
Di sebuah kamar hotel dimana Hasna dan Radi sedang menikmati liburan terasa begitu sunyi. Tampaknya mereka berdua tengah tertidur setelah lelah berjalan jalan sesore penuh. Keduanya begitu lelap hingga salah satu dari mereka menggeliat. Ya, Hasna terbangun di tengah malam.
Ia melihat arloji milik sang suami yang ada di atas nakas. Waktu menunjukkan pukul 01.00 malam WITA. Hasna tiba tiba merasa lapar. Beruntung sore tadi setelah berjalan jalan mereka membeli beberapa camilan dan roti. Ia bangun dari tempat tidurnya dan mengambil beberapa snack dan roti. Ia pun berjalan pelan menuju ke samping kolam renang secara perlahan agar tidak membangunkan sang suami.
" Huft, jam segini laper. Kalau di rumah langsung cus bikin mie instan dikasih telur plus cabe rawit beeeh manteb bener dah. Tapi ini, ya sudah lah yang aja ada. Eh maksudnya yang ada aja hehehe."
Hasna bermonolog dan mulai membuka roti lalu memakannya. Ia sungguh tidak menyangka bisa berada di tempat ini saat ini. Hasna melirik sang suami ia, kemudian ia tersenyum.
" Suami dosen killer ku. Terimakasih ya untuk liburannya. Meskipun baru saja mulai tapi sungguh aku bahagia."
Hasna menerbitkan senyum nya, kemudian ia menatap langit malam. Di sana terlihat begitu indah dengan hamparan bintang yang berkerlap kerlip.
" Indah."
" Tapi tetap lebih indah kamu."
Hasna sungguh terkejut mendengar suara yang berada di belakang tubuhnya. Hasna pun seketika langsung menoleh.
" Astagfirullaah kak. Bagaimana kakak bisa di belakangku? Bukannya tadi kakak masih tidur?"
" Guling ku nggak ada bagaimana aku bisa tidur."
Hasna memberengut mendengar ucapan Radi karena ia dianggap sebagai guling oleh sang suami. Radi pun akhirnya ikut duduk di sebelah Hasna dan ikut memakan snack yang di ambil Hasna tadi. Radi juga membawa air mineral.
" Kenapa bangun?"
" Laper kak."
" Mau cari makan?"
" Nggak usah kak, ini cukup."
Radi mengangguk, matanya memandang langit. Sejujurnya pemandangan seperti ini sungguh langka bisa dia lihat. Radi yang selalu sibuk bekerja tidak pernah menyempatkan diri untuk berlibur. Bukannya tidak pernah, tapi lebih tepatnya sangat jarang. Jadi liburan kali ini ia sungguh sungguh akan menikmati nya. Terlebih ada istri, tentu saja liburannya akan semakin menyenangkan.
" Sepertinya kakak sangat sennag melihat bintang bintang itu," ucap Hasna seraya melirik ke arah suaminya.
Radi hanya tersenyum. Kini pandangan nya ia alihkan ke wajah sang istri. Ia pun mengusap lembut pipi mahasiswa ceroboh yang sekarang jadi istrinya itu.
" Ya, aku memang sangat senang melihat bintang bintang di langit malam itu. Tapi aku lebih senang melihatmu. Terlebih jika kamu tidak mengenakan apapun."
Glek
Hasna menelan saliva nya dengan kasar. Selama mereka sampai di pulau ini kata kata Radi selalu absurd di dengar oleh telinga Hasna. Ia pun hanya tersenyum kaku. Hendak menghindari pembicaraan yang bagi dia sudah entah kemana itu, Hasna pun berdiri. Namun sial, Radi lebih cepat menarik tangan Hasna hingga ia terduduk di pangkuan sang suami.
" Mau ke mana hmm? Kau tidak akan bisa kabur malam ini."
Bisikan suara Radi yang berada tepat di telinga Hasna membuat bulu kuduknya meremang. Tanpa berlama lama Radi pun langsung menyambar bibir ranum sang istri. Pertarungan lidah pun tak dapat dielakkan. Hasna pun sudah memejamkan matanya menikmati setiap sesapan dan lum***n bibir sang suami. Tangan Hasna juga sudah mengalung di leher suaminya.
Begitu juga Radi, tangannya mulai bergerilya di tubuh sang istri. Tentu saja dia mencari benda benda favoritnya. Mulai yang empuk hingga yang basah. Ciuman Radi pun sudah merembet kemana mana sambil melucuti satu per satu pakaian yang menempel di tubuh sang istri. Ia melepas sejenak bibirnya dari kulit mulus istrinya dan memandang tubuh itu dengan seksama.
" Cantik, semua nya cantik dan pastinya milikku. Apa kau siap?"
Wajah Hasna merona, saat mata Radi memindai setiap sisi tubuh nya. Ada rasa malu ketika Radi melihatnya dengan mata yang berbinar. Bak seorang yang kelaparan melihat makanan dan tidak sabar ingin memakannya. Namun secepatnya Hasna mengangguk mendengar pertanyaan Radi.
Mendapat lampu hijau, Radi pun membuka kaosnya. Ia lalu mengangkat tubuh sang istri menuju ke ranjang dan mengulang lagi sesi mengabsen tubuh istrinya dari atas sampai bawah menggunakan bibirnya.
" Aku mulai ya?"
Setelah melafalkan doa, Radi membuka lebar kaki Hasna dan memulai acara inti dini hari itu. Ia langsung mengarahkan miliknya menuju rumah yang sudah sangat siap itu.
Akh!
" Tahan sayang, ini sedikit sakit di awal."
Tak ingin gagal Radi kini mencobanya lagi dengan membuat sedikit penekanan.
Aaakh !
Hasna memekik, ia mencengkeram erat sprei dengan kedua tangannya. Ia merasa miliknya baru saja di bobol oleh benda yang besar
Astaga, sebesar apa punya kak Radi. Mengapa rasanya begitu penuh dan ini sakit, batin Hasna.
Radi langsung membungkam bibir Hasna dengan bibirnya. Ia ******* nya dengan lembut agar sang istri lebih merasa rileks. Dirasa istrinya cukup nyaman Radi kembali fokus ke bawah. Kini ia mulai bergerak sesuai ritme. Hasna yang semula merasa sakit kini rasa sakit itu berubah menjadi rasa yang tidak bisa ia gambarkan. Ia pun menikmati apa yang suaminya lakukan.
" Kak, aku mau ~."
Radi paham dengan ucapan sang istri. Ia pun menambah ritme gerakannya hingga keduanya meng*r*ng bersama. Sesuatu berhasil Radi muntah kan ke dalam rahim sang istri.
Bruk
Radi ambruk di atas tubuh Hasna, nafas keduanya terengah engah. Ia membiarkan miliknya bertamu di rumah istrinya lebih lama.
" Terimakasih sayang,"
Radi membelai wajah sang istri dan mencium kening istrinya itu dengan lembut. Ia kemudian menarik benda pusaka nya dan menutupi tubuh keduanya dengan selimut. Radi memeluk Hasna dengan posesif. Berkali kali ia menciumi pucuk kepala istrinya. Ada rasa yang tidak bisa ia gambarkan.
" Has, entah ini namanya cinta atau bukan yang jelas aku sungguh menyayangi mu. Mari hidup bersama selamanya."
" Aku juga sayang kakak, dan mari hidup bersama. Bimbing aku yang masih banyak kurangnya sebagai istri."
" Ingatkan aku jika aku belum bisa menjadi suami yang baik."
Radi memeluk erat istrinya. Keduanya saling menyalurkan perasaan yang ada di hatinya.
" Sayang!"
Blush
Hasna merona dengan panggilan sayang Radi terhadapnya. Telinganya masih belum terbiasa mendengar itu.
" Apa kak?"
" Ternyata enak, mau lagi."
Hasna membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Radi yang lebih terdengar seperti rengekan. Keduanya pun mengulang lagi sesi panas yang tadi. Malam itu menjadi saksi rasa cina sepasang suami istri yang yang dipertemukan oleh hal yang tidak terduga.
TBC