
Itu adalah sebuah bangunan sekolah dasar yang sudah ditinggalkan hingga terbengkalai dan hanya menjadi reruntuhan saja, sekolahnya sendiri telah dipindahkan dan dalam waktu dekat tempat ini hanya akan dijadikan pusat perbelanjaan.
Alexia berjalan mengikutiku dari belakang mencoba sebaik mungkin untuk tidak terpeleset.
Sejauh ini aku mengingat semuanya terlebih dimana aku duduk sebelumnya, tapi lebih dari itu aku sempat menyembunyikan beberapa hal dibalik papan tulisnya.
Alexia terkejut dengan itu.
"Ini ilustrasi yang indah, tapi kenapa hanya ada satu model?" tanyanya.
"Aku juga tidak tahu, setelah kecelakaan aku sering menggambar ini."
"Apa menurutmu gambar ini terlihat seperti Bu Nanase."
Ketika Alexia mengatakannya ada sebuah kejutan di dalam kepalaku, aku menyadarinya lalu buru-buru berlari ke luar sekolah. Aku mengalami kecelakaan tidak jauh dari sini dan kenapa aku mengalaminya karena aku sebelumnya menyelamatkan seseorang yang lebih tua dariku.
Tepat saat aku memikirkannya, di persimpangan jalan tampak Bu Nanase berdiri di dekat lampu lalu lintas jalan, dia melirik ke arahku yang tengah menarik nafas tersengal-sengal.
"Tora, kenapa kamu ada di sini bukannya pelajaran sekolah sudah dimulai?"
"Itu juga hal yang aku ingin tanyakan pada Bu Nanase, kenapa Anda ada di sini?"
"Aku selalu datang ke sini setiap hari, dulu ketika kecil aku tinggal di sini karena ayahku mengembangkan sebuah game bersama dengan seseorang namun saat itu aku terpisah dengannya, saat aku berdiri di trotoar ada sebuah truk yang kehilangan kendali dan melaju ke arahku namun seorang anak yang lebih muda dariku muncul lalu menyelamatkanku, saat itu ia benar-benar sangat pemberani bahkan setelah kehilangan ingatan ia terus tersenyum dengan berani.. aku rasa dia sudah tumbuh jadi anak yang keren sekarang yang mampu menggerakkan banyak orang dan membuat mereka menyadari arti hidup sebenarnya, bahwa hidup sama menyenangkannya dengan sebuah permainan game."
Air mata jatuh dari wajahku, kenapa aku tidak menyadarinya dari awal bahwa aku dan Bu Nanase. Tidak, Nanase sudah mengenal sejak lama.
Dan alasan ayahnya datang kemari bukan hanya sebatas ingin menilai game hasil kami saja melainkan dia ingin bertemu denganku.
Orang yang mengembangkan game bersama ayah Bu Nanase adalah ayahku. Dalam waktu singkat itu kami memang sering mengobrol dan bermain bersama.
Nanase menahan rambutnya yang berkibar tertiup angin, itu mengingatkanku saat masih kecil tepatnya saat keluar rumah sakit hal seperti ini juga terjadi dan ia mengatakannya kembali.
"Tora terima kasih telah menyelamatkanmu, aku pikir aku jatuh cinta padamu."
Aku mendekat padanya lalu memeluk Nanase, kami saling memberikan kehangatan satu sama lain, ini adalah sebuah pelukan yang sudah aku lupakan sejak lama.
Beberapa mobil melintas di sisi kami, namun seolah terlarut dalam momen tersebut aku merasa seolah jam benar-benar berhenti sekarang.
Alexia yang sudah muncul berdeham sekali.
"Seorang guru dan murid berpelukan di tempat umum dengan bergairah, apakah aku harus memanggil polisi?"
Kami segera menjaga jarak.
"Aku pikir barusan kami terbawa suasana," kataku.
"Benar sekali, owwh... apa perasaanku tapi di sini terasa panas."
"Melihat kalian juga membuatku terbakar.. jadi cepat selesaikan ini, aku akan menunggu di sana."
Kami ditinggalkan begitu saja.
Sementara Nanase terlihat gelisah aku menimbang-nimbang apa yang harus aku katakan dan menemukan satu hal untuk dikatakan.
"Aku juga menyukaimu, jika tidak keberatan denganku maka kita bisa."
Sebelum aku menyelesaikan perkataanku, dia sudah melompat padaku.
"Yattaaa.... kita akan menikah, yeh."
"Hentikan itu, terlalu cepat... terlalu cepat."
Samar-samar aku melihat Alexia yang tersenyum tipis, entah kenapa dia terlihat sangat keren.