
Jasmine sungguh risau. Hujan lebat di luar sana membuatnya semakin khawatir kepada sang putri. Dari tadi dia berjalan bolak balik dari pintu ke ruang tamu untuk melihat apakah putrinya akan pulang. Tapi ternyata nihil. Jasmine pun berusaha menghubungi ponsel Elisa tapi tidak bisa tersambung sama sekali. Sepertinya ponsel Elis apun mati.
" Sudahlah duduk, pusing aku melihatmu begitu."
" Diam kau, semua gara gara kau!"
" Tck terserah. Aku muak bicara dengan mu!"
" Aku lebih muak bicara dengan mu. Besok aku akan ke pengadilan untuk mengurus perceraian kita."
Pria itu acuh dan melenggang masuk ke kamarnya. Pria yang tidak lain suami Jasmine itu sungguh pria yang tidak punya hati. Ia benar benar pandai bersandiwara di depan sang putri. Tanpa pernah Elisa tahu, Jasmine setiap hari menangis karena tersiksa oleh sang suami.
Semuanya berawal dari kepergian sang putra. Elizar Eka Baskoro, saudara kembar Elisa. Dia meninggal saat berusia 15 tahun. Elizar meninggal karena terkejut mengetahui sang ayah bermain dengan wanita lain dan memukul sang ibu. Elizar saat itu lari dari rumah dan naas tubuhnya disambar oleh sebuah truk. Setelah itu Jasmine mencoba menutup rapat perlakuan sang suami kepada dirinya agar Elisa tidak seperti Elizar. Jasmine sungguh takut kehilangan putri satu satunya itu.
Kemelut dalam rumah tangga nya membuat Jasmine selalu urung untuk menghubungi sang ayah dan sang kakak. Dan kali ini dia kembali karena desakan ekonomi. Jasmine tidak pernah mendapatkan nafkah dari sang suami. Baskoro hanya memberi uang untuk keperluan anak anak nya saja. Sedangkan Jasmine ia mengelola toko bunga. Namun akhir akhir ini entah mengapa pelanggannya pergi menghilang. Jasmine juga membutuhkan uang itu untuk mengajukan gugatan cerai kepada Baskoro. Ia ingin segera lepas dari pria itu.
" Maafkan aku Kak Melati, sungguh maafkan aku."
Jasmine menangisi ketidakberdayaannya.
🍀🍀🍀
Pagi menjelang, sinar matahari menelusup jendela sebuah kamar yang ditempati Elisa. Ia pun mengerjapkan matanya kemudian menguceknya.
" Sial, aku terlambat. Matahari udah tinggi. Tapi ini baju siapa? Terus ini kamar siap?"
Elisa mengedarkan pandangannya. Ia kemudian mencoba menyalakan ponsel namun sial ponselnya tidak menyala. Gadis itu mengacak rambutnya dengan kasar. Tapi seketika dia mencoba mengatur nafasnya.
Dalam keadaan sepeti ini dia harus tenang. Ia mencoba mengingat apa yang terjadi namun nihil terakhir yang diingat hanya pertengkaran kedua orang tuanya lalu ia berlari, menangis dalam hujan dan setelah itu dia tidak ingat apapun. Tak ingin banyak menduga Elisa memilih segera keluar dari kamar dan segera pulang untuk mengklarifikasi apa yang ia lihat kemarin dari ayah dan ibunya.
Tak tak tak
Elisa berjalan pelan. Ia ingin segera keluar dari tempat itu.
" Apakah begitu cara mu berterimakasih terhadap orang yang menolong mu? Dengan pergi begitu saja tanpa pamit?"
Suara bariton seorang pria membuat Elisa sungguh terkejut. Ia membalikkan tubuhnya dengan cepat untuk melihat siapa gerangan pemilik suara tersebut.
Glek
Elisa menelan saliva nya dengan kasar. Suara bariton tadi berasal dari pria yang saat ini tengah bertelenjang dada. Otot otot perutnya terbentuk sempurna. Mata dan rambut yang berwarna coklat menegaskan pria tersebut berasal dari peranakan ras campuran.
" Ma-af tuan. Tapi saya haris buru buru. Saya sangat berterimakasih anda telah menolong saya. Tapi saya sungguh harus segera pulang."
" Ku tunggu ucapan terimakasih mu yang benar bocah!"
Elisa berlari sekencang mungkin. Ia merasa jika berlama lama di tempat itu nyawanya pasti akan terancam. Pria yang tadi dia lihat memanglah sangat tampan, tapi ada aura yang berbahaya dari dalam diri pria itu.
" Oh astaga, mengapa aku tidak bertanya siapa yang menggantikan baju ku? Apakah pria itu juga? Argh!!! Entahlah, bodo amat."
Gadis itu sedikit frustasi, tapi saat ini ia harus segera pulang alih alih memikirkan hal tersebut. Elisa mencari ojek dan segera pulang ke rumah. Sampai di rumah Elisa sungguh terkejut mendapati ibu nya berada di luar rumah dengan barang barang nya. Gadis itu pun berlari dan menghampiri ibu nya.
" Ibu, ada apa ini?"
Jasmine hanya bisa terisak, ia kemudian memeluk sang putri dengan erat. Wanita paruh baya itu pun mengatur nafasnya agar bisa berbicara dengan putrinya.
" Maafkan ibu ya nak. Maaf, ibu sungguh tidak bisa bersama dengan ayah mu lagi. Maaf jika semua yang ibu lakukan di depan mu selama ini adalah palsu."
Elisa masih tidak mengerti apa yang diucapkan Jasmine. Ia mencoba bertanya. Jujur dia sangat kecewa keluarganya menjadi seperti ini. Tapi dia sudah dewasa untuk bisa menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Elisa pun meminta Jasmine untuk menceritakan semua yang terjadi.
Setelah beberapa saat mendengarkan kini Elisa paham apa yang dirasakan sang ibu. Gadis itu tergugu, ia memeluk erat ibunya.
" Maaf maafkan El bu. El sungguh egois. El tidak pernah tahu ibu menelan rasa sakit itu sendiri."
Seketika gadis itu ingat dengan pria yang jadi pujaannya. Jika benar sang dosen sudah menikah dan dia ingin membuat perhitungan dengan istri sang dosen, apa dia tidak ada bedanya dengan wanita wanita yang dikencani sang ayah. Apa dia tidak akan di cap sebagai perusak rumah tangga orang?
Elisa menggelengkan kepalanya cepat. Rupanya obsesi itu sungguh menakutkan. Ia sepertinya harus mencoba untuk mengubur rasa sukanya kepada sang dosen. Meskipun sangat berat karena tujuannya untuk berkuliah waktu itu adalah untuk menjadi lebih dekat dengan Pak Dosen. Elisa tidak ingin nasib istri pak dosen pujaannya itu seperti ibunya.
Rupanya aku harus mengalah sebelum berperang. Aku tidka ingin menjadi wanita yang menyakiti hati wanita. Mana kemarin aku udah jahat lagi sama kakak itu, huft.
Elisa bermonolog dalam hati. Yang tadinya ia sungguh memiliki niat menggebu dan gencar untuk mengejar Radi, kini hal itu serasa menguap hilang.
" Terus kita mau kemana bu?"
" Kita akan ke rumah paman mu sebentar. Sebenarnya ibu malu, tapi sungguh ibu tak punya pilihan lain."
" Paman, paman yang mana? Mengapa ibu tidak pernah cerita?"
" Paman ipar tepatnya. Dia adalah suami kakak ibu. Selama ini ibu tidak pernah cerita. Jika ibu cerita, ayah mu akan sama sekali tidak memberi nafkah untuk kamu nak. Jadi ibu memilih untuk merahasiakannya."
Elisa menundukkan kepalanya. Ia pikir ayahnya begitu menyayanginya. Ternyata semuanya hanya ke pura-pura an.
Kehidupan seperti apa ini yang ibu jalani? Mengapa semuanya seperti drama istri yang disakiti?
TBC