
Selepas sekolah ada dua maid yang menyambut kepulanganku yang satu Erna dan satu lagi adikku.
"Selamat datang tuan, mau makan, mandi atau aku?"
Keduanya kompak mengatakan itu.
Alexia yang baru tiba setelahku, menatap mereka dengan pandangan bersinar lalu memeluk mereka.
Jika tidak ada dia mungkin itu juga yang akan aku lakukan.
"Berapa uang yang harus aku berikan untuk satu jamnya, aku terangsang."
Orang ini kalau ngomong seenak jidat.
Tentu saja tidak ada bisnis seperti itu di tempat ini, yang dia maksud adalah untuk menjadikan mereka model menggambar, jika demikian maka malam ini aku yang akan memasak.
Aku memutuskan untuk membuat spaghetti dengan bola-bola baso. Walau menunya hanya satu porsinya aku buat cukup mewah dan banyak.
"Woooahhh! Kalian sangat sexy, aku tidak bisa berhenti menggambar kalian."
Alexia seperti biasanya penyakitnya kumat.
"Turunkan kantong dada kalian dan naikkan rok paha kalian."
Sebagai laki-laki memang risih mendengar hal-hal seperti itu. Aku mulai menyajikan makanan tersebut di atas piring sangat besar, sementara setiap orang diberi piring kecil untuk memindahkannya.
"Apa kita sudah jatuh bangkrut kakak?"
"Hanya karena satu jenis makanan di atas meja bukan berarti kita bangkrut... spaghetti rasanya akan enak jika hanya ada mereka di meja."
"Benarkah?"
"Benar."
"Di acara tv jika mereka memesan spaghetti mereka jarang memesan hal lainnya," tambah Erna.
Pada dasarnya makanan ini sudah cukup mengenyangkan.
Alexia telah menumpuk makanan di piring sebelum menyantapnya dengan wajah penuh bersyukur.
"Enak, enak."
"Makanlah yang banyak."
"Laksanakan."
"Kalian berdua juga, dan lebih baik jika kalian mengganti pakaian kalian sebelum tidur."
"Karena permintaan kakak aku akan mengenakan lingerie tipis dan memutuskan untuk tidak mengunci pintu kamar."
"Sepertinya aku juga akan melakukan itu."
Salah satu keburukan gadis di usia mereka, suka menggoda.
Untung saja aku kebal karena itu.
"Aku sudah berbicara dengan orang tuaku, terima kasih Tora, semua ini berkatmu yang bisa membujuknya."
"Apa kamu akan berhenti menjadi dokter?" tanyaku sedikit penasaran sedangkan Erna menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
"Aku tetap akan menjadi dokter serta menjadi komikus di waktu bersamaan."
Ia memutuskan untuk mengambil keduanya, hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil lagipula tidak akan ada deadline untuknya.
"Setelah mendengar seluruh cerita dari ibuku, aku juga tidak begitu saja membiarkannya berlalu saja. Aku ingin melanjutkan keinginan temannya dan pindah ke desa terpencil yang dimaksud."
Walau pada akhirnya Erna akan pergi tapi aku senang bahwa dia sepertinya telah menemukan jati dirinya sendiri dan apa yang ingin dia lakukan ke depannya.
Kami semua menghargainya.
"Bisakah selama itu, aku tinggal di rumah ini?"
"Kalau aku tidak keberatan, bagaimana menurutmu adikku?"
"Biar aku pikirkan, Alexia membayar uang sewa karena itu Erna juga harus melakukannya."
"Kalau begitu aku tidak masalah."
Adikku sekarang sangat perhitungan dan sangat suka sekali bisnis. Tidak aneh jika ke depannya dia akan menjadi ibu kos profesional.
Kami menghabiskan makan malam kami sebelum tidur. Baru keesokan paginya Rin dan Albert telah menunggu kami di depan pintu.
"Selamat pagi untuk kalian semua."
"Pagi."
Aku dengan yang lainnya juga membalas sapaan keduanya.
Alexia mengerang kesakitan selagi memegangi perutnya.
"Kau baik-baik saja?" tanya Albert.
"Aku terlalu banyak makan tadi malam dan perutku sekarang sakit."
"Kalian makan apa?"
"Spaghetti."
"Bikin iri."
"Aku ingat bahwa aku sudah jarang memakannya," tambah Rin.
Aku merasakan sebuah sensasi tatapan yang tidak menyenangkan dari belakang, saat aku berbalik aku tidak menemukan sesuatu di sana.
"Ada apa Tora?" tanya Erna yang curiga.
"Bukan apa-apa."
Tanpa disadari semua orang dari kejauhan seorang gadis berambut hitam berponi mengawasi mereka.