
Aku menyandarkan punggungku di kursi selagi menghela nafas panjang. Sudah 50 persen tahap penyelesaian dari pembuatan game yang kami buat.
Di sebelahku Aden menatapku dengan mata sipit.
"Dasar monster."
"Oi, ini kedua kalinya seseorang mengatakan bahwa aku monster."
"Aku hanya beberapa hari mengajari dasar tentang pemrograman dan sekarang kau sudah jadi ahli."
"Cuma kebetulan."
"Ini bukan sesuatu yang bahkan jenius bisa lakukan."
Aku memilih mengabaikan perkataan tersebut lalu menutup mataku, aku cukup kelelahan untuk ini dan siang hari merupakan pengambilan suara untuk tiap karakter.
Kuharap semua sudah siap untuk itu.
Aku bertanya pada Aden.
"Bagaimana soal promosi kita?"
"Video demo kita sudah ditonton seratus juta dalam waktu seminggu, jika kita membuat game yang mengecewakan mereka, sudah jelas kita akan dikubur hidup-hidup."
"Jelas sekali tapi itu bagus, mari anggap bahwa seratus juta tersebut akan mendownload game kita secara gratis di handphone."
"Aku berharap bahwa ulasan yang mereka tulis semuanya positif."
Aku tidak menduga bahwa Aden bisa terpengaruh dengan hal-hal seperti itu.
Sore harinya aku terbaring di sofa dengan wajah kelelahan.
"Terima kasih untuk kerja kerasnya, mari bertemu lagi di sekolah besok."
Alexia menggantikanku untuk mengatakan hal demikian saat semua orang keluar pintu, adikku Tiara tengah mencuci piring bekas makan kami.
"Biar aku juga membantu Tiara."
"Kamu tidak akan memecahkannya lagi kan."
"Tentu saja tidak, maaf untuk sepuluh piringmu yang pecah."
Aku tersenyum masam mendengarnya, Alexia ternyata kurang ahli dalam memasak dan mencuci, jika itu beres-beres dan mencabut rumput ia masih terbilang sedikit mampu.
Aku mengambil ponselku yang kini telah dipenuhi spam berisi puluhan pesan Bu Nanase, karena tidak bisa datang kemari ia terus menanyakan bagaimana keadaan kami.
Sungguh, guru ini kurang kerjaan dan untuk alasan apa dia terus menerus mengirimkan foto selfi dirinya.
"Apa ini membuatmu dag-dig-dug?"
Seorang guru sedang mengganggu muridnya, inilah yang terjadi. Alexia dan Tiara mengintip dari belakang sofa.
"Dasar guru genit, dia terus mencoba menggoda kakakku."
"Fufu wali kelasmu telah jatuh cinta padamu, ini cinta terlarang."
Hasil ujian telah diumumkan dan beberapa orang mulai mengevaluasi nilai mereka termasuk memperbaikinya, aku berada di ruangan tertutup bersama Bu Nanase untuk membicarakan nilaiku, kemungkinan begitu.
Melihat ekspresinya yang bersemangat kurasa tidak.
Lagipula aku masih berada di rank 1 dari semua kelas satu
"Apa kamu tahu kenapa Ibu memanggilmu kemari?"
"Membicarakan nilaiku."
"Salah, hari ini ibu akan mengajari hal khusus untukmu."
Dia menumpuk beberapa buku di depanku yang semuanya merupakan buku-buku aneh yang kebanyakan orang beli secara diam-diam.
Aku membaca salah satu judulnya.
"Menggoda guru sexy di sekolah."
"Bukannya ini novel bagus."
"Halo, polisi."
"Jangan memanggil polisi, aku tidak melakukan kejahatan apapun."
"Anda menyita waktuku di sekolah dan juga Anda tidak benar-benar mengajari muridnya, itu sudah cukup disebut kejahatan."
"Hal seperti ini wajar, guru yang lain juga seperti itu.. mereka bermain ponsel dan membiarkan murid belajar sendiri, beberapa guru juga bahkan memberikan tugas mudah untuk siswanya agar ia dengan mudah mengajar saat ujian dimulai tidak ada soal yang bisa dikerjakan muridnya, dibandingkan contoh keduanya aku lebih baik."
Tidak sama sekali.
"Yang pertama tidak semua guru seperti itu mereka bahkan mendedikasikan dirinya pergi ke pelosok daerah hanya untuk mengajar, mereka pahlawan tanpa jasa, dan yang kedua kasus itu sudah ditangani pihak tertentu dan sekarang semua sekolah telah mendapat penyuluhan, jadi tolong Anda bersikap layaknya guru."
"Aku diceramahi muridku sendiri, aku sudah kehilangan wibawaku."
Dari awal aku tidak melihatnya.
Bu Nanase berdeham untuk kembali ke kursinya. Ia menunjukan mode serius.
"Sebentar lagi akan diadakan festival olah raga karena itulah ibu baru mendapatkan pemintaan dari ketua OSIS untuk memintamu untuk bergabung sebagai panitia, apa kamu mau melakukannya?"
"Kenapa ketua OSIS tidak memintaku secara langsung?"
"Karena ia tahu bahwa Tora akan menolaknya."
Aku memiringkan kepalaku dan saat Bu Nanase menunjukan ponselnya aku menemukan bahwa di sana ada sebuah foto tentang aku dan Bu Nanase dengan tulisan ketua OSIS di bawahnya.
"Jika kamu menolaknya foto ini akan tersebar ke internet dan bayangkan seperti apa keributan yang akan ditimbulkannya."
Dia benar-benar memaksaku untuk ikut.
Membuat game sekaligus mengurus festival apa dia tidak tahu bahwa aku juga manusia?
Pada akhirnya aku harus bertemu dengannya secara langsung.