
Aku menggendong Ayana untuk membantunya masuk ke dalam mobil Bu Nanase, semua orang telah pulang dan ia malah tertidur pulas karena terus bermain game seharian.
"Terima kasih, walau dia anak yang nakal sesungguhnya dia anak yang baik."
Aku bisa mengerti apa yang coba dikatakan Bu Nanase.
"Kalau begitu terima kasih, mohon bantuannya untuk besok."
"Anda akan menitipkannya di sini lagi bukan?"
"Kalau di tempatku ia akan kesepian jadi lebih baik di sini."
Aku mengangguk mengiyakan dan hanya melihat kepergiannya dari kejauhan. Aku meregangkan lenganku selagi mendesah pelan.
"Waktunya istirahat."
Keesokan paginya semua orang telah berkumpul untuk membahas game yang akan kami perlombakan tahun depan, aku menulis target kami untuk menjadi juara di atas kertas lalu menempelkannya di dinding.
"Mari kerahkan semua kemampuan kita... aku harap kesuksesan game Magic School Assassin tidak akan membuat kalian berpuas diri."
"Tentu saja tidak, masih ada tempat yang harus kita raih bukan?" atas pernyataan Aden semua orang mengangguk mantap.
Sesekali aku merasa dia tidak seperti karakternya.
Adapun Bu Nanase ia jadi menurut dengan duduk bersama Ayana selagi memakan pizza.
Aku menjelaskan konsep game yang akan kami buat, judulnya sendiri bernama " RPG Galaxy" yang menggunakan sistem RPG turn based strategy atau disebut TBS yang dimana player akan menyerang secara bergiliran.
"Tora bukannya kita sepakat untuk membuat game yang membuat player bisa memainkan game secara bebas saat berhadapan dengan musuhnya, konsep seperti itu tidak terlalu diminati di Indonesia."
"Tidak juga, beberapa orang suka memainkannya seperti ini, yah ini hanya salah satu opsi," balasku pada Alexia yang dilanjutkan oleh Rin.
"Dengan kata lain akan ada dua pilihan, player bisa memainkan sesuai yang mereka inginkan."
"Tepat sekali."
Aden mendesah pelan.
"Jelas sekali kau ingin mempekerjakan kami sangat keras."
Aku tertawa ragu.
"Kalau aku tidak masalah, bukannya sungguh kesal saat kita kalah. Walau aku hanya pengisi suara aku akan berjuang keras."
"Aku juga."
Albert dan Tiara saling sahut menyahut.
"Ini baru masa muda," Erna hanya mengatakan sesuatu yang tidak jelas.
Untuk Ayana kelihatannya dia menjadi tertarik dengan hasilnya walaupun kemungkinan besar dia akan tahu saat kami berkompetisi.
Alexia mengangkat tangannya.
"Kamu bisa melakukan apa yang kamu suka."
"Syukurlah bahwa aku memiliki banyak referensi soal alien."
Aku hanya membalas dengan senyuman kecil.
Setelah rapat sebentar kami memulai pekerjaan. Seperti sebelumnya kami hanya menjalani rutinitas untuk bekerja dan bersekolah pada umumnya.
Di dalam bandara aku dan adikku telah mengantarkan Ayana bersama keluarganya untuk kembali ke negaranya.
Bu Nanase juga ikut.
"Terima kasih sudah merawatnya."
"Ini bukan apa-apa, kalian bisa mengandalkanku," jawab Bu Nanase bangga.
Padahal yang terjadi kamilah yang lebih sering menjaganya.
Ayana menunjuk ke arahku.
"Dengar, jika tahun depan kau memenangkan even tersebut aku akan merestui kalian menikah, apa kau kini sudah termotivasi?"
"Yah, tidak sama sekali."
"Berhentilah berbohong, dasar mata panda."
Aku melirik ke arah Bu Nanase, dialah yang pertama melabeliku seperti itu.
Ia hanya mengalihkan pandangan ke samping sembari menahan tawanya.
"Kalau begitu, selamat tinggal."
"Sampai jumpa lagi."
Ayana terlihat tertegun saat aku membalasnya demikian. Aku bukannya tidak suka berada di sekitarnya hanya saja aku merasa bahwa dia terlihat seperti adikku saat kecil, seorang energik dan polos.
Kami saling melambaikan tangan dengan senyuman.
"Dadah, jaga dirimu," kata Tiara dan aku mengelus rambutnya.
"Kenapa mendadak?"
"Bukan apa-apa."
"Aku juga ingin dielus."
"Menjauhlah dari kakakku guru genit."
"Bukannya kamu yang lebih genit daripada aku."
Mereka berdua jelas sangat akrab satu sama lain.