
Ketika aku selesai dari toilet aku menemukan seorang gadis kecil di depan pintu, itu sedikit mengejutkan bahwa dia terlalu cepat 10 tahun untuk masuk SMA.
"Fufu kamu terkejut."
Aku melirik ke kiri, ke kanan sebelum ke belakang memastikan bahwa gadis berponi ini bertanya padaku.
"Aku?"
"Memangnya siapa lagi."
Gadis ini terlihat imut saat dia marah.
"Namaku Ayana Nanase, aku peringatkan jauhi dia."
"Nanase?"
"Benar sekali, kau menyadarinya."
"Kamu putri haramnya."
Dengan tingkah Bu Nanase seperti itu dia pasti memiliki beberapa putri di luar nikah. Tapi aku ragu dia melakukan hal-hal seperti itu.
Ayana menghentakkan kakinya beberapa kali dengan marah.
"Bukan bodoh, aku ini sepupunya."
"Heh, dia memiliki sepupu yang terlihat imut. Berapa umurmu?"
"Berisik pokoknya jangan dekat-dekat dengan Nee-sama."
Bukannya ini bagus, jika gadis ini bisa membuatku tidak terlalu dekat dengan Bu Nanase aku jelas akan bebas, khususnya dari pengaruh buruknya.
"Kenapa kamu terlihat senang?"
"Baiklah Ayana, lebih baik kita temui Bu Nanase dan kita selesaikan ini selamanya," kataku percaya diri.
Aku dan Ayana mengunjungi ruangan Bu Nanase.
"Jadi kamu bersama Tora, aku sudah mencarimu sejak lama."
"Aku terus mengikutinya dari rumahnya, sejauh itu tidak ada yang menyadarinya."
Dia mungkin ninja atau mungkin Stalker Pro.
"Lebih penting dari itu, Nee-sama sudah tidak perlu berdekatan dengan orang ini lagi, dia itu tidak cocok dengan Nee-sama."
Bu Nanase menunjukan raut wajah yang dibuat-buat.
Saat dia tersenyum aku selalu merasakan firasat buruk tentangnya.
"Tapi aku menyayangkan bahwa hal itu tidak bisa dilakukan."
Ayana bolak balik antara aku dan Bu Nanase lalu Bu Nanase memegangi perutnya.
Aku bisa menebak apa yang akan dia katakan jadi aku segera menutup mulutnya.
"Heh."
"Kami sudah terlalu dekat jadi hal itu tidak bisa dilakukan," aku segera menyela.
Jika Bu Nanase bilang bahwa ia mengandung anakku sudah jelas kehidupanku akan kacau balau dan seorang anak kecil akan dengan mudahnya percaya lalu membeberkannya dengan polos.
"Tidak bisa diterima, bahwa pria ini akan terus bersama Nee-sama, aku keberatan."
"Keberatan ditolak."
"Ini tidak adil, aku selalu berfikir Nee-sama akan mendapatkan pria yang keren dan hebat tapi coba pria ini, wajahnya lumayan tapi aura yang dikeluarkannya kere."
"Permisi?"
Apa gadis kecil ini memiliki tombol off/on, semacam itu.
"Tora itu pria yang hebat loh, di usianya dia bisa membuat game. Jika tidak percaya mari sepulang sekolah kita pergi bersama-sama untuk melihatnya."
"Bukan harusnya segera dikembalikan ke orang tuanya saja."
"Jika kau bertanya orang tuaku mereka liburan di Bali, karena itulah aku dititipkan kepada Nee-sama"
Itu jelas pilihan buruk, Bu Nanase adalah salah seorang yang harus dijauhkan dari anak kecil.
Kalau aku membuat mainan aku akan menulis jauhkan dari Bu Nanase, aku serius.
Berkat dirinya saat kembali ke rumah jumlah orang kembali bertambah. Aden menatap Ayana dengan sudut matanya yang sedikit tajam.
"Siapa bocil ini?"
"Jangan panggil aku bocil, sialan."
"Aku suka cara bicaranya."
Alexia pengaruh buruk juga jadi aku serahkan pada Rin jika Ayana memiliki pertanyaan. Untuk Bu Nanase dia hanya duduk di sofa dengan banyak cola di tangannya.
"Tambah lagi."
"Kenapa rasanya aku sering diperbudak di tempat ini," balas Albert mendesah pelan.
Setelah puas dengan Rin, adikku mengajak Ayana memainkan game yang baru kami buat, Magic School Assassin sementara Erna duduk untuk menonton.
Itu bisa dimainkan di konsol berkat kejeniusan Aden, walaupun yang disebar luaskan adalah versi mobile.