Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 67 : Kerja Sama


Kami berhenti bercanda dan membiarkan Michan untuk menjelaskan, singkatnya ia ingin menggunakan nama kami juga dalam pembuatan game yang akan dibuatnya. Itu wajar karena kami sebelumnya mengalahkan mereka.


Walau dibilang kerjasama kami diberikan perkejaan masing-masing.


Michan ingin membuat sebuah game edukasi untuk permainan game 6-12 tahun. Di dalam satu game terisi 6 game dan kami mengambil setengahnya.


"Tiga game untuk permainan anak-anak, kurasa itu tidak sulit."


"Kalau begitu kita sepakat bukan, kami sudah mengambil tiga tema game.. membuang sampah, merawat pohon dan juga mendaur ulang kalian tinggal mengambil tema berbeda dari yang kami buat."


"Dimengerti."


"Waktu kalian cuma tiga bulan, nanti aku datang kemari untuk memeriksanya lagi."


Begitulah pertemuan singkat kami dengannya, setelah pergi kami kemudian mendiskusikannya.


"Tema yang mudah telah diambil olehnya, kita harus memikirkan ide baru karenanya," ucap Aden yang mendapatkan anggukan dalam Albert.


"Aku pikir kita bisa menemukan yang lainnya meskipun berada di tempat ini semalaman."


Aku tidak begitu ingin menghabiskan malamku di tempat ini, aku ingin pulang mandi dan tidur tentunya. Alexia dan Rin berfikir sama juga


Untuk mempersingkat waktu aku meminta semua orang memberikan usulan apapun, yang dengan cermat aku tulis semuanya di papan.


Setelah memikirkannya kami sudah memutuskan.


Game pertama adalah game bersih-bersih rumah.


Kedua game berjualan makanan.


Dan ketiga game balap sepeda.


Ketiganya memiliki pembelajaran di dalamnya, setelah matahari tenggelam kami makan malam bersama dan akhirnya aku bisa kembali ke rumahku sampai seseorang mengetuk pintu kamarku.


Aku pikir itu adikku namun ternyata Erna dengan pakaian tidurnya.


"Aku tidak bisa tidur bisa temani aku malam ini."


Jangan terlalu berfikir buruk tentangnya, apa yang dia katakan hanya mengajakku bermain game.


Dia memeluk PS5 yang aku pasangkan di ruang tamu.


Aku memberikan kontroler padanya.


"Jadi kamu mau main game seperti apa?"


"Bagaimana dengan bola?"


"Jangan khawatir tidak ada game yang tidak bisa aku mainkan."


Karena orangnya bilang seperti itu maka aku tidak masalah, dia main dengan baik di awal permainan dan di babak kedua dia hanya kemasukan satu gol dariku.


"Aaaah, aku kalah."


"Jadi kenapa kamu mengajakku main malam-malam."


"Hanya satu jawabannya, karena aku bosan."


"Alasan yang tidak terduga."


"Aku juga sesekali merasa bosan, apa lagi aku selama ini terus belajar.. Aku sempat berfikir, menyenangkan bisa kembali ke masa-masa SMA."


"Jangan khawatir soal itu, banyak orang yang berfikiran sama."


"Jadi kamu juga Tora?"


"Aku masih SMA jadi jelas tidak punya pikiran seperti itu."


Erna mengembungkan pipinya.


Yah, aku tidak keberatan untuk sekali-kali menemaninya seperti ini. Berbeda dengan kami Erna sudah berada di bangku kuliah semakin bertambahnya umur maka semakin cepat pula dirimu beradaptasi dengannya dan merindukan masa-masa sebelumnya.


"Mari coba game yang lain."


Dengan kekalahan telak aku pikir aku akan sedikit menahan diri. Beberapa saat kemudian aku menyadari bahwa Erna telah tertidur selagi bersandar di bahuku.


"Orang ini benar-benar."


Aku berfikir akan tidur juga jadi aku membaringkan dia di sofa dengan memberikan bantal serta selimut untuknya.


"Selamat malam Tora."


"Malam."


Barusan Erna pasti mengigau.


Pagi berikutnya hanyalah ada pelajaran yang membosankan seperti sebelumnya. Aku akan menemukan nama diriku berada di urutan pertama dan hal sebagainya. Namun sekarang ada pemuda yang menunjukku dengan tatapan penuh permusuhan.


"Aku tidak akan kalah, di ujian kelulusan sekolah aku akan mengalahkanmu."


Aku memiringkan kepalaku.


"Siapa?"