
Radi dan Hasna tengah duduk bersandar di dashboard tempat tidur. Radi tengah membaca buku sedangkan Hasna mencoba menulis bab baru novel online nya yang sudah lama menggantung. Hari ini dia benar benar libur mengerjakan skripsi.
" Apa yang kamu lakukan sayang?" tanya Radi sambil menaruh bukunya di atas nakas.
" Melanjutkan bab novel online yang sudah lama hiatus kak. Udah di teriakin para readers nih karena lama banget nggak up," jawab Hasna tanpa mengalihkan pandangan nya dari ponsel miliknya.
" Lalu apa judu novel mu itu?" tanya Radi kembali.
" Dosen Killer itu suamiku," jawab Hasna singkat.
Radi sedikit memicingkan matanya. Pria itu kemudian mengambil ponsel istrinya itu dan membaca sekilas apa yang sudah ditulis sang istri. Radi semakin mengerutkan kedua alis nya saat membaca sebuah tokoh yang karakternya itu seperti dirinya.
" Apakah ini aku?"
" Eh mana ada."
Hasna berkilah, ia mengambil kembali ponsel miliknya dari tangan sang suami. Ia tidak ingin suaminya tahu jika tokoh utama pria itu terinspirasi dari sang suami. Tapi ternyata lebih gesit Radi sehingga Hasna terjatuh di dada sang suami.
" Kak balikin, aku baru dapat setengah bab itu."
" Bilang dulu, kakak ganteng sayang nya aku balikin ponselnya dong, gitu."
Hasna membelalakkan matanya. Bagaimana sang suami bisa senarsis itu. Hasna hanya menggeleng pelan.
" Kalau nggak mau ya udah. Nggak usah lanjut lagi nulisnya."
Radi tersenyum kecil. Ia sangat senang melihat ekspresi kesal Hasna. Pipi Hasna akan menggembung jika kesal dan Radi sungguh sangat suka melihatnya. Ia semakin gemas dengan istrinya itu. Radi bahkan mulai mencubit pelan pipi istrinya, membuat Hasna tambah kesal.
" Ayolah kak berikan ponselnya."
" Bilang dulu baru aku berikan."
" Huft, kakak ganteng sayangnya aku balikin ponselnya dong, udah kan."
" Maaf sayang telat."
Radi meraup bibir sang istri. Ciuman itu semakin dalam dan menggebu. Tanpa Hasna sadari baju miliknya sudah tidak lagi ada ditubuhnya. Ia mendes*h kuat saat bagian bagian sensitif nya jadi mainan lidah Radi.
" Kaaaak!"
" Aku mulai sayang."
Acara meminta ponsel berubah menjadi acara olah raga yang menguras tenaga dan keringat. Keduanya beradu di atas ranjang hingga tadinya suara obrolan dari kamar itu berubah menjadi er*ng*n dan des*h*n.
Keduanya pun ambruk setelah sampai pelepasan. Mereka kembali meneguk kenikmatan dunia yang halal.
" Terimakasih sayang, kamu sungguh jadi candu buatku."
Hasna hanya tersenyum kecil sambil mencium bibir Radi sekilas.
" Jangan menggodaku, nanti aku minta ronde yang kedua lho."
" Siapa yang menggoda kakak."
Hasna menggulung tubuhnya dengan selimut menjadi seperti lemper membuat Radi tertawa terbahak bahak.
" Jadi, masih mau lanjut nulis novelnya?"
" Udah ilang ide nya kak."
" Tinggal tulis aja apa yang kita lakukan tadi biar para pembaca kepanasan."
Hasna menggelengkan kepalanya pelan. Benar benar tingkat kemesuman sang suami meningkat semakin pesat. Kini Radi sudah mulai menarik selimut yang menggulung tubuh Hasna. Ia pun mulai mengusap usap punggung mulus istrinya itu. Jika sudah begitu bisa dipastikan ronde kedua akan segera di mulai.
🍀🍀🍀
Seorang gadis tengah terisak di sepanjang jalan. Ia sungguh tidak tahu bahwa selama ini kehidupan rumah tangga ayah dan ibu nya tidak baik baik saja dan tentu saja jauh dari kata harmonis.
Ya gadis itu adalah Elisa. Elisa benar benar menumpahkan rasa sakit yang dia rasakan saat ini. Ayah yang di anggap sebagai super hero dalam hidupnya tak jauh berbeda dengan seorang buaya darat yang bahkan tega membawa wanita lain ke dalam rumah nya. Ayah yang dia selalu puja puja dan banggakan kepada teman temannya ternyata hanyalah seorang pria bejat yang tega menyakiti hati ibu nya. Elisa duduk di pinggi jalan.
Suara petir tiba tiba menyambar. Hujan pun sungguh turun tanpa permisi. Air mata Elisa menjadi satu padu dengan air hujan yang membasahi tubuhnya. Gadis itu semakin keras menangis.
" Huaaaaa, dasar pria jahat huhuhu. Mengapa kau sungguh jahat dan brengsek!!! Bajingan huhuhu!"
Elisa terus menerus menangis ditengah hujan yang begitu deras.
" Sialan kenapa hujannya malah tambah deras sih. Huh, ya Allaah apakah kau juga sedang menghukum ku? Memangnya apa yang ku perbuat?"
Elisa terus mencercau tidak karuan dibawah guyuran langit hujan. Tak ingin berlama lama ia pun bangkit dari duduknya dan mulai berjalan perlahan. Namun sial, ia merasa kepalanya berdenyut dan bruk, gadis itu jatuh tak sadarkan diri.
Sebuah mobil yang melintas tiba tiba mundur kembali. Si pengemudi tadinya ingin cuek namun rupanya dia tidak tega melihat gadis tersebut.
Pengemudi itu pun turun dari mobilnya lalu mengangkat tubuh sang gadis.
" Haish mengapa sih harus peduli. Gara gara tuh anak. Yang tadinya aku adalah orang yang malas berurusan dengan hal kecil seperti ini jadi sekarang merasa tidak tega jika ada orang susah begini. Huft, sialan!"
Pengemudi tersebut memaki namun tetap menolong Elisa. Ia memasukkan tubuh Elisa dan membawa nya pergi bersamanya. Sepanjang perjalanan ia berpikir sebenarnya siapa gadis ini dan mengapa dia menolongnya.
Pengemudi tersebut membawa Elisa ke apartemennya. Ya meskipun dia tidak selalu menetap di kota ini tapi dia memiliki sebuah hunian untuk sekedar singgah.
Pengemudi itu merebahkan tubuh Elisa di sofa. Kini dia bingung bagaimana melepaskan baju gadis yang ada di depannya itu agar si gadis tidak demam karena kedinginan. Dia tidak mungkin melepas baju seorang gadis. Meskipun dia bukan orang suci alias sudah sering melihat tubuh wanita bahkan bermain main dengan mereka namun menel*nj*ngi gadis yang tidak berdaya tentu saja bukan gayanya.
Lagian selama ini dia melakukan itu hanya terhadap wanita wanita yang menyerahkan tubuhnya kepadanya. Pengemudi tersebut masih berpikir bagaimana membuka baju Elisa.
" Lebih baik ku cari dulu identitasnya."
Pengemudi itu lalu mengambil tas Elisa dan mencari dompet. Ia menemukan nya lalu mengeluarkan sebuah kartu mahasiswa.
" Elisa Dwi Baskoro. Elisa? Nama yang bagus."
Setelah mengetahui identitas Elisa, pengemudi tersebut mengambil ponsel si gadis. Tapi ternyata zonk, ponsel Elisa mati. Pria itu pun mengusap wajahnya dengan kasar.
" Haish sepertinya aku harus menelponnya untuk membantuku. Huft!"
Pria itu mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang ia kenal. Ia harap ornag tersebut mau datang ke apartemennya dan mau membantunya.
Tak lama orang yang ditunggu pun datang. Wanita itu bersungut sungut saat ditelpon malam malam hujan deras begini.
" Kau datang kemari bukannya menemui ku malah ke apartemen bawa gadis kecil."
" Shut up Si, aku malas. Kalau datang kau pasti minta aneh aneh dnegan alasan ponakan minta ini ponakan minta itu. Parah kau Si, masih dalam perut selalu kau fitnah."
Pletak
Wanita yang dipanggil Sisi itu memukul kepala saudara lelakinya. Ia terlihat kesal. Namun secepatnya ia membantu sang adik untuk untuk mengganti baju Elisa.
Tidak mau Silvya salah paham, pria itu pun menjelaskan kronologis kejadiannya saat ia menemukan Elisa.
" Jadi begitu ceritanya Si?"
" Ya Ya aku paham, kenapa kamu tak pulang ke rumah Ar?"
" Besok baru aku mau ketempat mommy dan daddy. Lalu mana kaka ipar?"
" Sedang tugas malam."
Akhirnya Silvya memutuskan untuk menginap. Arduino sendiri tidak tega membiarkan sang kakak yang tengah hamil itu pulang saat hujan masih begitu deras.
Ar kembali melihat wajah Elisa. Ada sesuatu di dalam gadis itu yang membuat Ar penasaran
TBC
Hay readers jangan lupa dukungannya ya.
Oh iya disini Ar hanya cameo ya jadi jangan minta cerita Ar lebih banyak lagi hehehe.
Terimakasih, Matursuwun.