
Beberapa hari kemudian sekolah berjalan semestinya, di markas kedua kami atau lebih tepat menyebutnya atap sekolah kami semua istirahat bersama.
Bu Nanase selalu ada jadi keberadaanya tidak aneh lagi.
"Makan dengan murid-muridku yang manis memang sangat membahagiakan."
Ia selalu jujur akan perasannya.
Kami sering membawa bekal lalu membaginya bersama, tapi hari ini atmosfer sangat berbeda. Dengan seringai di wajah, Albert meletakan bekalnya yang menyengat.
"Hehe bagaimana? Aku hari ini membawa semur jengkol. Kalian boleh mengambil banyak loh."
Aku tidak keberatan dengan itu dan semua orang juga memiliki hal sama. Jengkol bukan racun hanya saja jika seseorang memakannya maka saat kembali ke kelas mulut mereka akan bau.
Semua orang langsung menolaknya.
Alexia berteriak.
"Aku sering memakannya di warteg tapi jika sekarang bukan momen yang tepat."
"Aku belum pernah mencobanya tapi aku pikir ini akan enak," tambah Rin.
Adikku dan Sari menutup hidungnya sementara Aden menatap kosong.
Orang yang pertama yang memakannya adalah Bu Nanase, dia menggunakan sumpit untuk melakukannya seolah terlihat seperti sushi.
"Ini enak, Indonesia memang kaya dengan makanan... aku juga suka sesuatu seperti daging tapi bukan daging."
Semua orang diam untuk memikirkannya sebelum melirik ke arahku.
"Maksudnya pasti gudeg."
"Aaah."
"Benar gudeg, rasanya sangat enak."
"Aku repot-repot membawa makanan ini, pastikan kalian juga memakannya."
Albert malah terlihat berusaha menjahili kami, aku tidak keberatan jadi aku memakannya dengan nasi.
Aura yang duduk di sebelahku memucat.
"Ba-bagaimana, apa sebaiknya aku menelpon rumah sakit?"
"Memangnya kamu pikir ini apa, ini enak."
"Aku tidak sanggup memakan jengkol dan durian jadi aku tidak usah."
Aura memilih untuk tidak mencobanya.
"Aku cukup menyukainya."
"Tidak buruk dari yang dikatakan orang-orang."
"Kalau begitu aku akan membawanya lagi, sekaligus jus pete."
Kami serempak untuk menolaknya.
Dalam perjalanan pulang Albert berjalan secara terbalik.
"Hey Tora, kamu sudah mendengarnya bahwa kursi ketua OSIS telah dibuka? Kamu tidak mendaftar."
"Aku tidak tertarik dengan hal itu."
"Kamu Tiara?"
"Aku juga."
"Dan Rin, ah aku sudah tahu kamu tidak tertarik maafkan aku."
"Heh, kenapa dengan nadamu itu?'
"Kalau aku ingin menjadi ketua OSIS, apa jika aku mencalonkan diri bisa mendapatkannya?"
Kami tidak harus memikirkannya, jawabannya datang begitu cepat.
"Tidak."
"Kalian bertiga sangat kejam padaku, ngomong-ngomong di mana Alexia? Bukannya dia masih tinggal di rumahmu Tora."
"Aku baru mendapatkan pesan darinya, katanya dia ingin mengikuti perlombaan lukisan untuk umum."
"Lukisan?"
"Kakak, aku baru tahu itu."
"Aku juga, aku pikir dia hanya seorang Ilustrator bukan pelukis," ucap Rin.
"Alexia cukup kreatif.. terlebih saat tahu bahwa hadiahnya cukup besar."
"Itu bukan kreatif tapi mata duitan," potong Albert.
"Aku sudah meminta memberitahukan kapan acaranya dilaksanakan kurasa kita bisa datang untuk mendukungnya nanti."
Albert memasang wajah murung.
"Alexia didukung, tapi aku tidak."
"Untuk apa mendukungmu jadi ketua OSIS yang jelas akan kalah."
"Kudengar menjadi OSIS akan membuatmu populer mungkin Sari akan menyukaiku."
"Aku tidak ingin membuatmu kecewa tapi banyak hal yang bisa dilakukan untuk mendapat hati seorang gadis."
"Kakak terasa seperti bukan kakakku."
"Aku mungkin berfikiran sama."
Terkadang aku juga bisa memberikan saran cinta, beberapa buku tentang itu selalu memenuhi rak-rak toko saat aku berkunjung ke sana.
Tiara mengangkat satu tangannya.
"Aku punya saran, mau dengar."