
Yudi akhirnya menerima pesan di surel miliknya. Setelah meminta bantuan kepada seseorang yang begitu ahli dalam bidangnya, akhirnya ia mendapatkan apa yang dia mau.
Bukan hanya rekaman kamera pengawas. Bahkan salinan percakapan antara Priska dan Ridwan bisa ia dapatkan. Yudi benar benar kagum dengan hasil kerja orang tersebut.
" Tidak salah badan intelegensi negara takut akan dia. Mr. Sun sungguh hebat. Tapi lagi lagi aneh dia tidak mengatakan berapa yang harus dibayar. Bahkan aku bertanya kemana harus membayar pun dia tidak mengatakannya. Kemarin Wild Eagle sekarang Mr. Sun."
Yudi berpikir sejenak mengenai hal itu. Ia benar benar sangat heran. Tapi otaknya sungguh tidak mampu. Ia tidak tahu jika semuanya atas pengaturan Silvya. Bahkan saat Kai mendapat orderan dari Yudi, sebelumnya Silvya sudah minta tolong ke Kai terlebih dahulu.
Bagaimanapun Hasna adalah bagian dari keluarganya. Silvya merasa harus ikut andil membantu Hasna. Terlebih ini untuk menegakkan keadilan.
Yudi melenggang menuju ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti tersebut. Ia sungguh yakin bahwa dengan bukti yang ia berikan ini akan bisa menjerat Priska dan pria itu lebih dalam lagi.
Pihak kepolisian pun sangat puas. Mereka yakin kasus ini akan berjalan dengan lancar. Terlebih bukti yang diberikan begitu komplit.
Setelah memberikan bukti tersebut Yudi pun keluar dari kantor polisi. Namun ia sedikit dibuat terkejut saat melihat Priska di bawa masuk ke mobil ambulance.
" Itu kenapa ya pak?"
" Oh wanita itu, tadi dapat laporan dari sipir wanita katanya kem*l**n wanita itu berdarah dan bernanah. Ia bahkan demam hingga 40°. Makanya segera dilarikan ke rumah sakit. Dan anehnya itu juga terjadi kepada seorang pria. Tapi yang pria sudah dibawa ke rumah sakit semalam "
Yudi mendengarkan dengan seksama. Ia pun membuang nafas dengan perlahan.
Karma mu di mulai dari sekarang Pris. Kau sungguh akan merasakan penderitaan mulai saat ini. Ingin kasihan tapi apa yang kau lakukan sungguh sangat tidak berprikemanusiaan, batin Yudi.
Yudi menghirup udaranya dalam dalam. Semuanya sudah berakhir. Meskipun sidang belum digelar tapi ia yakin Priska akan mendapatkan balasan yang setimpal.
Semuanya sudah beres Mel, beristirahatlah dengan tenang.
Yudi kembali ke mobilnya. Senyumnya mengembang sempurna. Ada sesuatu yang lepas dari dadanya saat ini yang membuatnya merasa lega.
Sedangkan di dalam ambulan Priska menggigil dan meringis kesakitan. Wanita yang sebelumnya begitu cantik itu sekarang wajahnya pucat pasi. Menahan sakit di alat vital nya membuat Priska mengeluarkan air matanya.
" Shhhh sakit hiks, ini sangat sakit. Hiks apa yang terjadi padaku?" ucap Priska lirih.
Sipir wanita yang ikut di dalam mobil ambulan itu berdecih melihat Priska yang begitu kesakitan. Ada sedikit rasa iba namun tatapan jijik nya lebih mendominasi.
" Itu pasti karena ulah mu. Kau ini pelac*r atau apa sampai sampai milik mu menjadi seperti itu. Apa kau tidak bisa mencium nya, itu bahkan tercium bau nya."
Ucapan sang sipir membuat Priska tambah tergugu. Ia baru sadar mencium bau yang sungguh busuk dari alat vital nya itu. Kecantikan yang pernah ia banggakan itu seketika menguap. Ia bahkan merasa seperti sampah yang tidak diinginkan oleh semua orang.
🍀🍀🍀
Bardi memarkirkan mobilnya di depan sekolah Reni. Ya pria itu membulatkan tekadnya untuk menemui sang putri. Bagaimanapun juga Reni adalah darah dagingnya. Meskipun dia tidak akan bisa sah menjadi Ayah namun paling tidak dia bisa memberikan kasih sayang seorang ayah kepada sang putri. Bagaimana pun dia adalah ayah biologis Reni.
Reni terkejut saat keluar dari gedung sekolah dan melihat Bardi berdiri di sana. Ada rasa yang tidak bisa ia jelaskan. Dimana rasa itu sungguh berbeda ketika dia berhadapan dengan Yudi.
Hati Reni berkecamuk, ia pun melangkahkan kakinya mendekati Bardi. Jantung Bardi pun berdetak kencang. Baru kali ini ia bertatapan langsung dengan Reni. Kemarin saat berada di rumah, Bardi tidka berani menatap wajah sang putri.
" A-apa kabar nak?"
Etah mendapat dorongan darimana Reni langsung memeluk pria di depannya. Bardi sedikit terkejut namun sedetik kemudian ia pun membalas pelukan Reni. Keduanya tergugu. Bardi berulang kali meminta maaf. Ia sungguh merasa bersalah.
" Tidka perlu meminta maaf yah, semua adalah salah mama. Jika ada yang harus disalahkan maka mama lah orangnya."
Bardi mengurai pelukannya, ia kemudian mengajak Reni untuk masuk mobil. Bardi mengutarakan keinginannya untuk menemui kedua kakek nenek Reni .
Sepanjang jalan ke rumah keluarga Susmita, Reni dan Bardi saling berbicara. Bardi menceritakan bahwa selama ini dia selalu mengawasi Reni dari kejauhan. Bardi juga menceritakan mengenai boneka teddy yang ia berikan. Air mata Reni luruh. Sama sama diberi boneka oleh Yudi tapi entah mengapa waktu itu dia lebih sayang boneka teddy pemberian om om yang tidak di kenal. Bardi mengusap rambut kepala sang putri.
Ckiiit
Bardi memarkirkan mobil nya tepat di halaman rumah Pak Susmita, ayah Priska. Selain untuk meminta maaf, Bardi juga merasa berkewajiban untuk menyampaikan kondisi Priska saat ini.
" Assalamualaikum."
Bardi mengucapkan salam, kakek dan nenek Reni sedikit terkejut namun tak lama kemudian mereka tersenyum.
" Masuk nak."
Bardi sedikit haru mendengar ucapan lembut Pak Susmita. Pria yang dulunya terkenal begitu keras dan tidak menyukainya itu kini sungguh tampak berbeda.
Mereka kini duduk bersama. Bardi pun mulia mengutarakan maksud kedatangannya.
" Pak, buk, maafkan saya."
" Sudah tidak perlu dibahas. Kesalahan itu tidak hanya dilakukan oleh mu saja tapi Priska juga."
Bardi bernafas lega kedua orang tua Priska sungguh berbesar hati. Dengan berhati hati Bardi menyampaikan apa yang terjadi dengan Priska. Perihal dia ditahan karena kasus pembunuhan berencana Melati dan pengeroyokan terhadap keluarga Hasna putri dari Yudi.
Kedua orang tua Priska tentu terkejut sang anak bisa berbuat seperti itu. Mereka selama ini berusaha mendidik Priska dengan baik, namun sepertinya Priska memanglah anak yang susah untuk diatur dan diarahkan. Priska selalu berbuat sesukanya sendiri.
" Apa bapak dan ibu mau ikut ke kota untuk mengunjungi Priska?"
Bardi menawarkan hal tersebut karena dia tahu bahwa kedua orang tua yang ada di depannya itu sudah lama tidak bertemu dengan anaknya. Bardi tahu selama Priska ikut Yudi ke kota, dia tidak pernah sekalipun pulang. Bahkan saat hari raya pun dia enggan pulang. Ada saja alasannya untuk tidak pulang
Pak Susmita dan istrinya pun setuju untuk ke kota. Reni yang mencuri dengar sedikit sedih mendengar mama nya berada di penjara. Tapi apa yang dilakukan sang mama memanglah menyalahi hukum. Reni memejamkan matanya sejenak untuk menelan kekecewaan dan kesedihannya.
TBC