Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 55. Hati-hati


Di seberang pulau sana Radi dan Hasna tengah menikmati liburan mereka. Namun rupanya Hasna tengah kesal kepada sang suami lantaran sudah 2 hari ini ia dikurung di kamar dan tidak pergi kemana mana. Sudah dari tadi wanita itu bersungut-sungut dan memajukan bibirnya.


" Kak, ayo pergi. Percuma liburan kalau kita cuma di kamar," rengek Hasna.


" Siapa bilang percuma, aku lebih senang kita di kamar dari pada pergi ke luar," jawab Radi asal sambil masih memeluk sang istri di atas ranjang.


Entahlah, Radi sangat enggan melepaskan istri kecilnya itu. Ia hanya ingin terus memeluk Hasna dan tidak ingin pergi kemana pun.


" Kak, tinggal 2 hari lagi kita pulang. Masa iya sih kita cuma di kamar."


Hasna masih berusaha meminta kepada sang suami untuk membawanya pergi ke luar. Radi pun melepaskan pelukannya. Ia menatap wajah sang istri yang terlihat begitu memelas.


" Beneran mau keluar?" tanya Radi yang dijawab dengan anggukan kepala oleh Hasna. " Dengan satu syrat," imbuh Radi dengan senyum penuh arti. Hasna pasrah dengan syarat yang diajukan sang suami. Ia pun mengangguk.


Radi tidak mau menyia nyiakan persetujuan Hasna. Ia pun langsung meraup bibir ranum milik sang istri dan menyesapnya. Tangannya bergerilya kemana saja ia mau. Meremas, mengusap,membelai, dan meraba. Tak puas dengan tangan kini bibir Radi yang bergerilya mengabsen inci demi inci tubuh polos sang istri hingga berkali kali Hasna memekik. Suara suara lenguhan pun Hasna keluarkan membuat Radi semakin bersemangat. Tak lama Radi akhirnya memulai acara inti nya, penyatuan keduanya pun terjadi lagi. Hasna dan Radi terkulai lemas di atas ranjang. Peluh keduanya bercucuran.


" Terimakasih sayang, pagi pagi begini memanglah bagus untuk berolah raga mengeluarkan keringat."


Hasna hanya tersenyum kecil mendengar ucapan sang suami. Sungguh semakin kesini suaminya semakin mesum. Ia tidak menyangka Radi bisa menjadi sangat berbeda sekarang.


*


*


*


Liburan seminggu berlalu. Rasanya cepat sekali usai. Kini keduanya harus mulai kembali menjalani rutinitasnya. Tapi sebelumya Radi dan Hasna memutuskan untuk mengunjungi rumah kedua orang tua mereka.


Pertama yang akan dikunjungi adalah rumah Yudi. Hasna pun sudah menyiapkan beberapa oleh oleh untuk sang papa.


Terlihat dari dalam mobil, papa Hasna tersebut tengah menyirami tanaman tanamannya. Hasna segera turun saat Radi memarkirkan mobilnya.


" Papa !"


" Assalmualaikum Has. Salam kalau datang tuh."


" Heheh maaf, waalaikumsalam pa."


Hasna langsung memeluk papanya itu. Sedangkan Radi, ia berjalan keluar dari mobil sambil membawa paper bag yang sudah dipersiapkan.


" Assalamualaikum pa."


" Waalaikumsalam nak Radi, ayo semua masuk dulu."


Radi menyalami tangan Yudi lalu mencium punggung tangan tersebut. Ketiganya masuk ke dalam rumah dengan Hasna yanng bergelayut manja di lengan sang papa.


" Has, kamu ini lho sudah punya suami masih kayak gini."


" Pa ..."


Radi hanya terkekeh geli melihat kelakuan istri kecilnya itu. Hasna kadang bisa terlihat dewasa tapi juga bisa terlihat begitu kekanak-kanakan.


Yudi membawa anak dan menantunya itu ke ruang makan. Radi pun menyerahkan oleh oleh dan langsung di buka Yudi.


" Waah pie susu bali, papa suka banget ini. Lalu apa ini wuih sarung tenun khas lombok? Makasih ya udah repot repot. Oh iya nak Radi, saat mau pergi apa nak Radi tidak bilang ke ayah dan bunda? Kemarin mbak Sekar nanyain?"


Radi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sungguh dia lupa berpamitan dan setelah itu keduanya baik Hasna dan Radi sengaja tidak menyalakan ponsel mereka. Semuanya atas usul Radi. ia ingin liburannya kali ini benar benar tidak ada yang mengganggu.


" Kak, emang kakak nggak bilang ke bunda? Ngaco deh kakak mah. Ntar pasti dimarahin bunda."


Hasna gusar, ternyata liburan kemarin tanpa sepengetahuan ayah dan ibu mertuanya. Entah apa yang akan dikatakan kedua orang tua dari sang suami nanti.


" Oh iya Has, kenapa Hasna nggak bilang ke papa kalau Hasna diikuti orang tidak di kenal?" ucap Yudi.


" Eh papa kok tahu?" tanya Hasna.


" Maaf pa, Radi yang bilang untuk tidak memberitahu papa soal ini. Takutnya papa malah jadi kepikiran," sahut Radi.


" Kalian berdua perlu tahu, terutama Hasna. Yang melakukan itu semua adalah Priska," jelas Yudi yang membuat Hasna tentu saja sangat terkejut.


Yudi pun menjelaskan lebih lanjut mengenai Priska. Bahkan rekaman video yang diberikan oleh Bardi ia putar di depan anak dan menantunya.


Hasna dan Radi sama-sama terkejut. Hasna sampai membungkam mulutnya sendiri dengan kedua tangannya, sedangkan Radi tangannya mengepal sempurna. Iya terlihat sangat marah, terlebih kalimat pria dalam video itu yang akan menikmati tubuh Hasna. Darahnya seakan mendidih, ia ingin sekali bisa menghajar pria itu.


Radi pun berpikir untuk meninggalkan Hasna di rumah kedua orang tuanya. Ia akan sangat khawatir jika meninggalkan Hasna di apartemen sendirian.


" Kalian berdua harus hati-hati," ucap Yudi.


" Mungkin sementara ini Hasna Lebih baik tinggal di rumah Bunda saja. Lebih aman di sana daripada tinggal di apartemen. Bagaimana Sayang apakah kamu setuju?" usul Radi.


" Aku ikut kata kakak saja, Lagian takut juga sih kalau di apartemen sendirian. Takut orang tersebut nekat."


Keduanya memutuskan untuk tinggal di rumah kedua orang tua Radi. Namun sepertinya sebelum itu mereka harus kembali ke apartemen dulu untuk mengambil barang barang mereka. Terutama kertas kertas skripsi milik Hasna.


🍀🍀🍀


Di sebuah rumah sepasang wanita dan pria tengah bergumul di atas ranjang. Namun tiba tiba keduanya meringis keskaitan.


" Rid, mengapa sangat sakit."


" Entahlah Pris, aku juga merasa sakit di k*m*l*anku. Shhh ..."


" Ya ampun Rid, berdarah. Milikku juga sakit Rid."


" Pris milikmu juga berdarah. Sebaiknya kita stop dulu bermain. Mungkin karena beberapa hari ini kita sering melakukannya sehingga ada luka baik milikmu ataupun milikku."


Keduanya menuju ke kamar mandi untuk mandi dan membersihkan area inti mereka.


" Oh iya Pris, anak ingusan itu sudah kembali."


" Benarkah?"


" Ya, baru saja. Kapan kita akan melakukannya?"


" Bagaimana kalau hari ini. Lebih cepat lebih baik Rid."


Ridwan mengangguk menyetujui usul Priska. Keduanya keluar kamar mandi untuk berganti pakaian. Setelah membersihkan alat vit*l mereka, keduanya merasa lebih nyaman dan siap untuk melakukan rencana nya. Ridwan bahkan langsung menghubungi beberapa kenalannya. Ya, mereka adalah beberapa preman yang memegang daerah komplek perumahan yang ditempatinya.


" Bagaimana, apa kalian bisa membantu ku. Jangan khawatirkan soal bayaran."


" Oke, kami minta DP dulu."


" Tidak masalah, setelah ini aku transfer. Kalian datang lah ke rumah ku segera."


Ridwan dan Priska tersenyum lebar. Mereka sungguh tidak sabar dengan hasilnya. Terlebih Priska, ia tidka sabar melihat Yudi semakin hancur saat mengetahui apa yang akan terjadi pada putri kesayangannya.


TBC