
Hal yang pertama yang menyambut kami adalah sebuah area luas yang memukau.
"Kalian bebas memilih ingin bekerja di ruangan mana saja," ketika aku mengatakan itu, sungguh mengejutkan bahwa mereka lebih memilih mengeluarkan ponsel mereka.
Aku yang bingung bertanya.
"Apa yang kalian lakukan?"
Adikku yang menjawab sementara yang lain telah pergi untuk menjelajah. Bu Nanase dan Aura yang paling bersemangat hingga saling menyenggol satu sama lain.
"Tempat ini belum dijamah siapapun, di sini kemungkinan ada pikachu... kami tidak boleh melewatkan ini kakak."
Aku menghembuskan nafas panjang dan tersenyum kecil. Aku tidak tahu kejutan ini berhasil atau tidak.
Selagi semua bersenang-senang aku rasa itu tidak masalah.
Mobil pindahan telah datang dan kami mulai beres-beres. Sebelumnya kami tidak memiliki ruang rekaman tapi di sini akhirnya kami memilikinya juga.
"Ini luar biasa, selama tidak ada pekerjaan aku akan mencoba menjalankan studio rekaman ini."
"Aku mengandalkanmu kalau begitu."
"Aku memang pria yang bisa diandalkan," kataku pada Albert.
Menambah staf juta penting tapi kurasa hal itu hanya bisa kami lakukan setelah lulus SMA. Masih ada satu tahun lebih untuk melakukannya.
Aku berjalan naik ke atas atap saat semua orang disibukan dengan berbenah, di atas sini aku menjadikannya tempat untuk beristirahat, ada sebuah meja dan kursi yang bisa digunakan siapapun serta taman yang dipenuhi dengan bunga.
Aku mengambil foto dari dompetku yang merupakan foto ayahku.
"Ini memang terasa cepat tapi aku berhasil membuat perusahaan gameku sendiri, ayah."
Bersamaan embusan angin yang lembut aku merasakan seseorang menepuk bahuku, tentu saja itu hanya perasaanku saja karena sebenarnya tidak ada siapapun di sana.
"Sekarang akan jadi seperti apa ke depannya."
Tak lama kemudian pintu atap terbuka.
"Tora bukan waktunya bersantai, kita akan merayakan perpindahan kita.. cepat turun."
"Bagaimana soal merapikan ruangan kerja kalian?"
"Itu bisa dilakukan nanti, yang pertama perayaan."
Aku tersenyum masam atas jawaban Albert sebelum mengikutinya turun ke bawah.
"Untuk perusahaan yang indah ini, bersulang."
"Bersulang."
Ini pertama kalinya aku mengatakan hal demikian.
Yap, itu bukan ayah Bu Nanase melainkan Michan yang tampak kagum saat aku menunjukkan tour di perusahaan kami. Dia sebelumnya merupakan saingan kami di even game.
"Heh, ini lumayan besar untuk sedikit orang di dalamnya."
"Kamu akan terkejut jika melihatnya lebih jauh."
Aku mengambil kartu tamu dari meja resepsionis yang tidak ada siapapun di dalamnya lalu memberikan pada Michan.
Perusahaan ini belum resmi berjalan karenanya kami hanya melakukan hal-hal iseng saja.
Dari yang kudengar, Aden dan semua orang sedang membuat game tanpa mendapat arahan dariku.
"Apa di sini tidak ada lift, bagaimana aku bisa naik."
"Kita bisa menggunakan tangga," jawabku santai.
Lift yang dioperasikan di sini hanya untuk barang karenanya akan lebih sehat jika seperti ini.
Michan mengembungkan pipinya tapi aku memilih mengabaikannya.
Ketika dia menginjak tangga sebuah lampu bersinar bersama suara musik BGM tertentu, tentu saja ini musik yang ada untuk game.
"Apa ini?"
Aku menutup mata selagi menggaruk kepalaku.
"Aden jadi terlalu gila dengan game, jadi dia membuat hal seperti ini."
"Tidak, tidak, anak SMA bisa membuat hal seperti ini, dia terlalu jenius.. ketika siapapun yang naik ke tangga sensor akan bereaksi lalu memutar musik secara otomatis, itu membuat siapapun yang mendengarkan menjadi bersemangat," kata Michan bersemangat.
Selagi dia tidak berusaha merebut pegawaiku aku oke-oke saja.
"Yah, kurasa seperti itu."
Agar tidak tertahan di sini kami kembali berjalan, di dalam ruangan aku memanggil semua orang untuk berkumpul.
Hanya Bu Nanase dan Aura yang tidak hadir di sini karena sibuk dengan pekerjaan sekolahnya.
"Kalau begitu silahkan perkenalkan diri Anda."
"Aku terdengar seperti tamu penting, namaku Michan aku datang kemari untuk mengajak kalian bekerja sama untuk projek perusahaan kami, jika tidak keberatan maukah kalian melakukannya."
Semua orang terdiam dan Alexia mengangkat tangannya.
"Kami harus minum kopi dulu untuk memutuskannya."
"Heh?"
Jelas sekali Michan hanya sedang dijahili.