
Dalam perjalanan pulang aku menelepon Bu Nanase.
"Ah Tora, sepertinya ibu demam parah, tubuh ibu tidak bisa bangun."
"Sudah minum obat."
"Obatnya habis."
Tanpa perlu bertanya lagi aku sudah tahu bagaimana keadaannya.
"Alexia aku akan pergi ke rumah Bu Nanase sekarang, sepertinya dia dalam kesulitan."
"Apa aku harus ikut juga?"
"Aku tidak enak dengan Tiara jika dia ditinggalkan sendirian, tolong pulang saja aku tidak akan lama."
"Dimengerti."
Aku menuju ke apartemen miliknya, aku meminta Bu Nanase mengirimkan kode pintunya dan dengan mudah aku bisa masuk ke dalam.
Bu Nanase terlihat terbaring di sofa dengan pakaian mengajarnya, jangan bilang dia sudah seperti ini sejak siang tadi.
"Tora, maaf merepotkanmu.. kamu malah harus datang kemari."
"Aku tidak keberatan, aku membawa belanjaan dan juga obat untuk ibu, apa ibu sudah makan sesuatu?"
"Belum sama sekali, badan ibu panas dan penuh keringat juga.. apa sebaiknya aku melepaskan semua pakaianku?"
Bahkan di saat seperti ini dia masih bisa bercanda. Bu Nanase mengenakan rok ketat jadi itu sangatlah mengganggu, karena itulah hal yang lebih dulu aku lakukan adalah mengambil selimut dan bantal untuk dia gunakan.
Tempat tidur ada di lantai dua karena itulah akan repot untuk menggendongnya ke sana.
Aku berusaha melepaskan blazernya.
"Pelan-pelan."
"Tolong jangan mengatakan hal-hal aneh dengan nafas terengah-engah, aku mohon."
"Kamu tidak berpengalaman melepaskan pakaian seorang gadis."
Menghadapi guru seperti ini harus benar-benar memiliki mental kuat, dapur dan ruang tamu berada di satu tempat karena itulah selagi memasak aku bisa mengawasinya.
"Akan aku buatkan bubur."
"Um."
Aku melakukan seperti apa yang aku katakan, walau bubur ini hanya bubur instan rasanya tidak kalah dengan bubur pada umumnya.
Setelah selesai aku membantu Bu Nanase untuk duduk, aku juga mengambil handuk yang mengompresnya sebelumnya.
"Tanganku tidak bisa digerakkan tolong suapi."
"Hanya untuk memastikan saja ada sebuah hukum tak tertulis yang melarang menggoda muridnya jadi tolong berhati-hatilah."
"Ahaha aku baru mendengarnya."
"Buku mulutmu."
"Aaah."
"Enak, kamu pandai membuatnya."
"Ini hanya bubur instan."
"Meski begitu terasa enak."
Aku tidak lupa menyodorkan gelas minumannya juga, ia meminumnya dan aku harus mengatakan bahwa ia melakukannya dengan erotis.
"Apa ibu harus minum obat juga?"
"Sudah jelas kan."
"Obat ini pahit tolong obat yang lebih manis."
"Memangnya kau ini bocah."
"Owh, kamu mulai bertingkah bukan seorang murid."
"Itu karena salah Anda sendiri.. mulai sekarang aku akan memanggil nama saja jika tidak bersama yang lainnya."
"Itulah yang aku inginkan sejak lama Tora."
Sepertinya aku malah terbawa suasana.
Aku memeriksa demamnya kembali dan itu sedikit lebih turun dari sebelumnya. Aku yakin bahwa ia akan baik-baik saja keesokan paginya.
"Untuk sekarang ibu beristirahat saja, aku akan beres-beres dan lalu pulang."
"Kamu tidak menginap."
"Aku akan membuat adikku khawatir dan jelas sekali aku tidak bisa tidur dengan seorang gadis dewasa yang dilanda birahi."
Bu Nanase tertawa.
"Benar juga."
Dia sama sekali tidak menyangkalnya.
"Kalau begitu aku pamit, selamat malam Nanase."
"Terima kasih Tora, lain kali tolong demamlah dan aku yang bergantian merawatmu."
"Aku yakin demam tidak akan menular."
Saat itu aku tidak tahu dengan apa yang telah aku katakan, beberapa hari berikutnya aku telah dirawat Bu Nanase di kamarku.
"Buka mulutmu aaaaaa."
Tiara muncul lalu berusaha untuk menyeretnya.
"Tolong keluar dari kamar kakak, biar aku adiknya yang merawatnya."
"Tidak, aku saja, aku sering menyusahkan Tora, aku ingin membalasnya," potong Alexia.
"Kalian bertiga."
Aku benar-benar kelelahan dengan mereka.