
Beberapa minggu berlalu. Hari ini hari terakhir Hasna bimbingan skripsinya. Agar lebih meyakinkan, Radi meminta Hasna untuk datang ke kampus dan bimbingan di sana.
Sebenarnya hanya sebuah kamuflase karena tadi malam Radi sudah memeriksa semuanya. Dan hasilnya cukup memuaskan. Radi bahkan berkata bahwa Hasna siap sidang bulan depan.
Tepat pukul 7 Hasna sudah di depan ruangan Radi. Ternyata di sana ada beberapa mahasiswa yang sedang menunggu sang suami untuk melakukan bimbingan juga.
Tring
Sebuah pesan masuk ke ponsel Hasna. Rupanya pesan tersebut dari sang suami. Hasna mengerutkan kedua alisnya membaca pesan tersebut. Tapi karena tak mau banyak tanya ia pun segera pergi memenuhi permintaan dari pesan sang suami.
" Aneh."
Hanya satu kalimat itu yang keluar dari bibir kecil Hasna.
Setelah 15 menit Hasna pun kembali ke ruangan suami. Hasna sedikit membuang nafasnya penuh dengan kelegaan saat di sana sudah tak lagi banyak orang.
" Sayang, dapat nggak apa yang aku mau."
Hasna menyerahkan bungkusan yang dibawa. Radi dengan sigap mengambil dan membukanya. Matanya terlihat berbinar melihat apa yang ada di depannya. Pria itu memakan rujak pesanannya dengan begitu lahap. Hasna yang melihat hanya meringis.
" Pak dosen, bimbingan saya bagaimana."
" Acc, bulan depan sidang."
Jawaban spontan Radi sungguh membuat Hasna membuang nafasnya kasar. Jika mahasiswa lain akan berteriak karena senang maka Hasna merasa biasa biasa saja. Terlebih suaminya itu hari ini sungguh aneh. Bagaimana tidak pagi pagi begitu tiba tiba dia minta makan rujak. Padahal Hasna tahu bahwa Radi tidak suka makan makanan yang asam.
" Lalu aku di sini suruh apa?"
" Nemenin aku."
Hasna sungguh tidak bisa lagi berkata kata. Ia benar benar merasa suaminya ini agak konslet otak nya.
Seharian ini Hasna benar dibuat pusing dengan ulah Radi. Pria itu tidak mau jauh dari Hasna. Hanya saat mengajar saja Radi tidak bersama dengan Hasna. Setelah kembali dari mengajar, Radi kembali bergelayut manja di lengan sang istri.
" Kak, kalau kakak kayak gini nanti kelihatan orang gimana?"
" Bodo."
Hasna benar benar pasrah dengan kelakuan sang suami yang ke kanak-kanakan.
Tepat pukul 4 sore keduanya kembali ke rumah. Kali ini mereka akan ke kediaman Dwilaga. Rupanya Dika dan Silvya tengah berada di sana. Tampak dari mobil mereka yang sudah terparkir rapi di halaman rumah.
" Assalamualaikum," ucap Radi dan Hasna bersamaan.
" Waalaikumsalam," semua orang yang berada di rumah pun menjawab salam dengan serempak.
Namun pandangan mata mereka tertuju kepada Radi yang menggelayut manja di engan sang istri. Dika sampai menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah aneh sang kakak.
" Bun Kakak kenapa?"
" Lah, mana bunda tahu mas."
Pertanyaan Dika dijawab dengan bahu yang terangkat oleh Sekar.
Sekar pun mengajukan pertanyaan yang sama kepada Hasna. Hasna hanya mendengus kesal, ia pun mengatakan kalau dari kemarin tepatnya hari ini bertingkah sangat aneh. Hasna juga menceritakan pagi tadi Radi yang makan rujak padahal belum sarapan. Sekar memicingkan sebelah matanya. Tentu saja dengan rona keterkejutan. Pasalnya dari lahir Radi begitu anti dengan yang namanya makanan bercita rasa asam.
" Bund, bikin asinan gi bund. Seger deh kayaknya."
" He?"
Sekar sungguh terkejut, yang tadinya ia tidak percaya, kini ia percaya dengan ucapan sang menantu.
Dika yang merasa curiga langsung mendekat ke arah Hasna. Ia meminta Hasna mengulurkan tangannya. Perlakuan Dika tersebut mendapat harapan tajam dari sang kakak. Tapi Dika cuek. Hasna pun menurut. Dika lalu memeriksa denyut nadi Hasna. Dika menghembuskan nafasnya dengan perlahan.
" Kapan terakhir kamu haid Has?"
Pertanyaan Dika tentu saja membuat semua orang terkejut.
" Memangnya kenapa dok?"
" Bilang saja Has, ada yang aneh dari kak Radi bisa jafi karena kamu."
Hasna semakin bingung dengan ucapan Silvya. Ia pun mengingat ingat kapan terkahir kali dia mendapat menstruasi. Waktu sepertinya sebelum dia menikah dengan Radi. Dan setelah itu dia belum kunjung mendapatkan tamu bulanan sampai sekarang.
" Astagfirullaah kak Silvya, kayaknya aku emang belum dapat haid deh."
Dika, Silvya dan Sekar tersenyum. Meskipun belun di cek ketiganya yakin kalau Hasna hamil dan sekarang Radi masuk fase ngidam.
" Alhamdulillah Has, besok anak kita umurnya nggak jauh beda," ucap Silvya sambil mengusap perutnya yang mulai membuncit.
Tentu saja ucapan Silvya tersebut membuat Radi bingung.
" Hadda hamil kayaknya kak."
" Masa sih Dik,"
Radi sedikit bingung namun seketika itu juga dia memeluk sang istri dan menciumi wajah Hasna. Hasna pun nampak senang, semoga prediksi dokter Dika dan Silvya itu benar.
🍀🍀🍀
Sebulan berlalu. Hari ini ditemani sang suami, papa, dan juga kedua mertuanya Hasna tengah berada di ruang sidang. Beberapa orang tampak bertanya tanya mengapa pemilik universitas dan dosen terbaik di universitas itu mau capek capek menunggui seorang mahasiswa yang tengah menjalani sidang.
" Kak, susah nggak sih?" tanya Sekar khawatir.
" Nggak lah bund, kan yang ditanyakan sesuai skripsi yang dikerjakan Hasna," jawab Radi tenang.
Tapi sesungguhnya Radi tidak setenang kelihatannya. Ia juga merasa gugup dengan sang istri yang tengah ada di dalam. Terlebih saat ini kandungan Hasna tengah berjalan 3 bulan. Radi takut jika istrinya itu stres.
Setelah 1 jam berlangsung, Hasna pun keluar dari sana. Yang membuat semua khawatir wajah Hasna terlihat datar tanpa ekspresi. Radi pun segera menghampiri sang istri dan memeluknya. Sontak saja semua kaget terlebih Aryo juga mendekat mengusap kepala Hasna.
" Tidak apa apa kita bisa coba lain kali," ucap Radi menenangkan.
" Apa an sih kak. Orang aku lulus kok. Aku cuma laper jadi lesu."
Ucapan Hasna tentu saja membuat semua gemas. Mereka pikir Hasna gagal dalam sidang skripsinya. Ketiga orang itu berteriak gembira. Tak ada satu orang pun yang berani menegur keluarga pemilik Universitas tersebut.
" Selamat ya sayang," ucap Yudi sambil memeluk sang putri.
Sekar dan Aryo pun bergantian memeluk Hasna. Semua tampak senang. Orang orang di sana hanya menatap heran. Radi yang notabene nya tidak pernah terlihat dekat dengan wanita tiba tiba menunggui seorang wanita yang tengah sidang skripsi. Sedangkan Aryo orang nomer satu universitas itu juga berada di sana.
Radi tahu pandangan penuh tanya semua oang di sana, ia pun segera berlari menuju radio kampus dan mengambil alih siaran radio dari penyiar.
" Perhatian semuanya. Siang ini saya umumkan kepada kalian semua bahwa saya Radian Nareen Dwilaga sudah memiliki seorang istri yang bernama Hasna Sandika Rayadinata. Saat ini istri saya sedang mengandung. Saya mohon doanya agar semua baik baik saja dan pernikahan kami satu untuk selamanya."
Pengumuman yang baru saja disampaikan Radi tentu saja membuat seisi kampus ramai bukan main terlebih Udin dan Tyas. Keduanya tak habis pikir bagaimana bisa Hasna menikah dengan dosen killer yang pernah dibenci itu.
" Gila Hasna, benar benar berhasil dia ngegaet hati dosen killer itu!" gumam Tyas lirih.
Banyak mahasiswi yang patah hati dengan pengumuman tersebut.
Di sisi lain Aryo dan Sekar hanya menggeleng pelan dengan tingkah sang anak.
" Lihatlah Yud, menantu mu. Mengumumkan pernikahannya jalur radio kampus."
Yudi tergelak mendengar ucapan sang besan. Menantunya itu memang begitu bucin terhadap sang istri.
*
*
Kini pasangan suami istri itu berada di kamar. Radi memijat kaki Hasna, istrinya itu terlihat begitu lelah. Namun Hasna meminta Radi untuk duduk di sampingnya. Radi pun menurut ia meringsek ke atas dan duduk di sebelah Hasna.
Radi membelai lembut perut sang istri. Ia menatap wajah Hasna lamat lamat.
" Terimakasih sudah mau menerimaku sayang. Maaf jika banyak hal yang tidak kau suka dari ku."
" Aku juga mengucapkan terimakasih kak karena kakak sudah sabar menghadapi aku yang masih suka seenaknya sendiri."
Radi mencium kening sang istri lalu mencium perut istrinya. Tatapan mata mereka beradu. Radi pun langsung meraup bibir Hasna. Ciuman itu sangat lembut tidak ada hasrat di sana.
" Sayang, mau dipanggil apa nanti sama anak anak kita?"
" Ayah sama ibu aja kak. Aku ingin dipanggil ibu sama baby nanti. Kedengarannya kok adem gitu."
" Es kali adem."
Hasna dan Radi tertawa bersama. Mereka sungguh tidak menyangka bisa sampai di tahap seperti ini. Pertemuan karena skripsi, kepura-puraan karena ingin melawan kehendak orang tua, hingga menikah tanpa cinta. Namun keduanya bisa melalui semua itu hingga kini cinta itu terus tumbuh dan tumbuh. Keduanya bisa menekan ego masing masing sehingga pernikahan yang mereka jalani menjadi indah.
...SELESAI...
Alhamdulillaah ya sahabat readers tamat juga nih pak doskil. Maaf ya jika tidak sampai lahiran hehehe. Karena memang konflik sudah selesai, jadi kalau dipanjangin nanti malah muter muter tidka jelas. Dan maaf othor tidak pandai membuat novel yang panjang.
Othor juga minta maaf kalau readers masih belum puas.
Terimakasih sudah mendukung othor selama ini.
...Salam Hangat...
...Author IAS...