Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 27 : Pengisi Suara Tambahan


"Kalian sudah datang, terima kasih atas waktunya."


"Hal seperti ini bukan masalah."


Ketika pintu dibuka para gadis mulai masuk, para gadis mengenakan seragam sekolah sama seperti mereka serta berbaris dengan rapih semuanya sekitar 15 orang dengan penampilan cantik dan manis.


Semua orang berteriak terkejut. Bagaimanpun mereka siswi-siswi sekolah dari sekolah yang sama dari kelas satu sampai kelas tiga.


"Ba-bagaimana bisa Tora mengumpulkan banyak gadis cantik dan manis sebanyak ini."


"Tentu saja dengan media sosial," balasku santai.


"Ini malah jadi seperti pemilihan model atau sebagainya."


"Tentu saja tidak, aku masuk ke halaman media sosial sekolah dan membuat sebuah sayembara untuk tambahan pengisi suara kita, aku sudah menyeleksinya sesuai kemampuan mereka, mereka bisa diandalkan."


"Perusahaan kita terlihat seperti industri anime atau sebagainya," kata Alexia menjelaskan.


"Untuk lima orang lagi aku serahkan pada Tiara denganmu Albert."


"Oke."


Semua pengisi suara membungkukkan kepala mereka selagi berkata.


"Mohon bantuannya."


Kami semua mengobrol satu sama lain selagi membahas tentang Magic School Assassin, berhubung ada Rin ia bisa dengan baik menjelaskan tentang pendalaman karakter.


Aku memperhatikan dari kejauhan bersama Aden yang bersandar di dinding penyimpanan air.


"Ini bukan lagi perusahaan game kaleng-kaleng, kita benar-benar masuk di dalamnya."


"Apa menurutmu begitu?"


"Tentu saja, kamu menggerakkan semua orang loh."


"Untukku masih belum, aku ingin suatu hari mencapai posisi yang dulu pernah ditempati ayahku."


"Aku sudah tahu hal itu, karenanya kau ingin menawarkan game kita pada perusahaan milik ayah guru itu."


"Jika kita bisa melakukannya game kita bisa dimainkan di Eropa dan Asia, bukannya itu mengagumkan."


Aden mengangkat bahunya lalu melanjutkan.


"Kenapa ayahmu bisa bangkrut? Aku melihat pekerjaannya di komputer-komputer yang aku perbaiki di rumahmu, aku bisa mengatakan bahwa dia benar-benar bekerja keras."


"Orang yang dipercaya ayahku berkhianat hingga perusahaan mengalami kerugian."


"Itu pasti sulit, bahkan mengejutkan bahwa kau masih mempercayai kami."


"Tentu saja, aku mempercayai kalian.. jika tidak percaya maka mustahil untuk seseorang membuat sebuah perusahaan."


"Ia dipenjara namun untuk uang ganti rugi tidak kami tuntut.. ia melakukannya karena terlilit hutang pada rentenir, putrinya harus cuci darah dan itu membutuhkan banyak uang."


"Jangan bilang."


Aku meliriknya dengan senyuman biasa.


"Walau kehidupan kami hancur, kami tidak ingin menghancurkan kehidupan orang lain. Ia hanya memiliki satu putri karena itulah aku tidak berniat mengambilnya."


Aku meregangkan tanganku.


"Aku sudah memesan pizza untuk kita semua, seharusnya sebentar lagi sampai."


Kami makan pizza bersama kemudian ke rumah masing-masing, saat ini aku dan Alexia sedang berbelanja di supermarket. Dan di dalamnya tertera jam 06:30.


"Hari ini kita akan makan apa?"


"Sebentar."


Aku mengeluarkan kertas belanjaannya. Pizza tidak terlalu mengenyangkan dan juga kami perlu berbelanja untuk besok.


"Untuk makan malam kita akan makan hamburger."


"Bukannya itu luar biasa, kamu memiliki adik yang luar biasa."


"Bisa dibilang begitu."


Aku melirik ke sana kemari.


"Ada apa?"


"Biasanya aku selalu bertemu Bu Nanase di sini? Apa dia tidak berbelanja."


"Soal Bu Nanase aku sempat melihatnya di sekolah tengah hari, aku yakin dia bilang mau pulang lebih awal karena tidak enak badan."


"Apa sebaiknya kita mengeceknya?"


"Kau perhatian sekali pada gurumu, jangan bilang kau menyukainya?"


"Bukan seperti itu, hanya saja."


"Aku akan mendukungmu."


"Sudah kubilang bukan begitu."


"Mari pergi ke sana."


Aku ingin mengatakan bahwa Bu Nanase akan berhenti jadi guru sampai kelulusan kami namun orang yang dimaksud malah melarang aku untuk mengatakannya.


Dibandingkan kami masalahnya tidak sederhana seperti yang semua orang kira.