
Pembelajaran dilakukan seperti biasanya dan wali kelas kami Bu Nanase melakukannya pose imut untuk menyambut kami semua.
"Setelah mendengarkan pidato panjang kepala sekolah, aku akan menghibur kalian dengan sebuah nyanyian, bagaimana?"
Tentu tidak ada yang menginginkan hal itu, kebanyakan dari kami terlalu serius, berkat game yang kami buat banyak orang jenius yang berdatangan ke sekolah ini karena itulah apa yang aku janjikan pada mereka sudah terlaksana dengan baik.
"Jika kalian begitu seriusnya ingin belajar maka akan aku mulai dengan kuis yang sulit, siapapun yang menjawabnya akan dapat poin tambahan."
Semua orang terlihat bersemangat dan Bu Nanase jelas cukup kecewa karena tidak bisa menyanyi.
Kecantikan Bu Nanase jelas diabaikan di tempat ini.
Pembuatan game telah mencapai 50 persen, seharusnya saat waktunya tiba kami tidak akan kerepotan, di dalam ruangan UKS yang sepi aku telah berbaring di atas tempat tidurnya bersantai selagi memikirkan hal itu.
Karena tidak enak badan aku memutuskan kemari dan melewatkan pelajaran olahraga.
Secara terburu-buru pintu terbuka dan dari sana adikku Tiara muncul.
"Kakak aku dengar kamu sakit jadi aku datang kemari, biar aku periksa tubuhmu."
"Hentikan, jangan melepas pakaianku begitu saja."
"Aku harus memeriksanya."
Walau kami kakak adik kami sebenarnya tidak memiliki hubungan darah apapun, meski demikian kami bisa dibilang lebih dekat dari saudara.
Aku mendorong Tiara agar sedikit menjauh dan akhirnya dia duduk dengan wajah kecewa.
"Aku dengar air liur bisa sedikit menyembuhkan, mari kita berciuman?"
"Itu untuk luka luar."
Terkadang adikku mengatakan hal-hal tidak masuk akal dan vulgar.
"Aku hanya sedikit lelah, aku akan sembuh dalam beberapa menit lagi kurasa."
"Tetap saja belum bisa dipastikan, aku harus merawat kakak."
"Sebaiknya kamu kembali ke kelasmu."
"Itu benar, serahkan perawatan Tora padaku."
Bu Nanase dengan pakaian perawat tiba-tiba menyela.
Kami memasang wajah bermasalah.
"Kenapa jadi Anda yang di sini?" tanya adikku kesal.
"Hari ini guru UKS tidak masuk, jadi aku menggantikannya."
"Ia pasti telah menyuapnya, kakak akan berbahaya jika kamu berduaan dengannya."
"Aku juga sepakat."
"Tora membutuhkan perawatan, kamu harus keluar dan aku perlu mengunci pintu ini beberapa jam ke depan."
"Aku sudah tahu niat terselebungmu, aku tidak akan biarkan kakakku tetap berada di sini."
"Tapi ia sakit."
"Tapi kamu punya niat yang lain."
"Tidak mungkin, aku hanya seorang guru... aku juga akan mengajarinya biologis sekalian di sini."
"Biologis, jelas sekali mencurigakan."
Berkat adikku yang mengalihkan perhatian, aku akhirnya bisa keluar juga. Seharusnya aku ikut berolahraga saja walaupun hanya diam memperhatikan di sudut lapangan.
Aku menyesali pilihanku yang ingin berbaring di tempat UKS.
Di kelas Albert dan Rin menertawaiku.
"Harusnya kamu senang Tora, itu kejadian yang selalu terjadi pada protagonis komedi."
"Yang dikatakan Albert mungkin benar," tambah Rin percaya diri.
"Sama sekali tidak," jawabku singkat.
Tak lama kemudian Bu Nanase telah muncul dengan seorang gadis berambut pirang bergaya bor panjang. Ia memiliki mata hijau jade serta pembawaan diri yang menawan dan anggun seperti anak-anak bangsawan.
Semua bisa menebak bahwa dia adalah murid baru.
"Minta perhatiannya, kita kedatangan siswa pindahan silahkan perkenalan dirimu."
"Namaku Aura, sebelumnya aku bersekolah di luar negeri tapi sekarang setelah mendengar reputasi sekolah ini akhirnya ayahku mengizinkanku untuk kembali kemari dan membiarkanku tinggal di sini, salam kenal semuanya.. ke depannya mohon bantuannya."
Dia mendapatkan tepuk tangan meriah.
"Apa dia anak bangsawan atau diplomat?"
"Kelihatannya begitu."
Gadis itu menatapku lalu berkata dalam bahasa Prancis.
"Je vous ai trouvé."
Yang artinya aku menemukanmu.