Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 39 : Festival Olahraga Telah Dimulai


Hari ini aku akan mengikuti sebuah pertemuan rapat OSIS untuk membahas seperti apa rencana soal festival olahraga.


Tidak hanya sendirian aku juga mengajak Rin. Dibandingkan siapapun ia yang akan lebih cocok untuk aku ajak.


Ia bisa bersikap tenang jauh dibandingkan yang lainnnya walaupun terlihat masih gugup, Aden juga bisa melakukannya namun dia sedikit tidak bisa membaca suasana.


Kami berdua memasuki ruangan yang terlihat bahwa setiap kursinya telah terisi anggota OSIS, yang paling buruk diantara semuanya bahwa Bu Nanase ada di sini juga.


Di melambaikan tangan ke arahku dan aku segera memalingkan wajah hingga ia mengembungkan pipinya.


"Karena aku guru yang paling muda di sini, aku ditunjuk menjadi guru yang bertanggung jawab dengan hal-hal seperti ini, mohon bantuannya."


Tepuk tangan diberikan padanya.


Dengan kata lain kegiatan sekolah memang telah dimonopoli olehnya. Aku dan Rin duduk di kursi yang kosong, kami tidaklah terlambat kemari merekalah yang lebih awal muncul.


Aku meyakinkan Rin tentang itu, Rin cenderung orang yang selalu merasa tidak enak jika menyusahkan siapapun.


Ketua OSIS berdiri dengan menyilangkan tangannya di depan.


Aku tidak tahu dari mana datangnya kepercayaan itu, bahkan saat dia menumpang ia selalu terlihat seperti itu.


"Masih ada 5 menit tersisa untuk rapat, namun karena semuanya sudah di sini, mari buka rapatnya lebih awal."


Katanya mengambil waktu sejenak lalu melanjutkan sembari menggebrak papan tulis.


"Festival olahraga belakangan ini tampak membosankan,hanya lari estafet, lomba tarik tambang dan lempar bola bukannya itu sangat ketinggalan zaman."


Memangnya dia ingin seperti apa?


"Karena itulah aku memutuskan untuk diadakan panjat pinang di sekolah untuk festival olahraga."


Kau kira ini lomba tujuh belas agustusan.


"Dan sebagai perubahan kita akan menggantung uang sebagai hadiahnya."


Aku yakin itu akan menarik walau demikian.


"Itu ditolak, kita tidak bisa menyiapkan waktu untuk melakukan itu... terlebih bukannya sedikit berbahaya untuk para murid memanjatnya."


Nice Bu Nanase.


"Yah, untuk sekarang kita tulis dulu di papan."


Sekertaris melakukan apa yang dikatakan Erna yang kecewa. Selanjutnya dia menunggu anggota lain untuk memberikan ide yang baru.


"Lomba menyodok ikan emas, itu akan menarik."


Ini bukan festival budaya loh.


"Lomba maraton."


Itu hal yang sering di lakukan tapi ketua OSIS ini sudah terlalu bosan.


Voli dan sepak bola dilarang, ada beberapa orang yang tidak bisa melakukannya karena itulah itu akan berubah menjadi deskriminasi.


Erna hendak memberikan saran yang lain tapi jelas itu sebuah saran yang konyol.


"Mari lomba jalan bebek dengan tangan terikat... para gadis sangat menyukainya."


Dia berubah jadi mesum.


"Bagaimana kalau kita membuat lomba dengan aturan berbeda,... lomba memasukan bola, kita ubah menjadi lomba yang terlihat seperti di Harry Potter setiap siswa memakai sapu kemudian berusaha memasukan satu bola ke keranjang lawan."


"Hoh."


Semua orang memberikan tatapan terkejut dan kagum.


Penulis Fantasy memang beda.


"Tolong lanjutkan."


"Kedua lomba tarik tambang, kita bisa memanggil orang tua siswa juga berpartisipasi dalam hal ini.. itu juga menambahkan kerja sama."


"Bagaimana menurut Anda Bu Nanase?" balik tanya Erna padanya.


"Bagus juga, jika festival olahraga melibatkan pihak keluarga, mari ajak juga mereka, adik atau paman juga boleh datang jika mereka ingin."


Kalau begitu aku rasa Tiara pasti akan menyukainya.


"Yang ketiga, lomba estafet mari jadikan sebagai lomba lari tiga kaki, dengan begitu orang yang tidak pandai olahraga bisa ikut berpartisipasi tanpa khawatir."


Erna berteriak selagi menggebrak meja.


"Mantap jaya."


"Dan keempat mari masukan olah raga merebut ikat kepala, tiga orang yang akan menjadi pijakan satu orang, hanya satu orang itu yang bisa merebut ikat kepala lawan... di Jepang olahraga ini terkenal."


"Aku mengerti."


Sepertinya aku tidak perlu memberikan saran meski demikian semua orang menatapku penuh harap.


"Kenapa kalian melihatku seperti itu?"


"Sejak tadi kau tidak memberikan saran, pastikan katakan sesuatu."


Mereka terlalu berharap lebih, mari buat mereka menjadi kecewa.


"Agar festival ini jadi acara yang berbeda dan hanya satu-satunya di sekolah ini, maka mari biarkan seluruh siswa yang mengikutinya bercosplay walau hanya satu kali bukannya itu akan menjadi sejarah."


Semua orang diam mematung.


Dengan ini kedepannya tidak akan ada yang meminta saranku lagi.


Ketika festival dimulai aku mengajak Tiara untuk datang.


"Kakak apa memalukan jika aku datang dengan mengenakan gaun gothic?"


"Tidak apa, kamu terlihat lucu."


"Aku mencintaimu kakak."


"Jangan mengatakan hal memalukan di tempat umum, dan memang kamu tidak sadar berapa umurmu sekarang."


Ketika kami masuk ke dalam sekolah wajahku memucat, semua orang kini terlihat memakai sesuatu yang berbeda.


Mereka semua bercosplay.


"Ini luar biasa kakak."


Mereka malah mendengarkan saranku! teriakku dalam hati.