
Radi dan Hasna kini sudah berada di apartemen. Ya, stelah mengutarakan maksud untuk hidup berpisah setelah menikah dengan keluarga Dwilaga dan semua menyetujui mereka berdua pun mantab untuk menjalani biduk rumah tangga berdua.
Setelah isya Hasna kembali berkutat dengan laporan skripsinya. Sedangkan Radi ia tengah memeriksa hasil tugas dari para mahasiswanya.
Hasna tampak serius, ia menyemangati dirinya sendiri agar bisa menyelesaikan bab 1 dan 2 serta laporan hasil penelitiannya di akhir pekan ini. Janji Radi yang akan membawanya pergi liburan menjadi salah satu penyokong nya.
Radi melihat sang istri dengan seksama, ia meletakkan kertas kertas tugas itu lalu beranjak dari duduk nya dan berjalan menuju ke dapur. Radi mengambil dua buah cangkir lalu menekan mesin pembuat kopi otomatis dan mengisi cangkir tersebut.
Pria itu kembali dengan membawa dua cangkir kopi tersebut dan menyerahkna satu diantaranya untuk snag istri.
" Minumlah dulu, biar mata lebih segar."
Hasna menerima pemberian Radi dan tersenyum.
" Terimakasih pak dosen."
Radi menggelengkan kepalanya pelan mendengar ucapan istrinya. Keduanya menikmati kopi malam itu diantara banyaknya kertas dan buku berserakan. Ruang tamu apartemen tak ubahnya seperti perpustakaan dadakan.
Ting ... Tong ...
Suara bel pintu apartemen terdengar. Keduanya saling pandang lalu sama sama sama berdiri dari duduknya.
" Sekarang udah jam 11 siapa ya kak yang datang?"
" Entah, aku lihat dulu."
Radi berjalan menuju pintu, Hasna yang kepo pun mengekor.
Mereka berdua melihat dari layar monitor yang ada di dalam. Kosong, tak ada seorang pun di depan pintu mereka.
" Kak, apa orang itu orang yang sama dengan orang waktu itu?"
" Entahlah, besok aku akan cek ke pihak apartemen untuk melihat rekaman kamera pengawas."
Hasna mengangguk lalu ia berjalan terlebih dulu meninggalkan Radi yang masih berdiri di sana.
Sebenarnya siapa dia dan apa mau nya. Mengapa seperti pengganggu, aku sungguh penasaran dia punya urusan sama aku atau sama Hasna? Radi bergumam sendiri lalu memutuskan menyusul sang istri dan segera menyelesaikan pekerjaannya.
Waktu menunjukkan pukul 2 dini hari dan Radi baru selesai memeriksa semua tugas milik para mahasiswanya. Tampak Hasna sudah tertidur dengan posisi duduk dan kepala di taruh di meja.
Radi pun mengangkat tubuh sang istri dan membawanya ke kamar. Ia menaruh Hasna dengan perlahan lalu membenarkan selimutnya. Radi mengecup sekilas kening istrinya itu.
" Tidurlah, aku tahu kamu memaksakan dirimu untuk segera selesai karena janji yang ku buat."
Sejujurnya Radi merasa bersalah dengan ucapannya. Namun ia terlanjur berjanji. Esok ia akan mengajukan cuti, selesai atau tidak ia akan tetap membawa Hasna pergi berlibur.
🍀🍀🍀
Di kampus Radi tengah bersiap siap mengajar. Ia pun berjalan ke luar ruangan namun tiba tiba langkahnya terhenti saat ada Irene di depannya.
" Ada apa bu Irene, apakah ada yang bisa saya bantu?"
" Pak, maaf. Apakah kita bisa berbicara nanti saat jam makan siang?"
Radi terdiam sejenak, otaknya tengah mencerna dan menganalisa sesuatu. Ia membuat pertimbangan antara menyetujui ajakan rekan kerja nya itu atau tidak.
Irene mengamati Radi namun seketika dia terkejut saat melihat cincin yang melingkar di jari manis pria idamannya itu. Tiba tiba dadanya sesak. Meskipun Radi tidak mengatakannya tapi Irene cukup pintar menebak. Cincin itu bukanlah hanya aksesoris semata, itu seperti cincin pernikahan ataupun cincin tunangan. Namun Irene mencoba untuk tenang.
" Bagaimana Pak Radi?"
Radi menghela nafasnya dengan berat, ia sudah mengambil keputusan.
"Maaf bu saya tidak bisa."
Irene mencoba untuk memperjelas dugaannya. Ia pun menanyakan alasan mengapa Radi menolak.
" Mengapa tidak bisa pak, apakah bapak ada acara?"
" Maaf Bu Irene, saya tidak bisa memenuhi ajakan ibu. Saya tidak mau istri saya salah paham nantinya. Jika ada yang mau dibicarakan soal pekerjaan datanglah ke ruangan saya.'
Deg
" Ooh pak Radi sudah menikah. Selamat ya pak. Mengapa tidak membuat acara?"
" Maaf bu, ini adalah acara privat. Hanya keluarga saja. Baiklah bu saya harus ke kelas dulu. Permisi."
Radi segera berlalu, ia tidak ingin berbicara banyak dengan Irene. Radi tahu bahwa Irene menaruh hati kepadanya. Makanya ia berusaha untuk menghindar dari wanita itu. Dia dan Hasna baru memulai untuk saling menerima dia tidak mau ada yang mengganggu hubungan dia dengan istrinya.
Sepeninggalannya Radi Irene tertunduk lesu. Ia berjalan dengan lunglai menuju ke ruangannya. Kebetulan sekali pagi ini dia tidak ada kelas dia baru akan mengejar nanti setelah dzuhur.
Irene pun masuk dan menghempaskan tubuhnya ke sofa.
Huuuuuh , wanita cantik itu membuang nafasnya dengan kasar. Rupanya keinginan untuk bersanding dengan pria idamannya gagal. Seketika ia teringat dengan Dipta.
" Haish, Dipta lagi apa ya? Dia di kafe nggak ya? Apa aku ke sana aja? Lagian kelas masih nanti siang."
Irene pun menyambar tas dan kunci mobilnya ia mantap untuk menuju ke kafe milik Dipta. Menurutnya berbicara dengan Dipta mampu mengubah suasana hatinya.
Hanya butuh waktu 30 menit ini sudah sampai di kafe. Jam baru menunjukkan pukul 08.30, belum ada tamu yang datang karena kafe buka pukul 09.00. Namun beberapa karyawan ternyata sudah banyak yang datang.
" Permisi selamat pagi apakah Diptanya sudah datang? Eh, Kamu Udin kan?"
" Laaah bu Irene. Kok bisa di sini?"
" Iya mau ketemu sama Dipta."
" Bu Irene temannya mas Dipta?"
Irene mengangguk namun seketika dia ingat Udin adalah mahasiswa bimbingan skripsinya.
" Din, kamu bukannya mahasiswa bimbingan saya. Mana bab 1 kamu. Ngajuin judul doang tapi suruh ngajuin bab 1 nggak juga datang datang. Nanti ku pending lho sidangnya."
Glek
Udin menelan saliva nya dengan kasar. Pagi-pagi seperti ini dia sudah ditagih oleh dosen pembimbingnya tentang bab 1 skripsi.
Apes apes Kenapa juga sih ini dosen temenan sama bos gue, batin Udin.
" I-iya bu minggu depan saya akan bawa sekaligus bab 2 nya."
" No, Saya tidak mau minggu depan. Saya maunya besok dan tidak perlu bab 2, bab 1 saja dulu cukup. Besok bawa ke ruangan saya! Mengerti Samsudin!"
" Me-mengerti Bu Irene."
Dipta yang baru keluar dari ruangannya sedikit heran melihat anak buahnya dimarahi oleh Irene. Ia pun mendekat dan menyapa Irene.
" Kenapa kamu marah marahin pegawai aku Ren?"
" Haish, Udin ini mahasiswaku. Dia udah lewat 3 minggu nggak bimbingan skripsi."
" Ooh gitu ... Kirain ada apa."
" Berilah dia izin libur sehari Dip, biar dia bisa menyelesaikan bab 1 nya."
" Baiklah, sesuai keinginan mu. Udin kamu boleh pulang."
Udin tersenyum lebar, ternyata dosen pembimbingnya ini meskipun galak tapi baik. Udin pun mengucapkan terima kasih kemudian ia berlalu.
" lalu kamu ke sini mau apa Ren, kamu nggak ngajar?"
" Huuft, Aku lagi bad mood abis. Pagi-pagi gue udah ditolak dong."
Tawa Dipta menggelegar mendengar ucapan sang teman.
" Nggak usah ketawa kamu juga gitu."
" Oke oke sorry. Baiklah sad boy dan sad girl ayo kita mengobrol siapa tahu kita bisa jadi happy human kan."
TBC