
Semua orang yang tertidur terbangun dan kami semua keluar untuk memeriksanya, seharusnya mobil kami bisa melewati jembatan namun sekarang jembatan itu telah roboh dan hancur begitu saja.
Erna memegangi kepalanya.
"Kenapa hal ini terjadi, kita tidak akan bisa lewat ke sana."
"Apa tidak ada jalan lain?" tanya Bu Nanase.
"Tidak, hanya ini satu-satunya penghubung untuk sampai ke desa."
Walau jembatannya roboh ada tali yang bisa dilalui oleh orang-orang, jelas sekali bahwa jembatannya rusak sudah dari lama.
Beberapa orang berkerumun di dekat kami.
"Apa kalian mau pergi ke desa sana?"
"Iya."
"Sayang sekali perjalanan akan sulit tapi jika mau ada dari beberapa dari kami akan kembali ke sana kalian bisa ikut bersama."
Erna mengalihkan pandangan ke arah kami semua.
Tidak ada satupun dari kami yang berniat kembali maka kami memutuskan untuk berjalan kaki ke desa.
"Tapi sebelum itu, sudah berapa lama jembatan ini rusak?" tanyanya demikian.
"Sudah tiga bulan, kami sudah melaporkannya ke pejabat daerah namun belum ada itikad untuk memperbaikinya."
Itu wajar saja, dalam kasus tertentu pejabat hanya bergerak memperbaiki jalan ataupun jembatan ketika beritanya telah menjadi viral.
Erna diam memikirkannya sejenak, aku sudah tahu apa yang akan dia lakukan selanjutnya.
"Tak masalah, biar aku saja yang membiayai untuk membangun jembatannya, dalam pengerjaannya kalian boleh membantu dan menganggapnya sebagai dana swadaya."
"Apa itu benar nona?"
"Tentu saja, biar aku menelepon orang-orang yang bisa diandalkan soal ini."
"Terima kasih banyak."
Kami membawa beberapa obat-obatan di ransel kemudian bergerak melewati sungai secara hati-hati.
"Kamu baik-baik saja Tiara?"
"Itu cukup menakutkan kakak, tapi juga menyenangkan."
Ada sekitar lima penduduk desa setempat yang akan memandu kami pergi, alih-alih mengambil rute dalam hutan kami akan menyusuri jalanan yang sudah rusak ini.
Ada beberapa genangan air juga walaupun hari sudah cerah dari beberapa hari yang lalu. Bu Nanase terpeleset namun dia baik-baik saja.
"Sakit."
Aku mengulurkan tangan untuk membantunya.
"Jadi kalian ingin berlibur di desa kami, kami sangat menghargainya tapi mungkin kalian tidak akan betah dengan segala kekurangan di sana, kami belum memiliki listrik dan hal lainnya jadi kemungkinan itu akan merepotkan."
"Soal itu kami sudah tahu, dan jelas semuanya tidak masalah."
Jika listrik tidak ada bisa diasumsikan bahwa akses internet juga akan sedikit terganggu. Erna terlalu cepat menjawabnya.
"Kalian juga harus bersabar. Jika kalian perlu menelepon biasanya sinyal akan muncul pada tengah malam."
Kami harus bergadang jika ingin menelepon seseorang.
Bu Nanase memucat dengan sepatu hak di tangannya.
"Bagaimana aku hidup tanpa smartphone."
Albert, Alexia dan juga Tiara mengalami reaksi sama.
"Kalian semua tenanglah, bukan hal buruk jika sesekali kita jauh dari smartphone."
"Aku tidak bisa seperti itu kakak."
"Lihat Aden, dia juga baik-baik saja."
Kami melirik ke arahnya dan jelas bahwa dia akan pingsan.
Lupakan saja, aku tarik pernyataanku barusan.
Ini mungkin waktu yang bagus untuk membuat mereka sedikit mengerti hidup tanpa teknologi.
Ketika sore hari kami akhirnya sampai di desa yang dimaksud, kakiku keram tanganku juga lelah.
Aku akan baik-baik saja jika tidak menggendong Bu Nanase di punggungku.
"Tidak ada hal sebaik berjalan kaki."
"Jangan mengatakan seolah ibu sendiri yang melakukannya," kataku lemas.