
Ini akan menjadi sebuah perjalanan yang cukup panjang. Aku duduk bersama Bu Nanase di sebelahku.
Tentu saja tempat duduk ini tidak begitu saja didapatkan dengan mudah, kami melakukan undian sederhana dan hasilnya jadi seperti ini.
Ini jelas sebuah cobaan untukku juga.
"Aku sedikit gerah sebaiknya aku melepas beberapa kancing baju juga."
Itu salahmu karena memakai pakaian formal untuk berpergian, aku ingat bagaimana Bu Nanase mengatakan soal tingkat pakaian.
Bintang satu : gaun.
Bintang dua : pakaian olah raga.
Bintang tiga : pakaian renang.
Bintang empat : pakaian suster.
Bintang lima : pakaian formal.
Itu adalah tingkatan pakaian yang ingin dilihat oleh pria. Aku sebaik mungkin mengalihkan pandangan ke samping untuk melihat pemandangan gunung dan persawahan yang menakjubkan.
Bu Nanase mengembungkan pipinya.
"Padahal di dekatmu ada ladang bunga yang belum disentuh tapi kamu malah memilih melihat ke luar jendela, apa kamu tidak ingin membajakku?"
Nih orang ngomongnya vulgar amat.
Yang aku inginkan hanya perjalanan yang tenang, Albert bisakah kau bertukar tempat duduk denganku.
Aku melirik ke arahnya dia terlalu senang karena duduk di sebelah Sari. Rin dan adikku sedang bermain permainan kata dan sisanya tidur.
Jelas sekali aku yang mendapatkan kesulitan, orang di sebelahku bukan manusia dia Succubus.
"Hey Tora, lihat ke arahku."
"Jangan bernafas di dekatku."
Lebih baik aku mencari sesuatu yang bisa mengalihkan perhatian kami berdua, aku mengambil ponselku yang terhubung earphone lalu membuka daftar musikku.
"Mau mendengarkan musik?"
"Tentu saja, heh, musik seperti apa yang kamu sukai?"
Aku dan Bu Nanase sudah menghancurkan hubungan kami sebagai guru dan murid. Entah bisa disebut teman atau tidak, aku tidak tahu.
"Aku sering mendengarkan musik barat dan juga beberapa musik Asia selain dangdut."
"Heh begitu, kalau demikian putar lagu yang sangat kamu sukai."
Aku melakukan seperti apa yang Bu Nanase katakan, selagi bersandar di bahuku ia menutup matanya.
Ini terasa canggung tapi jauh lebih baik dibandingkan ia yang tidak bisa diam dan terus menggodaku.
Aku tersenyum kecil sebelum mengembalikan pandangan ke samping, setelah beberapa menit berlalu aku mengetahui bahwa Bu Nanase telah tertidur juga.
Erna menunjukan ketertarikannya.
"Bagus untukmu Tora, sebaiknya kalian berdua pacaran atau sebagainya, jangan khawatirkan bahwa kami akan melaporkanmu ke pihak berwajib, semua orang akan tutup mulut soal ini."
"Kalian malah memperlakukanku sebagai penjahat."
"Hubungan murid dan guru adalah hubungan terlarang tapi jika kamu lulus itu tidak akan berlaku lagi bukan."
Aku hanya mendesah pelan, aku hanya merasa tidak enak pada Bu Nanase yang terus memberikan banyak perhatian padaku, padahal di posisiku aku tidak memberikan apapun untuknya.
Bahkan setelah aku mengatakan bahwa aku membencinya, dia hanya bilang bahwa dia tidak akan berhenti.
Memangnya apa yang telah aku perbuat untuknya di masa lalu hingga ia sampai sejauh ini.
Aku bukan protagonis dari novel tertentu yang bisa menarik hati para gadis di dekatnya, aku hanya seorang laki-laki biasa yang memiliki mimpi seperti kebanyakan orang.
Tidak ada hal yang istimewa yang aku bisa banggakan.
Memang benar, aku selalu mendapatkan nilai pertama namun aku sudah tidak merasa senang lagi, pada dasarnya nilai hanyalah sebuah angka tidak bisa menentukan masa depan seperti apa yang akan kamu raih.
Ketika aku memikirkannya mobil kami telah berhenti secara mendadak.