Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 40. Mulai Terbuka


Pukul 5 sore mobil Radi sampai di desa milik kakek nenek Reni. Reni meminta Radi untuk parkir di halaman saja. Radi pun mengangguk setuju.


Keempat orang tersebut keluar dari mobil. Mereka sudah di sambut oleh kakek nenek Reni.


Reni mencium punggung kedua orang tua yang sudah lumayan renta itu diikuti oleh Yudi lalu Hasna dan Radi.


" Kakek, nenek, itu kak Hasna dan juga suaminya namanya kak Radi."


Sang nenek menatap wajah Hasna dengan lekat.


" Masya Allah cantik sekali persis seperti wanita yang beberapa tahun lalu ke sini."


Yudi dan Hasna saling pandang mereka yakin bahwa Melati pernah mengunjungi kediaman Priska.


" Ayo ayo masuk dulu. Kita ngobrol di dalam."


Sang nenek agak sedikit heran mengapa putrinya tidak ikut pulang. Tapi rasanya tidak pantas jika ia bertanya saat mereka baru tiba dari perjalanan jauh.


" Silahkan duduk nak Yudi dan neng Hasna juga suaminya."


" Terima kasih Bu."


Yudi pun duduk di kursi rotan diikuti oleh Hasna dan Radi. Sedangkan Reni dia berlalu ke kamarnya untuk menaruh barang nya.


Sang nenek membawa Reni untuk ikut serta ke dapur. Ada beberapa pertanyaan yang mengganjal di hatinya.


" Ren ... Kok mama mu tidak ikut pulang. Kamu pulang mau pindah atau hanya sekedar berkunjung."


Reni menghempaskan bokong nya pada dipan yang berada di dapur. Gadis remaja membuang nafasnya kasar.


" Nek, entah ini harus diceritakan kepada nenek atau tidak. Tapi Reni mau tanya apa Nenek tahu dengan orang yang bernama Bardi."


Sang nenek sedikit mengundurkan tubuhnya mendengar nama tersebut keluar dari mulut sang cucu. Dia pun memegang bahu Reni dan menatap lekat mata cucunya itu.


" Dari mana dari mana kamu mendengar nama itu Ren?"


" Mama ... Reni tahu dari mama. Bahkan Reni bertemu dengan orang itu nek."


Tubuh sang nenek limbung dan akhirnya ia terduduk di sebelah sang cucu. Sang kakek yang dari tadi mendengar pun akhirnya keluar dari balik pintu.


" Ren ... Bardi itu adalah mantan pacar mama mu."


" Ya betul kek, dan dia adalah ayah kandung ku."


" Apa???"


Kakek dan nenek Reni sungguh terkejut dengan ucapan sang cucu.


" Tidak ... Bagaimana mungkin. Siapa yang mengatakan? Bukan kah kamu anaknya nak Yudi. Apa Priska sebelumnya telah ... Dan ... Ya Allaah ... Mengapa anak itu bisa sebejat itu."


Sang kakek tergugu. Iya sungguh tak habis pikir dengan kelakuan Sang Putri.


Ya Bardi dan Priska dulu adalah sepasang kekasih. Namun karena status Bardi yang hanya seorang anak petani miskin membuat Ayah Priska tidak setuju dan melarang Bardi dan Priska bertemu. Namun rupanya mereka masih berhubungan secara diam diam. Hingga pemuda kota, yakni Yudi datang dan melakukan perbuatan hina itu. Setelah itu Priska tidak lagi berhubungan dengan Bardi.


Sang kakek langsung berjalan keluar dan menemui Yudi.


" Maaf ya Yudi saya harus menanyakan hal ini. Bagaimana waktu itu kamu bisa berhubungan dengan Priska."


Yudi terkejut begitu juga dengan Hasna dan Radi. Menanyakan hal itu sama saja mengorek luka Lama bagi Hasna dan mencoreng muka Yudi. Yudi sedikit melirik ke arah Hasna, sang putri mengangguk memberi tanda bahwa dia siap mendengarkan cerita.


Bruk ...


Kakek Reni menyandarkan punggungnya dengan keras di sandaran kursi. Iya memijit pelipisnya dengan kedua tangannya.


" Jika Reni memang benar anak Bardi berarti waktu itu kamu dijebak oleh Priska nak."


Yudi dan Hasna membuang nafasnya kasar. Di satu sisi keduanya lega namun di sisi lain keduanya merasa sakit hati. Bagaimana Priska bisa setega itu menghancurkan rumah tangga orang lain demi ambisinya sendiri.


" Oh iya pak, apakah istri saya pernah datang ke sini?"


" Jika perempuan yang kamu maksud adalah berwajah seperti putrimu ini ya waktu itu dia pernah ke sini. Tapi aku tidak tahu apa yang dia bicarakan dengan Priska."


Yudi mengusap wajahnya kasar. Dia menduga Apakah kecelakaan waktu itu ada hubungannya dengan kedatangannya kemari. Lalu apakah di saat-saat terakhir Melati tidak mau bertemu dengannya juga ada hubungannya dengan kedatangan istrinya itu ke desa ini. Hal tersebut bisa ia konfirmasi jika bertanya langsung kepada Priska.


Tek ... Tek ... Tek ... Duuuuugh ... Duuuugh ...


Suara beduk menggema menandakan sebentar lagi azdan magrib berkumandang.


" Baiklah nanti kita kembali bicarakan lagi. Lebih baik sekarang kita semua bersiap-siap untuk salat magrib. Nak Yudi entah ini masih pantas atau tidak namun jika benar status Reni adalah putri dari Bardi, kami sungguh sungguh minta maaf dengan apa yang dilakukan oleh Priska."


Yudi tidak bisa bereaksi apapun, karena dia harus membuat penyelidikan menyeluruh. Fakta Melati pernah datang ke tempat ini membuat Yudi merasa bahwa kecelakaan Melati tidak sesederhana kecelakaan pada umumnya. Hasna pun berpikir seperti itu juga. Dan ini semua haruslah bisa terungkap.


" kurasa skripsi ku akan tertunda."


Radi memikirkan sebelah matanya mendengar pernyataan Hasna.


" Kenapa bicara begitu?"


" Aku harus mengungkap apa yang sebenarnya terjadi dengan almarhumah mama kak? Kak, apakah tidak bisa membantuku dalam menyelesaikan skripsi."


Pletak ... Radi menyentil kening Hasna dengan jarinya. Hal tersebut membuat Hasna mengaduh.


" Jangan harap kamu bisa melakukan praktik nepotisme ya. Selain dospem mu aku memang suami mu. Tapi jangan pernah berpikir untuk kamu santai santai dalam mengerjakan skripsi. Kalau kamu malas aku akan tunda kelulusan mu sampai tahun depan lagi."


Hasna memberengut, sungguh suaminya ini adalah dosen yang begitu killer. Dia pikir ketika sudah jadi istrinya maka urusan skripsi akan jauh lebih mudah. Tapi ternyata tidak, semua tetap lah berjalan sesuai prosedur.


" Huft ... Dasar dosen killer. Baik dikit kek sama istri."


Radit terkekeh geli mendengar gerutuan Hasna. Seketika Radi mendekatkan bibirnya di telinga sang istri dan membisikkan sesuatu.


" Jika bab 1 dan 2 mu selesai minggu ini, ditambah laporan dari hasil penelitian mu maka akan ada hadiah untukmu?"


" Benarkah ... Janji ... Nggak bohong?"


Radi mengangguk, Hasna pun terlihat begitu bersemangat dan senang sekali.


" Baiklah, aku pasti bisa. Tunggu saja pak dosen mahasiswa mu ini pasti akan bisa menyelesaikannya."


" Baiklah saya tunggu di bimbingan akhir pekan ini."


" Siap pak."


Radi terkekeh geli, ternyata membuat gadis sembrono itu tersenyum dan begitu senang itu sangatlah sederhana.


" Aku akan selalu membuatmu tersenyum seperti ini Has ... "


TBC