
Yudi dan Hasna merasa ada sesuatu yang tidak beres dari pernyataan Reni. Keduanya saling pandang dengan tatapan penuh pertanyaan.
" Ya sudah pak, kak, aku akan pulang ke kampung. Sekali lagi aku minta maaf ya kak. Aku benar benar jahat sama kakak."
" Sudah tidak apa apa. Kamu masih remaja, masih labil jadi mungkin kamu sendiri tidak tahu apa yang sudah kamu lakukan."
Reni kembali memeluk Hasna. Ia merasakan kenyamanan di sana. Sangat jauh berbeda saat dia membenci Hasna dulu. Ya dia begitu membenci Hasna karena hasutan sang mama. Padahal selama hidup bersama Hasna sama sekali tidak pernah mengusiknya. Hasna selalu memilih menghindari konflik dengan nya ataupun dengan mama nya.
" Baiklah sekarang Reni pamit ya. Reni udah lega."
" Pa ... Sebaiknya kita antar Reni pulang. Bagaimana?"
Yudi paham dengan maksud Hasna. Sepertinya mereka harus menyelidiki. Yudi yakin pasti kakek dan nenek Reni tahu seandainya Melati memang berkunjung ke rumah mereka.
" Kamu izin dulu sama suamimu nak."
Hasna menepuk keningnya dengan pelan, ia lupa statusnya kini adalah wanita yang sudah bersuami. Hasna segera mengambil ponselnya dan menekan kontak suaminya.
" Hallo, Assalamualaikum Kak."
" Waalaikumsalam kenapa Has?"
" Begini Kak aku mau mengantar Reni pulang ke kampungnya sama Papa boleh nggak."
" Apa ... Tunggu tunggu aku pulang."
Tuuuut ... Radi memutuskan panggilannya sepihak. Hasna sungguh bingung dengan sikap suaminya itu.
" Kenapa nak?"
" Suruh tunggu katanya pa."
" Ya sudah tunggu saja dulu."
Di kampus Radi segera membereskan buku bukunya. Saat ini dia sedang berada di ruangannya dan siap siap mengajar. Namun telepon Hasna rupanya membuatnya tidak jadi masuk kelas. Radi memanggil asistennya untuk menggantikan dia mengajar di kelas.
" Hallo kamu bisa ke ruangan saya."
" Siap bisa pak."
Seorang mahasiswa berlari menuju ke ruangan Radi. Ternyata Radi sudah berdiri di depan pintu.
" Hari ini tolong kamu gantikan saya ya untuk mengejar kelas. Saya ada sesuatu yang urgent, Jadi saya harus pulang."
" Baik pak, ada lagi tidak."
" untuk jam setelah makan siang kelas saya yang satunya tolong berikan tugas ini kamu bisa kan?"
" Siap bisa pak."
" Bagus, terimakasih ya."
Setelah memberikan penjelasan kepada asistennya Radi pun segera berlari menuju mobilnya. Mahasiswa yang menjadi asistennya itu sedikit heran dengan tingkah sang dosen. Selama ini Radi tidak pernah meninggalkan kelasnya, hal ini bisa menjadi sebuah rekor. Namun mahasiswa itu tidak mau berpikir yang macam-macam, dia langsung menuju kelasnya dan melaksanakan tugas yang diberikan oleh Radi.
Ckiit ... Radi memarkirkan mobilnya tepat di depan pintu.
" Has ... Hasna ... !!!"
Sesampainya di rumah Radi langsung buru buru masuk ke rumah dan memanggil sang istri. Melihat sang papa mertua Radi memberi salam dan mencium tangan Yudi.
" Apakah benar mau mengatar Reni ke kampung Pa?"
" Iya Rad, ini kita mau jalan."
" Biar Radi yang supirin, papa duduk aja nanti."
" Makasih ya Rad."
Hasna turun dari lantai atas sedikit terkejut melihat dosen killer nya itu sudah ada di rumah.
" Kak, cepet banget sampainya. Ya udah kita berangkat ya kak."
Hasna hanya melihat Radi yang berlalu menuju ke kamar. Tak lama pun Hasna mengikuti sang suami menuju kamarnya.
" Kakak mau ikut ... Ah ... !!"
Hasna berteriak saat Radi membuka seluruh pakaiannya dan hanya menyisakan kain penutup segitiga di area pribadinya. Radi pun berlari cepat dan menutup mulu Hasna dengan tangannya.
" Sttt ... Jangan berteriak. Nanti dikiranya kenapa lagi."
Hasna mengangguk Radi pun melepaskan tangannya dari mulut Hasna.
Deg ...
Jantung Hasna berdetak cepat saat melihat tubuh atletis sang suami. Perut Radi bak roti sobek yang siap untuk dimakan. Hasna menelan saliva nya dengan kasar.
" Oh ya Allaah, iman kuat nggak nih lihat roti sobek kayak gitu. Buseet deh suami gue itu."
Radi yang sadar tubuhnya menjadi pusat perhatian sang istri akhirnya memiliki ide untuk menjahili Hasna. Radi menarik tangan Hasna dan menaruhnya di perutnya.
Hasna terperangah namun seketika ia langsung meraba perut Radi.
" Apakah tubuhku sangat bagus hmmm ... "
Hasna spontan mengangguk, dan Radi tertawa menanggapi hal tersebut. Hasna terus meraba perut Radi dan naik ke dada bidang sang suami.
" Ya Allaah, dosa nggak sih gue begini," batin Hasna.
Radi merasa sentuhan Hasna sungguh lembut. Yang tadinya ia mau mengerjai istri kecilnya itu rupanya malah membuatnya kelabakan. Radi berkali kali menelan saliva nya dengan kasar.
Bibir ranum Hasna sungguh menggodanya. Ia pun menarik pinggang Hasna hingga menempel di tubuhnya. Ibu jarinya mengusap bibir sang istri dengan lembut.
" Apakah boleh?"
Radi meminta izin terlebih dahulu, Hasna mengangguk. Radi pun meraup bibir Hasna, meskipun itu pertama bagi mereka namun keduanya sama sama melakukan dengan insting masing masing. Hasna sudah mengalungkan kedua tangannya di leher sang suami.
Radi sedikit menggigit bibir bawah Hasna agar istrinya itu membuka mulutnya.
Lidah Radi menerobos ke rongga mulut Hasna. Pertarungan lidah dan pertukaran saliva pun terjadi diantara keduanya. Radi dan Hasna lupa jika mereka tengah ditunggu di dawah. Mereka menikmati permainan adu bibir itu.
Tangan Radi mulai menelusup ke dalam baju dan membelai punggung sang istri. Ia melepas pagutannya dan beralih mencium leher Hasna. Tangan Radi terus membelai punggung mulus itu. Sesuatu di bawah sana sudah mulai menegang.
Tok ... Tok ... Tok ...
Suara ketukan pintu kamar membuat keduanya melepaskan diri satu sama lain. Nafas mereka masih terengah.
" Kak, Hasna, sudah ditunggu. Kalian sudah selesai belum beberesnya?"
" Ekhem ... Iya bund. Ini lagi masukin baju. Bentar lagi kakak sama Hasna turun."
" Oke, buruan ya."
Setelah mendengar suara langkah kaki menjauh, Hasna dan Radi menghela nafas kelegaan. Radi pun langsung mengambil baju ganti.
" Aku ganti baju dulu."
" I-iya kak, aku masukin beberapa baju kakak ke dalam tas, takutnya di sana kita bakalan nginep."
Radi mengangguk, suasana canggung tercipta namun keduanya tersenyum saat tidak saling memandang. Hasna menyentuh bibirnya dengan jarinya.
" Ciuman pertama ku, ya Allaah kek gini kah rasanya."
Hasna menggelengkan kepalanya, mencoba mengusir bayangan ciuman panas yang mereka lakukan tadi.
Sedangkan di kamar mandi, Radi mengatur nafasnya yang masih naik turun.
" Ya Allaah begitu to rasanya ciuman. Bibir bocah sembaragan itu kenapa bisa membuatku selalu ingin menciumnya. Dan apa tadi, tanganku bisa reflek gitu. Kulit Hasna sungguh halus, dan kau ... Kenapa kau bisa jadi keras gitu. Haish ... Ini lah reaksi tubuh akibat lonjakan hormon testoteron. Tapi ini tidak salah kan, kami sudah menikah jadi tidak masalah melakukan hal itu."
TBC
Tiga bab nih readers ... Terus dukung othor ya .. Jangan lupa loh. Biar semangat ini nulisnya hehehe. Terimakasih, matursuwun.