Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 57. Ikut Ke Kampus


Ridwan dan Priska tengah berada di rumah. Keduanya terlihat bercengkerama dengan Priska yang bersandar mesra di dada sang pria. Keduanya terlihat begitu senang karena menganggap rencana nya berhasil.


" Jadi apakah kau akan bermain main dengan gadis ingusan itu?"


" Tck, tidak. Aku lebih senang bermain dengan mu sayang."


Ridwan sudah memulai aksinya dengan meremas gundukan kenyal milik Priska. Sepertinya keduanya lupa jika kemarin alat kel***n mereka sempat mengeluarkan darah dan terasa nyeri. Keduanya benar benar sudah gila, mereka seorang maniak yang tak tertolong.


Ridwan baru mau membuka baju Priska, namun suara ketukan pintu membuatnya urung. Keduanya saling pandang, saling bertanya siapa gerangan yang datang. Pasalnya tidak ada satu pun yang tahu mereka berdua tinggal ditempat tersebut.


Dagh dagh dagh


Suara ketukan pintu tersebut berubah menjadi sebuah gedoran. Priska dan Ridwan beranjak dari duduk mereka dan berjalan bersama menuju pintu.


Ceklek


" Maaf cari sia~"


" Saudara Ridwan dan saudari Priska, anda kami tahan dangan tuduhan pengeroyokan dan penyerangan serta anda di duga terlibat dalam kasus kecelakaan Ibu Melati 4 tahun silam."


Jeduaaaar


Priska sungguh terkejut, ia menggelengkan kepalanya cepat. Ia pun hendak berlari begitu juga dengan ridwan. Namun polisi lebih cepat sehingga bisa membawa mereka untuk segera naik ke mobil dan menggelandang mereka ke kantor polisi.


" Tidak, aku tidak bersalah! Pasti ini jebakan! Ini fitnah!"


Priska terus berteriak histeris. Ia pun memberontak ingin mencoba untuk melepaskan diri dari cengkraman tangan polisi. Namun tentunya polisi lebih kuat dan pada akhirnya Priska tidak bisa melakukan perlawanan apapun. Sama hal nya dengan Ridwan sekuat tenaga pria itu melawan tetap masih kalah. Bahkan kepolisian siap mengeluarkan senpi nya jika Ridwan berusaha kabur.


Keduanya kini hanya bisa tertunduk lesu, pasrah di mobil polisi. Priska bahkan menangis. Ia tidak bisa berpikir apapun untuk saat ini.


🍀🍀🍀


Pagi hari nya Radi yang hendak berangkat ke kampus pagi pagi sekali mendapat pandangan sendu dari sang istri. Hasna yang diberi kelonggaran oleh Radi untuk penyerahan bab 2 dan bab 3 skripsi nya rupanya sedikit bingung mau melakukan apa.


" Kak!"


" Hmm?"


" Kak, bolehkah ikut ke kampus?"


" He?"


Radi begitu terkejut mendengar permintaan sang istri. Baru kali ini Hasna meminta ikut ke kampus. Biasanya dia tidak pernah melakukan itu. Radi berpikir mungkin Hasna masih takut dengan kejadian kemarin.


" Apa masih takut sama yang kemarin?"


" Nggak sih mau ketemu Udin."


Radi memicingkan matanya. Ia mencoba mengingat nama tersebut.


" Ngapain?"


" Udin mau minjam beberapa buku."


" Oh. Oke."


Radi hanya ber oh ria lalu menyetujui keinginan sang istri. Ia pikir Hasna mau ikut ke kampus karena takut. Rupanya ia salah. Entah mengapa Radi tidak suka jika Hasna bertemu dengan pria. Namun ia ingat kata sang adik. Usia Hasna masih begitu muda, dia tidak boleh terlalu mengekang dan membatasi Hasna. Lagi pula Udin adalah teman kuliah dan teman kerja Hasna dulu saat kerja di kafe.


" Tapi ini masih sangat pagi lho! Emang janjian jam berapa?"


" Jam 9 sih. Nggak apa apa. Nanti aku tunggu di ruangan kakak dulu."


" Oke."


Hasna tersenyum senang. Selain bertemu dengan Udin, Hasna juga mau menemui sahabatnya Tyas. Ia pun menyiapkan buku buku yang hendak dipinjam Udin ke dalam tas ransel nya.


***


Kampus masih sepi. Radi memang terbiasa datang pagi. Setengah 7 Radi pasti sudah sampai di kampus untuk mempersiapkan pengajaran setiap hari nya. Hasna mengekor, ia pun ikut ke dalam ruangan sang suami.


" Nggak apa apa kak, lagian aku udah lama nggak ke kampus. Nanti sekalian mau ke perpus juga deh buat tambahan nyari referensi," jawab Hasna sembari tersenyum.


Radi meminta sang istri untuk duduk terlebih dulu. Ia kemudian melanjutkan apa yang biasa ia lakukan sebelum mengajar.


Hasna memperhatikan setiap apa yang dilakukan sang suami. Ia pun bergumam pelan, " Ya Allaah, suami ku keren banget."


Tapi ternyata gumaman nya terdengar oleh sang suami. Radi tersenyum simpul. Ia kembali menaruh buku buku yang hendak ia bawa di atas meja dan berjalan menghampiri Hasna yang tengah duduk di sofa ruangannya.


Cup


Radi mencium bibir Hasna sekilas mrmbuat wanita itu sungguh terkejut.


" Kak!" protes Hasna dengan apa yang dilakukan sang suami.


Namun Radi acuh, ia bahkan kembali meraup bibir sang istri. Pria itu sungguh tidak bisa menahan dirinya jika berada di samping sang istri.


" Hmmmp," Hasna sedikit memukul dada sang suami berharap Radi mau melepaskan ciumannya. Akhirnya berhasil, Radi melepaskan pagutannya.


" Kenapa, kamu menolak ku?"


" Bukan, aku tidak menolak kakak. Tapi ini di kampus. Kalau ada orang lihat nanti dikiranya kakak dosen mesum sama mahasiswanya."


Haah, Radi membuang nafasnya kasar. Apa yang dikatakan oleh istri kecilnya semuanya benar. Ia pun duduk di samping sang istri lalu membelai lembut wajah istrinya itu.


" Haish, makanya aku sebenarnya tidak ingin kamu ikut ke kampus?"


" Kenapa?"


" Aku tidak bisa menahan diriku jika berada di dekat mu. Rasanya ingin menel*nj*ngimu saja."


Hasna menutup mulutnya dengan kedua tangan. Ia pun menggeleng pelan. Suami dosennya yang terkenal killer itu sekarang berubah menjadi sangat mesum.


" Astaga kak, jika mereka tahu kamu seperti ini aku yakin dunia persilatan akan gonjang ganjing. Ish ish ish, dosen yang sangat killer berubah menjadi begitu mesum."


" Ho ho ho. Suka sekali kamu mengatai suami mu mesum. Lihat saja nanti di rumah. Kau akan tahu apa itu arti mesum yang sesungguhnya."


Radi tersenyum devil membuat Hasna menelan saliva nya dengan sangat susah payah.


Tok tok tok


Suara ketukan pintu membuat Radi bangkit dari duduknya dan Hasna bersikap seolah olah dia tengah bimbingan skripsi. Ya, ia tidak ingin siapapun itu yang berada di depan pintu curiga dengan apa yang mereka tengah lihat.


" Ya ada apa, oh kamu. Silahkan masuk."


Seseorang yang ada di depan pintu mengangguk lalu masuk mengikuti Radi. Orang tersebut sedikit terkejut karena melihat ada wanita di dalam ruangan sang dosen. Namun dia acuh dan tidak peduli.


" Ada apa?"


" Ini pak, selama seminggu kemarin bapak cuti ini adalah absen anak anak dan hasil tugas dari anak anak."


" Baik terimakasih."


" Ya pak sama sama."


Radi menerima setumpuk lembaran tugas dan buku absen tersebut. Ia lalu memeriksanya sejenak. Namun rupanya orang tersebut belum juga pergi dari ruangannya. Ia masih betah duduk dan memandangi sang dosen.


" Apakah masih ada lagi?"


" Ti-tidak pak. Tidak ada. Baik saya permisi."


Radi tak lagi menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya membuat orang itu mendengus kesal.


" Huft, bagaimana bisa meluluhkan dosen killer itu," gumam orang itu yang sudah keluar dari ruangan Radi.


TBC