Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 49 : Bermain Game Bersama


Sari membenamkan dirinya dalam tumpukan buku-buku milik Rin, sementara aku memperhatikan naskah yang sedang dikerjakan oleh Rin yang duduk di mejanya.


Dengan rilisnya gamenya kini popularitas Magic School Assassin telah meroket, beberapa studio film bahkan sedang berusaha untuk membujuk penerbit agar diizinkan memproduksi filmnya.


Aku senang bahwa karir Rin menjadi penulis terkenal bukan isapan jempol belaka. Terlebih dibandingkan dirinya aku yang lebih beruntung karena menemukannya sebagai penulis naskahku.


"Aku senang bisa membaca naskah lebih awal dari siapapun, terutama dari penulis terkenal."


"Tolong jangan membuatku malu."


Rin memegangi pipinya selagi menggeliat. Tingkahnya yang seperti ini terkadang sering terjadi.


Aku melirik ke arah Sari, karena kami sudah terlalu lama di tempat ini maka sudah waktunya kami pulang.


Ketika aku membaringkan diriku di tempat tidur aku memeriksa ponselku dan menemukan sebuah pesan dari Bu Nanase.


Seperti biasa ia selalu hobi mengirimkan foto-foto dirinya, sekarang ia menunjukkan dirinya yang sedang berada di balkon dengan gelas jus di tangannya sembari menuliskan 'Apa ini terlalu manis untukmu?' aku memang merasa demikian tapi jika aku memujinya dia akan memborbardir diriku dengan sifat jahilnya, jadi aku mengirim emoticon jempol untuk membalasnya.


(Hanya itu, tidak ada yang lain?)


(Tidak ada)


(Dasar dingin, aku akan mengirim foto telanjangku sebaiknya yang ini aku dapat pujian)


(Maka bersiap-siaplah untuk aku blokir) tulisku demikian.


Dia membalas dengan emoticon ikan koki yang menggebungkan pipinya, guru ini selalu tidak bisa ditebak.


(Ada sebuah game yang bisa dimainkan kita bersama, mau mencobanya sebentar?)


Ini masih jam 8 maka aku menerima tawaran yang diberikan Bu Nanase, aku duduk di depan komputer untuk mendownload game yang dikatakan Bu Nanase.


Itu adalah game petualangan RPG yang memungkinkan playernya membuat karakter sesuai keinginan, aku login dengan karakter seorang pria kurus yang terlihat kekurangan darah, mengantuk serta membawa pedang di punggungnya.


Aku langsung dikirim kota awal dan beberapa saat kemudian karakter penyihir loli dengan rambut merah muda muncul, dia terus melompat-lompat di depanku selagi mengirimkan permintaan pertemanan.


Seperti yang diduga semua orang, dia B


Kami melakukan obrolan kecil di dalam sana.


(Kenapa pilih loli?)


(Bukannya pria suka loli, ini kesempatan bagus untuk mencobanya 🖤)


(Lalu apa Bu Nanase pernah memainkan game seperti ini sebelumnya?)


(Jangan remehkan aku, game seperti ini sangat mudah untuk ibu >,<)


Ketika di padang rumput dia mati sebanyak 20 kali, di rawa 10 kali, dan terkena jebakan 50 kali. Semua itu terjadi hanya dalam dua jam pertama.


(Lihat ada harta karun, mari buka)


Dia tipe orang yang selalu tertipu dengan hal itu. Jelas sekali itu merupakan monster mimic yang menipu siapapun yang lewat hingga pada akhirnya peti itu menerkam Bu Nanase.


Perlu dua menit untuk reset dan jika anggota party semuanya mati kami akan langsung dikirim kembali ke kota awal.


Aku menelepon Bu Nanase.


"Jangan bilang bahwa ibu tidak pandai bermain game apapun."


"Benar aku tidak pandai, kamu puas Hueeehh."


"Yah tidak usah nangis juga."


"Dasar maniak game."


"Ibu sangat nggak jelas," kataku menutup ponsel.


Padahal dia yang mengajakku main game.


Memikirkannya hanya akan membuat kepalaku sakit lebih baik aku tidur. Sebelum itu aku menuliskan selamat malam dan mengatakan bahwa permainan barusan menyenangkan.


Dan Bu Nanase terus mengirimkan stiker hati yang membuatku merinding.