Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 63 : Kembali Ke Sekolah


Setelah pertempuran maka akan ada ketenangan di akhir, kediamanku telah menjadi sepi saat ini.


Adikku telah pergi bersama teman-temannya, sementara orang-orang yang tinggal di sini memiliki urusannya sendiri di luar.


Karena terlalu bosan aku duduk di kursi dan login ke sebuah game balapan mobil, game seperti ini sangat cocok dimainkan ketika sedang santai.


Pilihan mobilnya belum tersedia banyak meski demikian ada satu mobil yang cukup membuatku tertarik.


"Mobil katak kah."


Untuk statistiknya tidak terlalu cepat walau demikian ada bagian upgrade dengan sejumlah koin tertentu.


"Mari pilih yang ini."


Hitungan mundur mulai muncul di layar dan ketika itu mencapai Go, semua pembalap bisa melaju.


Ini game online karenanya semua musuh di sini player sesungguhnya. Aku mengendarai mobilku dengan kecepatan sedang, aku bisa melihat bahwa aku berada di posisi terakhir tapi itu bukan suatu masalah.


Ketika di perjalanan akan ada sebuah bola-bola cahaya yang harus di dapat oleh pemain, cahaya itu akan memberikan item yang bisa digunakan seperti jebakan ataupun serangan.


Sebuah keberuntungan bahwa saat ini aku mendapatkan bom api.


Aku menggunakannya dan sekitar tiga mobil telah diterbangkan jatuh.


Setelah banyak ledakan dan kehancuran aku tetap masih diposisi terakhir.


"Sepertinya jelas mobil ini harus di upgrade, sepertinya ini waktunya menggunakan kartu kredit."


Adikku telah kembali dengan eskrim di tangannya, ia mengintip ke arahku dan berkata.


"Uwah... kakak memainkan game ini?'


"Apa ada yang salah?"


"Tidak sih, hanya saja game ini katanya akan ditutup nanti malam, mereka akan memindahkannya ke game konsol."


Aku hanya memasang wajah pucat.


Seharusnya aku membaca informasi itu lebih dulu.


Aku menguap lebar saat dua orang membangunkanku dari tidur, dia adalah Alexia dan juga adikku Tiara.


"Ya ampun, kamu masih tidur... bayangkan jika tidak ada dua gadis cantik seperti kami, Tora pasti sudah terlambat sekolah."


Aku menghela nafas panjang, ketika mengalihkan pandangan ke kamar mandi, Erna baru keluar dari sana.


"Yaw, jangan lihat... aku hanya mengenakan handuk sekarang," dia menggunakan suara genit.


Sebenarnya aku sudah mulai terbiasa tinggal dengan kumpulan gadis ini jadi bahkan ketika melihat sesuatu seperti ini aku hanya menguap lebar.


"Pagi kalian."


"Selamat pagi."


Rin dan Albert telah menunggu di luar rumah kami.


"Kamu ini Tora, bahkan ketika sudah menang ekpresimu tidak jauh berbeda."


"Memangnya aku harus apa."


"Tentu saja telanjang lalu berlarian sekitar komplek."


Aku jelas akan ditangkap karena disangka gila, aku dan Albert berjalan di depan bersama dan sisanya berjalan di belakang, kami semua memiliki obrolan berbeda masing-masing.


"Albert bagaimana soal klub basketmu?"


"Mereka mendepakku."


Aku tersenyum masam atas jawaban santai darinya.


"Alasannya?"


"Mereka hanya bilang kau mengganggu jadi keluarlah."


"Sepertinya itu klub yang hanya diikuti orang-orang yang terlatih."


"Seperti itulah, tapi tidak masalah berkat latihanku setiap hari aku memiliki tubuh kuat dan sehat, aku juga dipenuhi otot."


Ah, dia pasti melupakan tujuan awalnya.


Ngomong-ngomong bagiku tidak ada bedanya, dia tetap saja cowok yang aku kenal biasanya.


Saat kami masuk ke dalam gerbang sekolah puluhan wartawan telah berada di sana menunggu kami, sebelum kami bisa melarikan diri mereka sudah berlari lalu membombardir dengan seluruh pertanyaan.


Aku tidak menyangka bahwa hanya membuat game bisa jadi seperti ini. Saat di kelas aku hanya menempatkan wajahku di meja dengan wajah kelelahan.