Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 46. Muslihat dan Fitnah


Melati menerima sebuah amplop dari pria asing sesaat setelah mengantarkan Hasna menuju kampus untuk orientasi mahasiswa baru hari pertama. Ya hari ini putrinya masuk di universitas favoritnya.


" Permisi, apakah ini dengan nyonya Melati?"


" Ya saya sendiri, ada apa ya?"


Pria asing itu langsung menyerahkan sebuah amplop coklat lalu pergi.


" Tunggu ... Tunggu dulu ... "


Pria asing tersebut mengacuhkan panggilan melati dan terus berlari menjauh. Melati pasrah, ia pun tidak bisa mengejar pria itu. Melati kembali masuk ke dalam rumah dan duduk di sofa ruang tamu. Ia lalu membuka amplop tersebut.


Deg ...


Jantung Melati berdetak hebat saat melihat isi amplop itu. Di sana banyak foto foto yang ia tahu adalah suaminya. Namun Melati sungguh tidak tahu siapa gambar wanita dan anak perempuan tersebut. Tes, air mata Melati langsung luruh saat menemukan foto suaminya yang tengah duduk dengan seorang wanita mengenakan kebaya putih. Ia tahu itu adalah acara akad nikah.


Melati terduduk di lantai, ia menangis sesenggukan. Namun secepat kilat ia menghapus air matanya.


Melati kemudian mengambil ponsel nya dan menghubungi seseorang.


" Assalamalualaikum mbak . "


" Waalaikumsalm Mel, kenapa?"


" Mbak bisakah kita bertemu."


" Tentu. Sekarang?"


" Iya ... "


Melati menyambar kembali ke luar rumah lalu mengunci pintu. Ia mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan.


" Baiklah, aku harus kuat."


Brummmm


Melati melajukan mobilnya menuju tempat ia hendak bertemu seseorang. Sekitar 30 menit, Melati sudah sampai di tempat itu. Seseorang yang hendak ia tunggu rupanya sudah sampai terlebih dahulu.


" Lho mbak kok udah sampai dulu."


" Kebetulan banget tadi pas di sekitar sini Mel."


Keduanya saling mencium pipi kanan kiri dan berpelukan . Melati memeluk seseorang di depannya itu dengan erat. Orang tersebut merasakan sesuatu yang sedikit tidak beres dalam diri sang sahabat namun ia tidak ingin bertanya lebih sebelum Melati bercerita lebih dulu.


" Mbak Sekar bolehkah aku meminta sesuatu."


" Ada apa sih Mel, kayaknya lagi gelisah bener."


Melati menghela nafasnya lalu tersenyum menatap sang sahabat. Ia menggeleng perlahan.


" Tidak mbak. Tidak ada apa apa. Mbak, bisakah kau menjaga Hasna untuk ku."


" Maksud mu? Memangnya kamu mau kemana hmm? "


" Tidak kemana mana mbak. Aku hanya ingin Hasna berada di tengah keluarga yang banyak orang seperti keluarga mbak Sekar. Jadikan di menantu untuk salah satu putra mu."


Sekar sedikit terkejut mendapat permintaan perjodohan itu. Tetapi ia seketika tersenyum lalu mengangguk.


" Ya baiklah. Lagian sudah lama juga aku ingin mengatakan ini. Aku juga berharap kita bisa berbesanan."


Melati sungguh bahagia mendengar ucapan Sekar. Ia meraih tangan sahabatnya itu dan menggenggamnya erat.


" Terimakasih mbak."


Keduanya pun berbicara banyak hingg mereka saling berpamitan satu sama lain.


" Sekarang waktunya mengkonfirmasi kebenaran."


Melati langsung bergegas menuju ke rumah wanita yang ia anggap istri ke dua suaminya. Dengan berbekal alamat di dalam amplop dan sinyal gps ia nekat untuk datang ke sana. Entah semua ini sudah di atur atau tidak namun hari ini sungguh tepat saat Hasna menginap di kampusnya dan Yudi tengah berada di salah satu cabang pusat perbelanjaan untuk sidak. Yudi pun hari ini dipastikan tidak pulang ke rumah.


Sepanjang perjalanan Melati dipenuhi banyak sekali pertanyaan. Berkali kali ia menahan sesak di dada nya.


Hingga ia benar benar sampai di daerah rumah milik wanita yang ada di dalam foto. Lelah perjalanan tidak jadi soal karena yang saat ini ia perlukan adalah sebuah penjelasan.


Melati turun dari mobil dan bertanya kepada seorang warga di sana.


" Ooh rumah neng Priska. Itu teh. Teteh nya lurus aja nah itu ada pertigaan teteh nya belok ke kiri rumah neng priska nomor tiga dari setelah belokan itu."


" Terimakasih banyak bu."


'' ya teh sama sama."


Melati kembali ke dalam mobil. Wanita cantik itu kemudian melajukan mobilnya sesuai arahan ibu yang ia temui.


Ckiiit, ia berhenti tepat di rumah nomor 3 setelah pertigaan. Melati mengambil nafasnya dalam dalam dan membuangnya perlahan. Ia benar benar menguatkan dirinya untuk menemui madu nya itu. Meskipun belum ada yang pasti namun melihat foto itu sudah cukup membuatnya mengerti.


Melati keluar dari mobil dan mendekat ke pekarangan rumah tersebut. Ia melihat seorang wanita yang lebih muda darinya tengah mengambil baju baju jemuran yang tampaknya sudah kering.


" Assalamualaikum, permisi."


" Waalaikumsalam. Ya, ada yang bisa saya bantu."


Deg ...


Jantung Melati serasa begitu cepat memompa. Ia melihat wanita di depannya itu sungguh sama persis dengan wanita yang berada di foto. Melati sedikit limbung, namun ia berusaha bisa menguasai tubuhnya.


" Apakah kamu benar istri Yudi?"


Melati tak mau berlama lama penasaran. Ia harus mengetahui secepatnya mengenai siapa wanita itu. Meskipun itu sangat sakit namun ia harus kuat menghadapinya.


" Iya mbak, saya istrinya mas Yudi. Mbak siapa ya."


Glegaaar ...


Melati sungguh syok, meskipun ia sudah merasa begitu namun pengakuan wanita di depannya itu sungguh membuat dia terkejut.


" A-aku istri Yudi yang sah."


Wanita itu seketika menunduk lalu tersenyum. Ia menunjukkan senyum yang kecut.


" Ooh ini pasti mbak Melati. Maaf ya mbak. Aku sungguh minta maaf sudah menjadi pengganggu diantara kalian."


" Bisa ceritakan kepadaku apa yang terjadi."


" Mari kita duduk di dalam."


Melati menggeleng, kakinysungguh sangat berat untuk melangkah.


" Baik kalau begitu, kejadiannya sudah sangat lama mbak. Waktu itu mas Yudi sedang KKN di sini. Dan setelah sekitar 3 minggu Mas Yudi memaksaku melakukan itu hiks. Aku, aku sungguh tidak tahu. Hiks. Kalau mas Yudi sudah memiliki istri. Aku sungguh minta maaf mbak."


Hancur hati Melati saat mendengar penjelasan Priska. Namun ia berusaha tetap tenang.


" Baiklah kalau begitu, aku sudah paham."


" Ma ... "


Seorang gadis kecil menghampiri mereka. Melati sudah menembak pasti itu putri Priska dan Yudi.


" Salim sama tante nak."


Gadis itu meraih tangan Melati dan menciumnya. Melati pun langsung memeluk gadis kecil itu. Lalu menatap Priska.


" Jika kalian ingin dan mau datanglah ke kota J."


" Terimakasih mbak, tapi tidak usah. Mas Yudi melarang kami ke sana. Ren, masuk dulu ya nak. Mama masih ingin bicara sama tante."


Gadis kecil itu mengangguk patuh dan berlalu masuk ke rumah. Melati menatap iba pada anak perempuan tersebut.


" Mbak Melati, ayo masuk."


" Tidak usah Pris, aku harus segera pulang. Aku bicara dengan sungguh. Kalian datang lah ke kota J. Aku yang mengundang."


" Terimakasih mbak aku akan coba memikirkannya."


Melati membalikkan badan dan langsung masuk ke dalam mobil. Ia tidak tahu jika Priska tengah menyeringai.


" Ya, aku akan datang setelah kau tidak lagi ada hahahah."


TBC