Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 44. Makan Siang


Ternyata pilihan Irene untuk menemui Dipta dan mengobrol tidak salah. Mod-nya seketika menjadi bagus kembali. Namun pembicaraan mereka harus berhenti di sini karena waktu sudah siang.


" Baiklah Dip, aku harus segera kembali ke kampus. Setelah dzuhur aku harus masuk ke kelas."


" Oke Ren, happy your day ya. Kapan-kapan kita ngobrol lagi."


Irene mengangguk, dan wanita itu pun melenggang pergi. Dipta memandang bahu Irene yang mulai menjauh.


" Dari dulu kau wanita yang menyenangkan Ren. Entah mengapa dulu aku bisa menolak mu. Aku sungguh minta maaf. Sekarang aku benar benar baru merasakan gimana rasanya patah hati."


Dipta membuang nafasnya kasar. Selalu, penyesalan selalu datang di belakang. Seketika ia teringat kembali kepada Hasna.


" Apa benar Hasna sekarang sudah menikah dengan Radi. Haish ... Pria itu, tidak pernah sekalipun dekat dengan wanita sekalinya dekat langsung jadi istri. Aku turut bahagia Rad, semoga kalian bahagia."


Dipta tersenyum melihat foto Hasna di ponselnya. Seketika itu juga ia langsung menghapus semua foto yang tersimpan rapi di galeri ponselnya. Foto yang selama ini dia ambil secara diam diam itu sudah waktunya ia hilangkan.


" Haish, bini orang ini. Dosa kalau dilihatin terus."


*


*


*


Jam makan siang kali ini Radi memutuskan pulang ke apartemen. Tadi sebelum berangkat Hasna bilang mau memasak.


Ting tong


Ceklek


" Assalamualaikum Has ... "


Radi melepas sepatunya dan menggantinya dengan sandal rumah. Ia berjalan menuju ke dapur. Di sana Hasna sedang memasak. Istrinya itu mengenakan celemek dengan rambut yang digulung sembarangan ke atas. Beberapa helai rambut tersisa dan menempel di leher nya yang mulus. Leher itu sedikit basah karena keringat namun terlihat seksi di mata Radi.


" Aduh jadi laper. Tapi bukan perut yang laper. Haish."


Radi bergumam kecil sambil terus melihat tingkah polah Hasna di dapur. Ia bersandar di dinding sambil menggulung kedua lengan bajunya lalu melipat tangannya di depan dada.


" Eh kak, kapan pulang. Aku nggak dengar kakak masuk. Bentar ya, bentar lagi mateng kok. Kakak ganti baju aja dulu. Kakak hari ini nggak sampai sore kan ngajar nya?"


" Baru aja masuk, aku udah ngucapin salam tapi nggak kamu jawab."


Hasna hanya nyengir memperlihatkan gigi giginya.


Radi tertawa melihat tingkah Hasna, istri kecilnya itu jika sudah berbicara tidak akan ada jeda. Ia pun melenggang memasuki kamar. Ya hari ini dia memang hanya ada dua kelas. Itu pun cuma sampai siang saja.


Radi pun melepas kemeja dan celana panjangnya lalu menaruhnya ke keranjang baju kotor. Ia mengganti nya dengan celana pendek hitam dan kaos oblong berwarna putih.


" Kak, makan yuk. Udah mateng."


Radi tersenyum mendengar panggilan sang istri. Ia pun bergegas menuju ruang makan.


" MasyaAllaah istriku pinter juga masaknya."


Mata Radi berbinar melihat makanan yang tersaji di meja. Dengan telaten Hasna mengambilkan nasi dan lauk pauk yang diinginkan Radi.


" Nah, makanlah kak."


Radi mengangguk, setelah mengucapkan doa keduanya pun makan bersama. Radi terlihat puas dengan makanan yang di masak Hasna.


" Alhamdulillaah."


" Apakah enak?"


Radi mengangkat dua jempolnya ke udara sebagai nilai dari masakan Hasna. Hasna terkekeh pelan mendapat reaksi dari sang suami. Hasna hendak berdiri dan membereskan meja makan, namun oleh Radi di halang.


" Duduklah, biar aku yang mencuci piring nya."


" Terimakasih kak. Kalau gitu aku mandi dulu ya."


" Apakah mau mandi bersama?"


" Eh ... "


" Haish, apa apa an sih. Masa dibecandain gitu aja udah ngeblush."


Hasna menepuk nepuk kedua pipinya, ia pun langsung masuk ke kamar mandi dan melepas semua pakaian yang ada di tubuhnya. Ia lalu mengisi bath up dan menambahkan sabun serta aroma terapi.


Wanita itu masuk ke dalam bath up dan merasakan sensasi sabun lalu menghirup aroma terapi tersebut.


" Masyaa Allaah. Nikmatnya berendam begini. Habis keringetan masak lalu berendem. Ah, nikmat mana yang kau dustakan."


Hasna pun memejamkan matanya, lambat laun rasa kantuk menyerang dan dia tidak sadar tengah tertidur di dalam bath up.


Di luar Radi melihat jam di dinding. Sudah sejam Hasna tak kunjung keluar.


" Ini bocah kok nggak keluar keluar. Masa iya sih mandi begitu lama. Jangan jangan nih bocah ketiduran lagi."


Radi seketika bangun dari duduknya dan berjalan cepat ke kamar. Di kamar Hasna tidak terlihat sama sekali. Radi kemudian mengetuk pintu kamar mandi.


Tok ... Tok ... Tok ...


" Has ... Hasna ... Has ..."


Tidak ada jawaban. Radi kembali mengetuk pintu kamar mandi itu tapi kali ini lebih kuat.


Bagh ... Bagh ... Bagh ...


" Hasna ... Has ... !!"


Lagi lagi tidak ada jawaban. Dengan terpaksa Radi pun masuk ke kamar mandi.


" Haish. Bodo amat, udah jadi istri ini. Udah sah ini. Lho nggak di kunci."


Radi menggerakkan handle pintu kamar mandi, ia menekannya kebawah. Ternyata pintu teraebut tidak terkunci.


Ceklek ...


Radi langsung masuk ke kamar mandi. Di sana terlihat Hasna tengah tertidur di dalam bath up penuh dengan sabun. Radi menggelengkan kepalanya melihat tingkah gadis itu. Ia berjalan mendekat dan berjongkok di samping bath up. Radi lalu menusuk nusuk pipi Hasna dengan jari tangannya.


Sekali dua kali , Hasna tidak berekasi apa apa. Ketika kalinya Hasna bergerak dan mulai mengerjapkan matanya.


" Erghh apa an sih."


Hasna masih belum sadar jika di kamar mandi itu ada Radi. Lagi, Radi kembali menusuk nusuk pipi Hasna dengan jari, ia terkekeh geli melihat reaksi Hasna yang belum juga membuka matanya.


" Siapa sih ... "


Pak ...


Hasna mengepakkan tangannya sehingga membuat air di bath up itu bergelombang dan menciprat. Ternuata cipratan itu lebih tampak seperti guyuran karwna wajah dan badan Radi menjadi basah.


" Has!"


" Kak! Kakak ngapain di sini?"


Mata Hasna membola saat melihat tampilan tubuh Radi. Kaos putih itu melekat sempurna di tubuh pria itu. Bahkan roti sobek di perutnya jadi tembus terlihat meskipun terlapisi kaos.


Glek ...


Hasna menelan saliva nya dengan kasar. Ia mencoba mengalihkan pandangan matanya dari tubuh seksi Radi.


" Kamu ini yang ngapain di kamar mandi sampai sejam. Malah tidur lagi di bath up, kalau tidur itu di kasur."


Radi membuka kaos nya dengan acuh di depan Hasna dan melempar ke keranjang pakaian kotor. Pria itu kembali menoleh ke arah Hasna.


" Buruan keluar dari sana, nanti kamu masuk angin."


Hasna hanya bisa mengangguk, ia masih terpaku dengan tubuh suaminya yang begitu menggoda itu. Hasna kemudian menggelengkan kepalanya lalu memasukkan ke dalam air.


Brrble ... Breeble ... Haaaah ...


" Has! Kendalikan dirimu Has! Jangan jadi agresif!"


TBC