Menggaet Hati Dosen Killer

Menggaet Hati Dosen Killer
MHDK 56. Perasaan Tidak Enak


Setelah dari kediaman Yudi, Hasna dan Radi memutuskan kembali ke apartemen untuk mengambil barang barang mereka. Namun entah kenapa Radi merasa sedikit risau. Hasna pun bisa melihat raut wajah suaminya yang tidak biasanya itu.


" Kak, kakak kenapa? Apa ada sesuatu,"tanya Hasna.


" Entahlah sayang, kakak juga nggak tahu. Tapi kakak merasa nggak enak aja. Semoga bukan apa apa," jawab Radi panjang.


Keduanya membereskan barang yang akan di bawa ke rumah ayah dan bunda. Dua koper besar siap dibawa, koper Radi mayoritas diisi oleh buku buku yang ia gunakan untuk mengajar sedangkan milik Hasna berisi segala hal keperluannya.


Jantung Radi tiba tiba berdetak begitu kencang. Sungguh perasaannya sangat tidak enak. Ia merasa akan terjadi sesuatu nanti, namun Radi secepat mungkin menepisnya. tiba di parkiran ia merasa ada yang mengawasi dia dan Hasna.


" Sayang, apa kamu merasa ada sesuatu yang aneh?"


Hasna mengangguk, sedari tadi keluar dari apartemen ia merasa diikuti oleh seseorang. Hasna dan Radi mendengar suara langkah kaki mendekati merek. Lambat laun suara langkah kaki itu semakin mendekat. Hasna berpegangan erat pada lengan Radi.


" Tuan, nona, apakah anda berdua baik baik saja?"


Tiba tiba muncul dua orang dihadapan Hasna dan Radi. Sepasang suami istri tersebut sungguh terkejut bukan main. Bahkan seketika wajah mereka pucat pasi. Namun Radi berusaha bersikap tenang, ia tidak ingin sang istri bertambah panik.


" Kalian siapa? apa kalian yang selama ini mengikuti Hasna?"


" Maaf tuan, kami diperintahkan oleh dokter Dika untuk mengawal anda dan nona Hasna dikarenakan penguntit yang terus membuntuti nona Hasna."


"Dika? Bagaimana dia tahu soal itu?"


" Maaf tuan kami tidak tahu soal itu. Yang kami tahu pasti dokter Dika memang memerintahkan kami seperti itu."


Baru selesai keduanya berbincang, tiba tiba muncul sekelompok orang tak dikenal dari arah lainnya. tampilan mereka seperti preman pada umumnya. Namun yang membuat keduanya bergidik ngeri adalah mereka membawa berbagai senjata tajam di tangan mereka.


" Apa mereka teman-teman mu?" tanya Radi.


" Bukan tuan, itu musuh," jawab salah seorang dari dua pengawal yang Dika kirim, lebih tepatnya Silvya yang mengirim mereka berdua.


" Maksudmu?"


" Kemungkinan mereka adalah suruhan orang orang yang menguntit anda berdua. apakah anda bisa ilmu beladiri Tuan."


Radi nampak berpikir dengan pertanyaan pengawal tersebut. Dia pernah belajar taekwondo namun tidak sampai dikatakan mahir, ia hanya sebatas bisa.


" Aku hanya sebatas bisa, tapi aku belum pernah melawan orang."


kedua pengawal tersebut tersenyum,mereka pun meminta Radi dan Hasna untuk masuk ke dalam mobil dan saat kedua orang tersebut itu menghadapi para preman, Radi dan Hasna segera diminta meninggalkan tempat tersebut.


" Hei, bajingan jangan pergi!"


" Serang mereka, jangan biarkan mereka lolos."


Para preman tersebut langsung menyerang orang kiriman Silvya. Sedangkan Radi mengikuti arahan para pengawal tersebut untuk segera meninggalkan tempat parkir tersebut. Namun ada sekitar dua orang yang mengejar mobil Radi. Merasa tidak akan terkejar seorang preman melemparkan sebuah golok.


Prang !!!


Golok tersebut mengenai kaca belakang mobil Radi.


"Kak !!"


" Sayang, kau tidak apa pa?'


" Tidak kak, aku tidak apa apa. Sebaiknya kita segera pergi dari sini."


Radi mengangguk, ia segera menekan pedal gas nya dengan dalam. Ia harus bisa segera menjauh dari tempat itu. Sebuah golok masih berada di dalam mobil mereka. Hasna sejenak menengok ke belakang, ia merasa merinding di sekujur tubuh membayangkan bagaiman jika senjata tersebut mengenai tubuh mereka. Radi tahu apa yang dipikirkan sang istri. Ia pun menggenggam tangan Hasna dengan erat.


" Jangan berpikir yang aneh aneh, bentar lagi kita akan sampai di rumah."


" Aku hanya takut mereka mengejar."


" Semoga mereka berdua bisa menghadapi semuanya."


Di tempat parkir apartemen kedua orang suruhan Silvya masih bergulat dengan 10 orang preman. Mereka tampak sedikit kualahan.


Bugh


Bugh


Ach ... !


Suara erangan kesakitan salah satu preman membuat yang lainnya teralihkan fokusnya. Dan yang jelas merek tidak sadar bahwa saat ini mereka sudah di kepung.


Ternyata Silvya menurunkan bantuan saat mengetahui bahwa kedua anak buahnya di serang oleh para preman. Semua terlihat dari kamera pengawas yang sudah di retas oleh Drake.


Kedua orang tersebut pun merasa lega bala bantuan sudah tiba. Para preman langsung diringkus oleh rekan rekannya.


" Huft, untunglah mereka segera datang," ucap pengawal satu.


" Ya benar, aku sungguh tidak tahu jika mereka telat," imbuh pengawal 2.


🍀🍀🍀


Hasna dan Radi sampai di kediaman Dwilaga. Keduanya menghela nafas kelegaan. Namun dapat Radi rasakan bahwa istrinya itu masih ketakutan. Tubuh Hasna bergetar, dengan cepat Radi memeluk tubuh sang istri untuk menenangkan.


" Apakah sudah tenang?"


" Iya kak, lumayan."


" Ayo kita turun."


Namun sebelum turun Hasna masih sempat melihat kebelakang mobilnya. Ia bergidik ngeri.


" Besok kita ganti mobil saja."


Hasna mengangguk setuju dengan usulan Radi. Keduanya masuk ke rumah sambil membawa koper. Aryo dan Sekar sedikit terkejut dengan kedatangan putra dan menantunya. Terlebih wajah Hasna terlihat sangat pucat.


" Assalamualaikum yah, bund."


" Waalaikumsalam."


" Laah, Hasna kenapa? Sakit? Kok pucet. Istrimu kamu apain kak?"


Radi memutar bola matanya malas mendengar ucapan sang bunda. Ia pun menjelaskan apa yang terjadi. Kedua orang tua itu terkejut. Bahkan Aryo segera berlari keluar melihat mobil Radi. Pria paruh baya itu pun kembali terkejut, terlebih melihat golok yang masih berada di dalam mobil. Sungguh sangat beruntung, Radi menempatkan koper koper tersebut di kursi belakang bukannya di bagasi. Jadi golok tersebut terhalang oleh koper dan tidak melesat mengenai keduanya.


Sekar memeluk Hasna, menantunya itu terlihat masih sangat ketakutan. Niatnya ingin memarahi sang putra sulung karena liburan tidak meminta izin akhirnya urung. Ia tidak tega melihat sang menantu.


" Priska sungguh jahat," ucap Sekar tiba tiba.


" Iya ya bund, keterlaluan sekali. Semoga setelah ini wanita itu bisa ditangkap. Kak, mobilnya biar begitu aja dulu untuk barang bukti," ucap Aryo.


Radi mengangguk, ucapan sang ayah memang benar. Ia tadi malah tidak berpikir sampai sejauh itu. Tadinya ia ingin buru buru membuang mobil tersebut karena sang istri sungguh ketakutan.


Sekar meminta Radi membawa Hasna ke kamar agar bisa istirahat dan lebih tenang. Ia tahu menantunya itu pasti syok.


" Kak, jangan pergi."


" Nggak, aku disini kok."


Radi memeluk Hasna hingga istrinya itu tertidur pulas. Baru Radi menggeser tubuhnya dan bangkit dari ranjang. Ia pun berjalan pelan menuju ke bawah. Rupanya di sana sudah ada Dika dan Silvya. Radi pun menanyakan perihal pengawal yang dikirim oleh Dika. Dika pun menjelaskan dengan seksama tanpa memberitahu bahwa orang orang tersebut adalah anak buah sang istri.


" Bagaimana Hasna kak," tanya Silvya bersimpati.


" Sedikit syok, tapi dia sekarang udah tidur. Oh iya apakah aku harus melaporkannya ke pihak berwajib?" ucap Radi.


" Tidak perlu kak, orang orang yang ku suruh sudah melakukannya," sahut Dika.


" Syukurlah."


Radi menghela nafas kelegaan, ia sungguh tidak menyangka mengalami hal seperti itu dalam hidupnya.


TBC