Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 35 : Terlalu Manis Mungkin Membuatmu Diabetes


Terlepas bagaimana cara yang telah aku lakukan yang jelas perpustakaan ini selamat dan keinginan Sari telah terjaga.


Walau sibuk dia terlihat senang menuliskan siapa saja yang meminjam buku tersebut.


Erna di sebelahku tersenyum kecil.


"Dasar monster."


"Sungguh kejam mengatakan itu pada temanmu."


"Itu sebuah pujian, kalau begitu masalah sudah selesai."


Aku hanya menghela nafas saat kepergian mereka.


"Apanya yang pujian saat seseorang mengatakan dirimu monster," kataku pelan sampai sebuah suara memukul punggungku.


"Apa yang kamu lakukan di sana? Cepat bantu aku juga di sini."


Alexia telah memanggilku maka aku sepertinya tidak bisa melarikan diri lagi.


Selepasnya hanyalah pesta kecil-kecilan dengan minuman kaleng dan pizza. Sari tidak lelah terus menerus berterima kasih pada kami dan ia mengatakan bahwa akan mengambil satu petugas baru nantinya.


Albert menggosok hidungnya.


"Tidak buruk menerima rasa terima kasih dari seorang gadis manis, tolong berpacaran denganku."


"Ogah, kamu jelas tipe playboy."


Albert memang terlihat seperti tipe playboy tapi dia jujur dengan perasaannya, sebaiknya kalian pacaran saja sana.


Aku hendak mengatakan itu namun memilih untuk membiarkan proses melakukan tugasnya.


Bu nanase bersandar di dekatku selagi menepuk-nepuk kepalaku.


"Kamu melakukan hal baik, aku harus memujimu untuk itu."


"Tolong hentikan itu."


"Padahal aku sedang mencoba memanjakanmu."


Sejujurnya aku tidak terlalu memerlukannya terlebih dari seorang gadis berusia lebih 20 tahun. Aku juga masih ragu menyebutnya gadis setelah lewat umur belasan tahun.


"Melihat pemandangan murid-murid yang tampak bahagia adalah sesuatu yang diinginkan setiap guru. Aku senang bisa menyaksikan semuanya di sini."


Maksudnya dia lebih suka melibatkan dirinya dengan sesuatu hal yang tidak kebanyakan guru lakukan.


"Mengawasi muridmu dengan seksama lalu membantu mereka dengan pilihan seperti apa yang mereka pilih di masa depan."


"Kamu menyadarinya?"


"Lebih baik memutuskan dan menyesali di akhir bersama-sama, dibandingkan tidak memilih sama sekali."


Mungkin itu perkataan yang diambil dari sebuah anime atau film yang kami tonton sebelumnya. Aku tidak bisa mengingatnya.


"Soal ibu yang harus menjalankan perusahaan, apa ibu tidak bisa melakukan sesuatu untuk itu?"


Aku mengatakannya karena Bu Nanase terlihat lebih menikmati dirinya sebagai pengajar dibandingkan pebisnis game.


"Mari kita pikirkan, jika aku menikah dengan seorang yang ahli dalam pembuatan game mungkin ia bisa menggantikanku mengelola perusahaan dan aku bisa kembali menjadi seorang guru, bukannya itu menarik."


"Tunggu sebentar, kenapa ibu menatapku seperti itu? Apa Anda benar-benar berharap aku melamar Anda."


"Kenapa yah? Kamu masih belum mengerti yah, ya ampun melelahkan sekali menghadapi pria yang tidak peka."


Sebenarnya siapa Bu Nanase? Aku selalu penasaran tentang itu.


Bu Nanase memiliki wajah cantik dengan porsi tubuh sempurna, dia bukan tipe orang yang tidak bisa menikah di usia muda. Aku bahkan yakin 10 atau dua pria pasti tertarik padanya setiap hari lalu kenapa dia memilih ingin menikah denganku.


Semakin aku memikirkannya maka semakin sulit untuk mengetahuinya.


Yang jelas hanya satu hal yang bisa aku nyatakan.


"Aku tidak menyukai Bu Nanase."


Dengan itu kuharap ia mau menyerah, aku senang bahwa ia ingin membantuku namun jika aku hanya ingin mengambil keuntungan darinya maka lupakan saja.


Pria kebanyakan menyampingkan cinta dan memilih untuk menikahi wanita karena status kaya yang mereka miliki, hal itu juga mungkin berlaku sebaliknya.


Terkadang wanita juga ingin menikahi pria lalu cerai setelah dua tahun atau kurang agar bisa mendapatkan uang jaminan anak, hal ini bukan rahasia umum lagi.


Aku jelas bukan tipe seperti itu, aku hanya ingin menjalani kebahagiaan yang benar-benar ingin aku raih. Uang bahkan tidak bisa menggantikan hal-hal kecil seperti itu.


Bu Nanase mengangkat alisnya, menatapku dengan intens.


"Kamu berusaha untuk membuatku menyerah, bahkan jika kamu tidak menyukaiku maka aku hanya harus membuatmu jatuh cinta padaku."


Jantungku tiba-tiba berdetak begitu kencang dan rasanya seolah waktu di sekitarku telah berhenti untuk beberapa waktu. Sementara semua orang masih sibuk dengan pembicaraan mereka. Bu Nanase telah mencium pipiku.


Bibirnya yang tipis dan sedikit lembab terasa di sana yang mampu membawa sesuatu yang mengejutkan untuk hatiku.


Ia berpose nakal dengan menutup satu matanya sementara satu jari ia letakkan di bibirnya.


"Ini hanya akan jadi rahasia di antara kita berdua."


Terlalu manis mungkin akan membuatku diabetes.