Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 33 : Jajanan Pinggir Jalan


Aku mentraktir Erna sesuai keinginannya, yaitu sebuah ramen yang kebetulan belum terlalu ramai pembeli.


"Fuah, rasanya sangat enak, menurutmu apa ramen di Jepang juga rasanya seperti ini?"


"Mana aku tahu, aku belum pernah ke sana."


"Kamu seorang pembuat game tapi belum ke sana bukannya di sana surganya game, anime dan hal lainnya."


"Kamu seolah mengatakan bahwa aku ini hidup hanya untuk game."


Erna tertawa kemudian mengambil makanannya kembali.


"Tolong tambah paman."


"Aiyo."


Aku hanya memperhatikan dirinya dari samping. Orang ini bersikap jujur dengan dirinya sendiri hampir sama sekali tidak peduli bagaimana orang melihatnya.


"Bisakah kau merapatkan kakimu?"


"Aku duduk seperti ini."


Gadis macam apa yang duduk seperti pria.


"Waktunya ronde dua, mantap."


Terserah saja.


"Jadi pengembangan game kalian masih awal."


"Yah, kami mementingkan kualitas karena itulah kami ingin sedikit demi sedikit melakukannya."


"Begitu, saat aku melihat ilustrasi dari Alexia dia benar-benar berbakat apa dia benar-benar tidak bekerja untuk penerbit mana pun."


Aku menggelengkan kepala lalu melanjutkan


"Aku sudah mengatakannya tapi sepertinya dia tidak tertarik, bahkan fakta bahwa ia ingin bergabung dengan kami masihlah dianggap keberuntungan."


"Kamu benar-benar memuji kemampuannya."


"Benar, walaupun dia lebih suka menggambar eroge tentunya."


"Haha aku bisa mengerti itu, terkadang aku juga memiliki dorongan untuk membuatnya, jadi kuputuskan mengambil suatu nama tertentu lalu mengirim gambar tersebut di situs dewasa, uangnya lumayan."


"Sepertinya aku mendengar sesuatu yang tidak seharusnya."


"Aku sebentar lagi masuk dunia orang dewasa aku harus terbiasa dengan kehidupan gelap."


Aku memasang wajah bermasalah.


Erna tersenyum kecil lalu memesan mangkuk ramen berikutnya.


"Entah seperti apa, aku akan melewati kesulitan apapun di depanku, berjuanglah untuk diriku... paman pesan bir."


"Jangan dengarkan dia, lagipula bir dilarang di jual belikan bebas di negara ini."


Kami menghabiskan waktu lebih lama dengan obrolan ringan, aku telah mengirimi pesan untuk yang lainnya agar mereka mengetahui bahwa aku akan sedikit datang terlambat.


Setelah kembali ke rumah aku menjelaskan situasinya pada semua orang.


"Seperti biasa kau seenaknya mengurusi urusan orang lain."


"Sesuai yang diharapkan teman masa kecilku, kau terlalu baik Tora."


Perpustakaan kah, aku tidak tahu tempat seperti apa itu karena aku selalu berkelahi.. sesekali aku ingin melihatnya."


"Aku juga akan membantu."


Mereka masing-masing menunjukan balasan berbeda namun demikian satu hal yang pasti bahwa kami akan membantu Sari dalam mempertahankan perpustakaannya, karena itu juga sebelum sekolah dimulai kami telah datang ke sana lalu masing-masing telah berada di posisi berbeda untuk melakukan tugasnya.


"Kita akan tunjukkan bahwa perpustakaan bisa menjadi semenyenangkan seperti saat bermain game."


Ketika aku mengatakannya mereka semua berteriak semangat.


Aku mengetuk pintu ruang ketua OSIS dan seseorang telah membukakannya dengan pelan.


"Apa ada yang kamu butuhkan Tora?"


"Ini merupakan hari kesepakatan kita akan ditentukan, kuharap kamu tidak akan lupa soal janji."


"Kamu cukup berani, hanya karena kamu peringkat teratas di kelas satu, bukan berarti kamu bisa melakukan apapun sesukamu."


"Apa menurutmu begitu?"


Erna berdiri dari tempat duduknya lalu berjalan mendekat bersama anggota OSIS lainnya.


"Kalau begitu silahkan."


"Kita lihat bagaimana kamu mengatasi perpustakaan yang sepi tersebut."


Sesampainya di tempat yang dimaksud antrian siswa-siswi yang masuk ke perpustakaan terlihat sangat panjang seolah tidak bisa dibendung lagi.


"Apa-apaan ini?"


Itu reaksi yang ingin kulihat darinya.