
Priska menyeringai saat Melati meninggalkan rumahnya. Ia pun segera menaruh baju baju yang ia ambil dari tali jemuran tadi. Priska kemudian mengambil ponsel dari saku celananya. Iya menelpon seseorang yang dia sudah sangat kenal.
" Hallo, apa kau sudah ada di sana?"
" Sudah sesuai permintaanmu sayang."
" Baik, tunggu wanita itu sampai rumah, setelah itu lakukan sesuai apa yang ku minta. Ingat, jangan sampai tertangkap kamera pengawas."
" Tenang saja, aku cukup ahli untuk melakukan itu. Kau tidak ingin langsung aku menghabisinya saja?"
" Jangan, aku ingin semuanya tampak alami."
Priska menutup panggilannya, lalu ia masuk kembali ke rumah. Kedua orang tuanya menatap penuh tanya. Priska yang paham pun langsung menjelaskan kalau tadi yang datang adalah istri sah Yudi. Namun memang dasar Priska adalah wanita yang pandai bersandiwara, ia mengatakan bahwa wanita itu marah marah kepada Priska.
Priska juga mengatakan kepada kedua orang tuanya kalau wanita itu melarang Priska menerima apapun dari Yudi.
" Masa sih wanita cantik itu berkata seperti itu. Ibu lihat dia sangat baik. Aura nya juga terlihat seeprti wanita terhormat. Mana mungkin dia memarahi mu. Dan seandainya dia marah itu adalah sangat wajar. Bagaimana pun dia sudah dikhianati oleh suami nya. Bahkan selama ini dia baru kali ini kesini. Mungkin dia baru tahu juga suaminya mempunyai istri dibelakangnya."
Priska membuang nafasnya kasar, kilat matanya menampakkan kemarahan. Ibu nya itu sungguh senang sekali menceramahi nya. Dan ini bukan lah yang pertama kali di lakukan sang ibu. Ibu Priska berkali kali menasehati Priska untuk tidak sering sering meminta Yudi datang. Namun Priska selalu mengacuhkan ucapan ibu nya.
" Tck ... Sudahlah bu. Ibu jangan selalu mengomel begitu. Asal ibu dan bapak tahu. Selama menjadi istri mas Yudi aku tidak pernah mendapat nafkah batin dari nya."
Kedua orang tua Priska jelas terkejut dengan ucapan Priska. Jika Priska tidak pernah mendapat nafkah batin dari Yudi lantas mengapa selama ini Priska rutin mengonsumsi pil kontrasepsi?
Tidak mau mendapat pertanyaan yang macam macam Priska berlalu ke kamarnya. Ia lalu menutup pintu rapat dan menguncinya.
Kring
Sebuah panggilan telepon mengejutkannya. Ia pun bergegas mengangkat nya. Bibirnya tersenyum simpul saat mengetahui siapa yang menelpon dan rupanya itu adalah panggilan video.
" Tadi kan sudah telepon. Ada apa lagi."
" Aku merindukanmu."
" Gombal, kau pasti ada maunya."
" Sebelum melakukan permintaanmu tolong beri aku hadiah."
Priska menaruh ponselnya di atas nakas lalu membuka seluruh bajunya. Ia pun kembali ke depan layar ponsel. Di sebrang sana si pria sungguh senang melihat tampilan Priska yang polos. Pria itu mulai melakukan apa yang ingin ia lakukan. Priska hanya tersenyum nakal ke arah sang pria.
" Pris. Sebut namaku."
" Ridwan sayang aku merindukanmu akh!"
Pria yang bernama Ridwan menggila hingga ia melakukan pelepasannya sendiri.
" Hah ... Hah ... Hah... Sungguh sial andai kau ada di sini Pris."
" Aku juga menginginkanmu Rid."
" Lantas Bardi dan suami mu itu?"
Priska berdecak kesal Ridwan tahu persis apa yang terjadi padanya tapi masih saja tetap bertanya.
" Kau kan tahu suamiku tidak pernah menyentuhku, dan Bardi. Tck ... Sekarang Aku hanya memanfaatkan. Ya dulu memang aku pernah menyukainya hingga lahirlah Reni. Tapi hanya kamu Rid yang bisa membuatku melayang."
Priska kini yang bergantian melakukan pelepasan dengan caranya sendiri. Ridwan hanya terkekeh geli melihat kelakuan wanita itu.
***
Melati merenung, banyak pertanyaan dari dalam hati nya. Apakah Yudi benar benar tidak menyukainya? Apakah KKN waktu itu hanya kedok ia semata? Apakah selama ini Yudi hanya berpura pura kepada nya.
Melati mengusap wajahnya kasar. Ia harus meminta penjelasan dari sang suami. Namun ada rasa enggan. Hatinya sudah terlanjur sakit dengan semua cerita yang ia dengar dari Priska.
" Sudahlah, waktunya untuk tidur. Ini sudah sangat larut."
Melati benar benar tidur malam itu dengan sangat nyenyak. Bahkan di tidak bermimpi apapun.
Pagi harinya Melati terbangun dengan sangat segar. Ia melaksanakan 2 rakaat dengan khusyu. Ia pun berdoa kepada Yang Maha Kuasa agar selalu diberi perlindungan. Hari ini dia akan menemui Yudi. Namun entah mengapa ia merasa harus berbenah rumah terlebih dahulu. Jadilah Melati memasak, menyapu, mengepel, bahkan memasak masakan yang disukai oleh Hasna dan Yudi. Melati juga membuat banyak kue. Hingga tidak sadar waktu sudah menunjukkan tengah hari.
Melati pun menuju ke kamarnya untuk mandi. Ia berendam sejenak di bath up. Hari itu ia sungguh merasa tidak ada beban sama sekali.
Selesai mandi ia menuju ke lemari dan mengambil baju terbaiknya. Entah mengapa kali ini ia ingin memakai hijab.
Melati berkali kali melihat tampilan dirinya di cermin. Ia tidak memoles wajahnya dengan make up sama sekali. Melati pun menjalankan kewajiban 4 rakaat dulu sebelum pergi.
" Lindungilah anak dan suamiku ya Allah."
Melati melipat sajadah dan mukena nya lalu berjalan keluar. Ia melihat seluruh sudut rumahnya lalu tersenyum.
" Baiklah ayo menemui mas Yudi."
Brummm
Melati mengendarai mobilnya dengan pasti. Sesaat ia merasa ada yang aneh dengan mobilnya. Namun Melati acuh, ia tetap melajukan mobilnya hingga ke jalan tol.
Di jalan bebas hambatan itu Melati sedikit lebih dalam menekan pedal gas nya. Namun ia sungguh terkejut saat di depannya ada sebuah truk bahan bakar yang tengah berhenti. Melati pun menekan pedal rem nya namun berkali kali ia coba mobilnya tak kunjung melambat.
" Ya Allaah, astagfirullah ... Ada apa ini. Kemarin mobilnya masih baik baik saja mengapa sekarang tiba tiba rem nya blong."
Melati bergumam, dalam hatinya ia terus berdoa. Ia kemudian melihat ke kaca spion di belakang tidak ada mobil. Ia pun membanting stir nya ke kanan. Namun ia kurang beruntung di depan ada sebuah kontainer yang juga mogok, Melati masih mencoba untuk membanting stir nya ke kiri namun mobilnya terlalu kencang dan kecelakaan itu tak terhindarkan.
Crash ...
Bruk ...
Mobil Melati menabrak truk kontainer tersebut dan cukup ringsek bagian depannya.
Para pengemudi menghentikan kendaraan mereka dan ada yang sudah memanggil ambulan. Melati yang masih tersadar terus mengingat putrinya. Hingga dibawa ke rumah sakit Melati terus menyebut nama Hasna.
Darah sudah mengubah warna baju melati. Petugas Rumah sakit pun menghubungi Hasna dan Yudi.
Yudi langsung berlari ke rumah sakit. Ia tak lagi peduli dengan rapat yang sedang ia pimpin.
" Sus, dimana korban kecelakaan."
"Sedang ditangani pak."
Yudi menangis, ia hampir gila dengan kabar kecelakaan Melati. Tak lama Hasna pun sampai. Gadis itu memeluk papa nya dengan erat.
" Pa... Mama pa ..."
Keduanya menangis berpelukan hingga dokter memanggil Hasna masuk. Ya hanya Hasna, karena Melati tidak ingin menemui Yudi.
TBC