Membuat Game Di SMA

Membuat Game Di SMA
Chapter 34 : Murid Jenius Sesungguhnya


Selama perubahan ini aku dan yang lainnya telah berunding banyak hal, aku memperkenalkan teman-temanku pada Sari walau sedikit enggan Sari pada akhirnya menerima usulan kami.


Ada larangan di perpustakaan bahwa tidak boleh terlalu berisik asalkan bisa menjaga hal itu menempatkan sebuah game di dalamnya bukanlah sesuatu yang salah.


Kami meletakan beberapa meja untuk di isi permainan catur, ular tangga dan hal-hal semacam lainnya.


Walau mereka tidak datang untuk membaca paling tidak perpustakaan tidak sepi bukan?


"Skakmat."


"Aku kalah."


"Silahkan selanjutnya."


Kami juga membuat sebuah papan besar di dalam perpustakaan ini yang membuat siapapun yang berkunjung kemari bisa menuliskan hal-hal mereka suka dan menempelkannya di sana.


Hampir mirip dengan konsep gembok cinta yang ada di korea selatan.


Aku bisa melihat apa-apa yang dituliskan di sana, seperti aku cinta guruku, aku ingin jadi pelawak dan hal lainnya.


Erna mengangkat alisnya.


"Bukannya apa yang kau lakukan hanya menghilangkan fungsi dari perpustakaan itu sendiri?"


"Tentu saja tidak, perpustakaan bertujuan untuk memberikan wawasan lebih pada orang-orang yang datang, dalam kasus ini adalah para murid.. coba perhatikan lebih baik lagi."


"Aku kalah terus, sebaiknya aku meminjam buku strategi catur ini."


"Itu?"


"Tepat sekali, perpustakaan ini tidak hanya menawarkan buku-buku pelajaran melainkan novel dan hal lainnya juga."


Para OSIS melirik ke arah kerumunan para gadis yang sedang memilih buku-buku yang mereka pinjam.


"Luar biasa, bukannya novel-novel ini keluaran baru, bahkan versi e-booknya sangat mahal. Aku harus meminjamnya."


"Aku juga."


"Bagaimana kamu bisa membuat para dewan sekolah menyetujuinya? Dan juga buku-buku ini tidaklah murah?"


"Aku mendapatkan harga murah untuk semua itu."


Soal dana, aku mengunjungi ruang guru untuk mendiskusikan hal-hal perubahan soal perpustakaan.


Seolah hal itu baru terjadi kemarin.


"Saya tidak menyangka bahwa semua dewan sekolah akan datang untuk mendengarkan hal-hal membosankan dari bocah sepertiku, saya merasa terhormat."


"Kami yakin bahwa itu bukan sesuatu yang kami bisa abaikan," kata salah satu guru lalu melanjutkan.


"Kami pernah dengar SMP yang kamu masuki awalnya hanyalah sekolah terakreditasi D tapi tiba-tiba langsung berubah A bahkan banyak mendapatkan suntikan dana hingga menjadi sekolah elit, bukannya itu sangat luar biasa, kami menanyakan kenapa hal itu terjadi dan semua orang bilang hal itu dilakukan hanya oleh satu orang murid jenius."


Aku mendesah pelan.


"Semua orang kelihatannya melebih-lebihkanku."


"Kami akan senang jika kamu mau membantu sekolah ini juga."


"Tentu aku tidak keberatan, dari awal sekolah ini sangat luar biasa karena murid-muridnya luar biasa... dalam waktu dekat kami akan menciptakan sebuah game yang akan banyak menarik banyak orang, sekolah ini akan langsung terkenal dan di tahun berikutnya akan banyak orang yang mendaftar ke tempat ini dan dari sana kalian bisa menyaring orang-orang yang berbakat."


"Berapa persentase yang bisa kamu hitung?"


"Lima puluh persen orang jenius akan datang ke sekolah ini."


"Hanya 50 persen?"


Aku melanjutkan.


"Maksudku 50 persen dari seluruh Indonesia akan memilih sekolah ini."


Semua orang terdiam.


Itu seharusnya bisa menjadikan bahwa sekolah ini menjadi prioritas orang-orang yang nantinya akan mendukung pembangunan negara.


Tidak aneh bila akan menjadikannya juga sebagai sekolah internasional terbaik di masa depan.


Jika kurikulum pelajarannya di tingkatan maka orang-orang yang bersekolah juga haruslah orang-orang dengan IQ atas, jika di dalamnya sedikit orang maka finansial sekolah tidak akan terjamin namun jika 50 persen dari seluruh Indonesia memilih sekolah ini hal seperti itu tidaklah mengganggu.


"Apa yang harus kami lakukan?"


"Aku ingin merubah perpustakaan milik sekolah ini, boleh aku minta sedikit dananya," apa yang aku katakan pada mereka.