Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 41. Bercerita


Malam harinya Yudi masih berbicara banyak dengan orang tua Priska. Hasna yang tidak mau ikut campur memilih untuk berada di kamar, tentu saja diikuti oleh Radi. Radi tidak mungkin juga berada di luar yang dia tidak tahu sama sekali mengenai urusan tersebut.


Pasutri baru itu berada di atas kasur dan duduk bersandar di head board. Kaki mereka ditutupi dengan selimut. Hawa dingin di desa milik Reni itu benar benar begitu terasa. Radi pun bersedekap untuk menghangatkan tubuhnya. Padahal dia sudah memakai sweater yang tebal.


" Jadi, besok kakak tidak masuk kerja."


" lah aku kan di sini bagaimana masuk kerja."


" Sudah ngabari pihak kampus?"


Radi mengangguk sebelum dia berlari pulang kemarin dia sudah lebih dulu Mengabari di pihak kampus bahwa dia akan mengambil libur selama 1 hari.


" Kak sebaiknya kakak tidur gih."


" Kenapa memangnya?"


" Kakak kan seharian udah nyetir pasti capek. Dan besok harus nyetir lagi. Jadi sebaiknya kakak tidur lebih awal."


Radi mengerti maksud Hasna. Tapi entah mengapa dia tidak dia belum ingin tidur malam ini.


" Tapi Has ini dingin banget. Setelah dipikir pikir enak kali ya punya rumah di pedesaan gini. No ac aja udah dingin."


" Enak sih tapi kan jauh dari tempat kakak mengajar kecuali kakak beralih profesi jadi petani."


Radi setuju dengan ucapan Hasna. Tapi mungkin kalau sekedar membuat rumah peristirahatan atau villa kayaknya boleh juga.


Radi pun kemudian merebahkan tubuhnya lalu masuk ke dalam selimut. Hasna yang masih duduk bersandar itu sedikit terkejut saat tangannya di tarik oleh Radi. Hasna pun ikut berbaring di sebelah Radi.


Greb ... Tanpa aba aba Radi langsung memeluk Hasna.


" Seperti ini terasa lebih hangat, bukankah begitu?"


Hasna mengangguk, ia sendiri merasakan kehangatan dalam pelukan Radi. Mata Radi yang tadinya terpejam membuka perlahan. Ia menghirup aroma tubuh Hasna dalam dalam. Matanya menatap lekat wajah sang istri. Radi membelai lembut wajah istrinya itu.


Glek


Hasna menelan saliva nya dengan kasar saat matanya tertuju pada bibir Radi. Entah mendapat dorongan dari mana Hasna mengecup bibir Radi sekilas.


Cup


Radi membulatkan matanya mendapat serangan dadakan dari Hasna.


" Apa kau menggodaku gadis sembrono?"


Hasna menggeleng cepat. Wajahnya bersemu merah. Ia malu sekali dengan apa yang dia lakukan baru saja.


Radi menarik sudut bibirnya, pria itu tersenyum simpul melihat kelakuan sang istri. Radi menarik dagu Hasna lalu dengan cepat meraup bibir ranum istrinya yang sedari tadi sudah menggoda nya.


Mata Hasna seketika terpejam saat merasakan bibir kenyal Radi mendarat di bibirnya bahkan lidah itu sudah mengobrak abrik rongga mulutnya.


Pertarungan lidah itu tidak dapat dielakkan. Keduanya saling menyesap dan bertukar saliva.


Radi melepaskan pagutan nya, membiarkan sang istri meraup oksigen. Namun dia tidak berhenti kali ini Radi menyasar leher Hasna. Bahkan kali ini Radi mengungkung Hasna, pria itu sudah berada di atas istrinya. Radi menyesap leher tersebut hingga berbekas merah.


Shhh ..... Akh ...


Hasna mendesis, ia belum pernah merasakan hal seperti ini sebelumnya. Ada gelenyar aneh yang memasuki aliran darahnya.


Radi kembali mel***t bibir istri kecilnya itu dan tangannya bergerak ke arah depan sekarang. Ia mencari sesuatu di sana hingga ia menemukan bulatan kenyal yang begitu empuk. Radi membelai lalu meremasnya dengan perlahan.


Hasna melenguh, tubuhnya menegang saat tangan Radi memainkan kedua benda kenyalnya itu. Nafas keduanya beradu. Radi langsung menarik tangannya. Ia kembali menjatuhkan tubuhnya di samping Hasna dan memeluk sang istri.


" Cukup. Sampai sini saja. Aku tidak ingin melakukannya di sini."


Hasna mengangguk, ia pun memeluk sang suami dengan erat. Ia menyembunyikan wajah nya di dada bidang sang suami. Keduanya sama sama menetralkan gairah yang sudah naik itu meskipun belum memuncak hingga tidka mereka sadari mereka sudah tertidur dengan keadaan saling memeluk.


Di kamar yang lain Yudi tengah termenung. Tadi dia sudah berbicara banyak dengan kedua orang tua Priska. Mereka bercerita tentang kedatangan Melati.


" Saat itu nak Melati sampai di sini sekitar habis zuhur. Tapi seketika priska menarik Melati ke luar rumah. Bapak sungguh tidak tahu apa yang mereka bicarakan."


" Iya nak Yudi, ibu juga tidak tahu. Tapi saat Reni pulang dari sekolah nak melati terlihat mengusap kepala Reni."


Reni yang juga berada di sana mengangguk membenarkan ucapan sang kakek.


" Iya pak, waktu itu tante cantik itu mengusap kepala Reni. Tante itu tersenyum. Sebentar, tante itu berkata kalau Reni boleh ke kota. Tapi tante itu menangis."


Yudi seketika merasakan sakit di hatinya. Namun ia mencoba untuk tetap kuat mendengarkan cerita dari kedua orang tua Priska dan Reni.


" Bahkan tante itu memeluk Reni pak. Tapi mama nyuruh Reni untuk langsung masuk ke rumah."


" Apakah ke esokan harinya kalian langsung ke kota J?"


Reni menggeleng lalu kembali berucap, " Kami ke kota saat pak Yudi jemput kami."


" Apa yang mama kamu bilang."


Reni terdiam, ia mencoba mengingat ingat apa yang mama nya ucapkan.


" Oh iya, mama bilang tidak lama lagi kita akan hidup enak."


Yudi membuang nafasnya kasar sedangkan kedua orang tua Priska menunduk. Mereka merasa sangat malu dengan kelakuan sang putri.


" Baiklah Reni lanjutkan tidur, surat kepindahan mu akan segera diurus. Oh iya apa kamu tahu dimana mama mu tinggal sekarang."


Reni mengangguk, ia kemudian memberikan alamat rumah yang pernah dia singgahi itu. Setelah itu gadis remaja itu pun berlalu ke kamarnya.


" Pak, buk, sebelumnya saya akan menyampaikan ini agar bapak dan ibu tidak terkejut nanti. Jika kepergian Melati ada hubungannya dengan Priska maka aku akan membawanya ke jalur hukum."


Kedua orang tua itu hanya bisa mengangguk pasrah. Jika benar itu terjadi mereka pun tidak akan membela sang putri.


" Baik nak lakukanlah. Tegakkan lah keadilan untuk mendiang istrimu. Kami ikhlas dan ridho."


Yudi mengangguk, ia lega kedua orang tua Priska cukup kooperatif.


" Baiklah Pris, aku akan cari tahu mengapa Melati bisa kecelakaan. Jika semua ini berhubungan dengan mu aku tidak akan segan segan menjebloskan mu ke jeruji besi."


Yudi merebahkan tubuhnya. Ia kini mengerti mengapa saat saat terakhir sang istri tidak mau menemui nya. Melati pasti sangat marah kepadanya. Melati pasti begitu kecewa dengan apa yang dilakukannya.


" Andai, andai waktu dapat di putar Mel. Aku akan memilih jujur kepadamu meski kau akan marah dan membencimu. Maafkan aku Mel, aku sungguh sangat menyesal."


Sungguh penyesalan yang terlambat dan tentu saja percuma. Tapi Yudi merasa ia harus melakukannya.


TBC