin pastinya. Hasna dan Radi tengah berjalan jalan disekitaran desa menikmati pemandangan yang indah. Kemarin saat sampai di kediaman kakek dan nenek Reni mereka tidak sempat untuk menikmati pemandangan. Karena mereka saat sampai sudah sangat sore.
" Huuuuufhhhhh ... udaranya seger banget ya Kak."
" He em ... Enak kayaknya kalau berlibur di hawa dingin begini. Kamu sukanya berlibur ke daerah dingin atau ke daerah panas?"
Hasna terdiam, jari tangan kanannya ia ketuk ketukan di dagu nya. Rupanya ia tengah memikirkan jawaban untuk pertanyaan Radi. Tapi Hasna tidak tahu jika tingkahnya itu membuat Radi gemas setengah mati.
Radi menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada orang di sana.
Cup ...
Pria itu mengecup sekilas pipi Hasna lalu secepat nya berjalan menjauh. Hasna terkejut ia pun berlari mengejar Radi.
" Kak, apa apa an sih. Malu kalo dilihat orang."
" Nggak ada yang lihat."
" Hiiis nyebelin, dasar dosen killer seenaknya sendiri."
Radi seketika berhenti dan membuat Hasna menabraknya.
" Hish,Kak!"
" Apa??"
" Nggak! "
Hasna memberengut dan memanyunkan bibirnya.
" Jika kamu masih manyun begitu, aku akan mencium mu di sini sekarang juga."
Hasna langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. Namun kemudian ia pun berkata lirih, "Dasar dosen mesum."
" Apa?!"
Hasna berlari dan Radi mengejarnya.
Ternyata interaksi manis Hasna dan Radi terekam oleh mata Yudi. Pria paruh baya itu tersenyum lebar. Ia sungguh bersyukur bisa melihat tawa sang putri kembali setelah semenjak kepergian sang ibu.
Ya Hasna tidak pernah terlihat begitu bahagia setelah kematian Melati. Dan kali ini Yudi bisa melihatnya saat Hasna bersama Radi.
" Papa harap kamu bahagia sayang, dan papa harap Radi adalah pria yang bisa menjagamu hingga akhir hayat nanti."
***
Setelah merasa semuanya beres, Yudi, Hasna dan Radi berpamitan untuk pulang. Hasna menawarkan Reni untuk tetap bersekolah di kota J namun Reni menolak.
" Tidak usah kak, aku mau di desa aja nemenin nenek dan kakek. Beliau berdua sudah tua kasihan."
Alasan Reni sungguh mulia. Rupanya gadis itu bisa berubah menjadi dewasa dalam sekejap mata.
" Reni benar benar berubah ya pa," ucap Hasna ketika mereka sudah berada di dalam mobil.
" Iya sayang, tidak ada yang tidak mungkin jika Allaah sudah berkehendak. Dia lah Tuhan yang bisa membolak balikkan hati manusia. Maka selalu lah minta perlindungan-Nya agar kita selalu diteguhkan hati kita.'
Hasna mengangguk begitu juga dengan Radi.
" Pa!"
" Hmmmm?"
" Bolehkah Hasna bertanya tentang sesuatu?"
Yudi mengangguk, ia menunggu apa yang menjadi pertanyaan dari sang putri.
" Pa, apakah papa mencintai mama nya Reni."
" Tidak, tidak pernah sedikitpun papa mencintainya. Semua yang papa lakukan semata mata karena Reni. Maafin papa ya yang sempat acuh padamu."
Hasna menggeleng, ia kini tahu dalam hati papa nya hanya ada sang mama. Hasna sungguh lega mengetahui semuanya.
" Yang lalu biarlah berlalu pa. Oh iya apakah papa akan mengusut kecelakaan mama?"
" Iya pasti, meskipun ini sudah terlewat lama tapi papa harus mencari keadilan untuk mama."
Hasna terdiam, kini ia sejenak memikirkan nasib papa nya ke depannya. Ia sekarang sudah menikah berarti dia akan ikut sang suami. Dengan kata lain papa nya akan hidup sendiri.
" Pa, jika papa menemukan seseorang yang menurut papa sesuai papa silahkan papa untuk menikah lagi."
" Kenapa Hasna bicara begitu?"
" Hasna cuma tidak ingin papa sendirian."
Yudi tersenyum, rupanya sang putri memikirkan dirinya. Ia bersyukur Hasna masih sangat peduli dan memperhatikannya.
" Tau nggak caranya biar papa tidak kesepian dan sendirian?"
Hasna menggeleng dan menyahut, " Tidak tahu pa. Apa itu?"
" Cepat cepat lah berikan cucu kepada papa biar papa tidak kesepian."
Ckiiit ...
Radi seketika mengerem mendadak membuat semuanya terkejut.
" Maaf Pa, maaf Has. Tadi di depan ada kucing. Papa dan Hasna tidak apa apa kan?"
" Tidak apa apa kak."
" Papa oke. Hati hati ya nak."
Radi mengangguk, sebenarnya tidak ada kucing yang melintas. Radi mengerem mendadak karena ucapan sang papa mertua.
"Huft. Bisa bisa nya papa bicara begitu, kan jadi syok,"gumam Radi dalam hati.
🍀🍀🍀
Setelah menempuh perjalanan yang sedikit lama itu pada akhirnya mereka sampai di rumah Yudi. Hasna dan Radi memutuskan untuk menginap di rumah Yudi malam ini.
" Baiklah istirahatlah kalian."
Pengantin baru itu pun mengangguk dan berjalan menuju lantai atas ke kamar Hasna. Sedangkan Yudi, dia tidak jadi masuk ke kamarnya.
Pria paruh baya itu berjalan menuju gudang. Ia mengambil buku album foto dan membawanya kembali ke kamar.
Haaah
Yudi membuang nafasnya kasar. Ia memindai ruangan kamarnya. Bayangan bayangan Melati muncul di sana. Yudi tersenyum namun seketika ia menangis.
Pria itu benar benar mumpahkan semuanya di kamar yang hening itu sendiri. Hatinya sungguh hampa, ia merasa hidup nya tak lagi berwarna.
" Mel ... "
Yudi tergugu menatap satu demi satu photo yang istrinya yang berada di dalam album tersebut. Senyuman Melati sungguh cantik selalu bisa menggetarkan hati Yudi.
" KKN sialan!!!"
Yudi menahan teriakannya dengan mencengkeram erat sprei kamar. Ia tidak ingin anak dan menantunya itu mendengar apa yang tengah ia katakan.
" Awas kau Priska. Jika kepergian Melati ada hubungannya dengan mu lihat saja aku akan membuatmu membusuk di penjara. Aku tidak peduli apapun itu. Aku akan mencari keadilan untuk mendiang istriku."
Yudi benar benar bertekad dengan keputusannya itu. Ia pun bangkit dari kasur lalu membuka laptop miliknya. Jika selama ini ia acuh terhadap rekaman kamera pengawas kini ia berinisiatif untuk membukanya.
Tak ... Tak .. Tak ...
Yudi memainkan jarinya di atas keyboard. Matanya memicing, ia lalu tersenyum sinis.
" Dasar jal*ng. Sekali mur*han tetap saja mur*han. Berani berani nya dia memasukkan pria lain ke rumah ku. Heh! Ayo lihat apa yang akan terjadi nanti."
Bukannya marah karena cemburu Priska membawa pria lain ke rumahnya. Yudi marah karena rumah Melati itu dijadikan tempat untuk Priska main gila.
Yudi pada akhirnya menyimpan semua rekaman yang berkaitan dengan interaksi Priska dan seorang pria itu. Ia rasa itu akan bisa menjadi barang bukti nantinya. Ia juga mengambil gambar pria yang menurutnya sangat jelas.
Setelah itu Yudi menulis sebuah email dan menyertakan gambar tersebut.
Dear Wild Eagle
Saya ingin meminta bantuan anda untuk mencari informasi orang tersebut serta mengawasinya.
Terimakasih.
Yudi pun menekan tanda kirim. Ia yakin Wild Eagle sebagai jasa penyedia kemanan dan detektif swasta mampu melakukan itu.
" Tinggal tunggu hasilnya."
TBC